Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Etal Douw

Anak Dari Lereng Pogogul

Poongan; Dari Masa ke Masa

REP | 31 August 2013 | 16:21 Dibaca: 296   Komentar: 0   0

Oleh: Etal Douw

Poongan, demikilan sebutan desa yang konon berdiri pada tahun 1964 ini. Desa Poongan terletak di Kecamatan Bokat, sekitar 20 km arah dari ibu Kota Kabupaten Buol. Sebelumnya Desa Poongan adalah bagian dari Desa Lonu. Tetapi karena jumlah populasi dari keluarga Kai (kakek) Jamrud atau biasanya dipanggil Kai Sande terus bertambah, maka pemerintah menilai dusun itu layak untuk mekar menjadi desa  sendiri.

Poongan sendiri memiliki arti sebagai tempat persinggahan untuk tidur, dalam bahasa Buol sering disebut popoyongan (tempat tidur). Jika warga Desa Lonu yang berladang di pegunungan ingin menjual hasil pertanian, maka Poongan adalah tempat singgah yang wajib ditinggali untuk menginap sebelum melanjutkan perjalanan ke pasar. Selain istilah Poongan, juga terdapat istilah lain yang sering digunakan oleh petani saat itu, yaitu Dokitan. Dokitan dalam bahasa Buol biasa juga disebut Pogopitan atau tempat persinggahan. Istilah Dokitan ini juga memiliki makna yang serupa dengan Poongan. Makna yang dapat dipetik dari dua istilah ini, bahwa penggunaannya sebagai nama desa memiliki nilai kultural, berakar dari sejarah yang berfungsi sebagai tempat persinggahan para petani yang berkebun agak jauh dari pemukiman Desa Lonu.

Mari kita beranjak sejenak dari pembahasan asal-usul penamaan Desa Poongan, menuju sejarah kelahirannya. Poongan berdiri Sejak tahun 1964, tetapi desa yang malang ini baru merasakan penerangan listrik dari PLN pada tahun 2011. Meskipun jumlah penduduknya lumayan banyak, mencapai 1418 Jiwa dan jumlah pemilih tetapnya melebihi 700 orang. Angka yang lumayan banyak dalam hitung-hitungan para calon legislatif yang mau berebut kursi menuju parlemen Pogogul. Sekali lagi, jumlah penduduknya yang lumayan banyak ini lambat merasakan terang PLN di dalam rumah-rumah mereka. Penulis berharap, semoga masuknya listrik desa itu tidak lagi disebut Desa tertinggal yang terisolasi.

Kondisi ekosistem hutan Poongan masih cukup terjaga. Tutupan hutannya menghampar sepanjang mata memandang dari arah pegunungan Poongan hingga perbatasan Gorontalo. Jika kelak ada kesempatan, disini para pembaca akan mendengar beberapa cerita menarik tentang perjuangan mereka jika musim kemarau datang, pun juga di kala hujan.

Persawahan  masyarakat tidak memiliki irigasi alias tadah hujan, sehingga jika musim kemarau tiba maka pertanian sawah tidak akan bisa ditanami dengan baik. Dari praktek inilah, orang-orang yang hidup di Desa Poongan, memiliki pengetahuan musim, baik hujan maupun musim kemarau. Tapi kini, perhitungan musim mulai tak menentu dan kadang-kadang meleset, panen pun lebih sering mengalami kegagalan. Mungkin situasi seperti inilah rakyat membutuhkan uluran tangan dari kaum terdidik seperti wakil Bupati saat ini yang memiliki gelar doktor di bidang pertanian. Mengambil peran memikirkan dan mencari jalan keluar agar petani tidak lagi bertaruh dengan musim. Bukan hanya sibuk mengambil gambar  pribadi bersanding dengan petani di sawah, untuk kebutuhan picture close up kalender tahunan untuk diterbitkan.

Sebenarnya, banyak yang membuat gelisah. Luas Desa Poongan mencapai 672 Kilometer persegi yang di oleh sekitar kurang lebih 300 Kepala Keluarga (KK). Ironisnya ada beberapa pemuda desa yang katanya belum memiliki tanah. Tetapi pemerintah mengambil kebijakan lain, ada rencana sebagian besar tanah Desa Poongan akan di plasmakan ke perkebunan sawit. Penulis langsung bergumam dengan nada cemberut ketika dengar “perkebunan sawit”. Sepengetahuan penulis, nenek moyang orang Pogogul tidak mengenal makanan pokok dari sawit. Orang Buol pada umumnya, tidak hanya di Pogogul, mereka di besarkan dari makanan pokok, Sagu, Padi, Singkong dan Jagung. Penulis jadi berspekulasi, “jangan-jangan saja yang suka datangkan investor tanaman sawit ini adalah peranakan gubernur  zaman kolonialisme Belanda, Rafles,” gumamku.

49 Tahun, adalah umur yang tidak lagi muda untuk ukuran manusia, dan Poongan telah menjadi desa se usia itu. Tetapi, sepanjang pantauan penulis, jalanan Desa Poongan di saat musim hujan sungguh memperihatikan.  Saat hendak menyelami keadaan itu penulis teringat istilah anak-anak ABG “ becek tak ada ojek, capek deh…”.

Sebelum larut dalam kegalauan, mari kita lanjutkan cerita jalan Desa Poongan. Sejak tahun 1992, desa ini mendapatkan proyek pemadatan jalan sepanjang Poongan dari arah Desa Tayadun. Proyek berjalan ketika Bupati Buol masih dipegang oleh Amran Batalipu yang kini mendekam di LP Cipinang bersama Hartati Murdaya, keduanya terlibat kasus suap perluasan sawit PT Citra Cakra Murdaya (CCM), milik Hartati. Konon, proyek pemadatan jalan Poongan itu dikerjakan oleh saudara kandung Amran yang juga anggota DPRD Kabupaten Buol.

Musim panen Koruptor KPK di Buol pun selesai seiring dengan finalnya hasil Pilkada. Tampuk kekuasaan tertinggi kini berganti tangan kepada Amirudin Rauf dan Syamsudin Koloi. Tapi wajah proyek perbaikan jalan Poongan hanya berganti kulit. Jika dulu Amran memberikan pekerjaan ini pada adiknya, Amirudin Rauf sebagai bupati, berbuat yang sama. Mungkin ia mencontoh Amran, proyek pemadatan jalan Poongan juga dikerjakan oleh saudara kandung Amiruddin Rauf. Warga sudah sering melihat adik bupati itu di lokas proyek jalan sejak bulan ramadhan. Konon kabarnya, angka proyek ini cukup fantastic, sebesar 1,5 milyar rupiah dengan rincian sebagai berikut: Jalan 3 Km , 1 buah jembatan dan 150 meter  drainase.

Di tempat lain depan rumah jabatan Bupati, terpampang spanduk perayaan Idul Fitri. Bupati menulis pesan moral “ Mari kita Perbaiki Kembali, Hablun Minallah wahablun Minannas” .

Spanduk ini selain berfungsi pencitraan bawah bupati juga peduli pada hari raya, dan tentu saja sebagai umat muslim yang taat. Mungkin ucapan ini juga dimaksudkan sebagai (spekulasi penulis) pesan untuk kedudukan proyek jalan itu. Mari Kita coba maknai potongan kalimat pertama,” Mari Kita Perbaiki”. Mungkin sebenarnya bupati ingin berkata begini ; “dalam memperbaiki infrastruktur publik, ketika kekuasaan di tangan pemerintah sebelumnya, maka perbaikan infrastruktur publik berada pada keluarga penguasa sebelumnya juga. Dan sekarang, saatnya kita perbaiki infrastruktur itu dengan konsep dan kualitas pekerjaan yang sama, yaitu tetap melakukan pemadatan kasar.

Nah, sekarang saatnya rakyat bertanya, “ jika proyeknya hanya mengerjakan pemadatan, Kapan jalan ini tidak lagi menimbulkan debu jika musim kemarau tiba?”. “ Atau, kapan jalanan ini tidak becek dan berlubang-lubang jika musim penghujan datang, bro?”.

Lereng Pogogul, 26 Agustus 2013.

*Penulis adalah kandidat doktor pada universitas balai belajar lauje di Kinapasan. selain itu, penulis juga pernah duduk bertapa di gunung pogogul mencari wangsit. dan menemukan arahan, agar istana pogogul yang indah itu, tidak dijadikan sebagai tempat tinggal sanak family saja, melainkan seluruh rakyat Pogogul*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 9 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 9 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 9 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 9 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: