Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

A Baybar Roodee

Saya seorang anggota masyarakat biasa di Pontianak Borneo Barat

Ramadhan, Kesederhanaan dan Hidup Hemat

OPINI | 09 July 2013 | 15:11 Dibaca: 345   Komentar: 3   1

Suasana ramadhan terasa kembali, riuh rendah kesibukan untuk menyambut sekaligus persiapan menjalankan ibadah “ritual” sebulan dalam setahun ini telah tampak meriah. Sejak sebulan sebelumnya, stasiun-stasiun televisi pun telah berlomba menghadirkan nuansa ramadhan, baik melalui program acara (mulai dari yang memang agak bermutu sampai yang terkesan “sampah”), tentunya beserta iklan-iklan yang mendadak melakukan “ramadhanisasi” untuk merayu para insan yang masih mudah jatuh dalam rayuan “konsumerisme” dari jebakan kapitalistik media dan iklan, atau mungkin memang terlanjur hidup dalam gaya hidup konsumtif kelas tinggi. Meskipun ramadhan masa ini bertepatan dengan BBM naik tinggi dan harga barang “nyaris” tak terbeli.

Sudah banyak penjelasan yang menguraikan, bahwa ash-shaum yang secara etimologi atau lughawiyah bermakna menahan itu hakikatnya bukanlah semata menahan lapar dan dahaga serta menahan keinginan biologis. Karena secara umumnya, hikmah ibadah shaum juga untuk membina hati dan pengendalian diri, menahan dan atau meredam segala bentuk nafsu dari banyak “daftar keinginan.” Lebih luasnya, daftar keinginan itu ialah termasuk yang bersifat konsumtif, inilah yang juga mestinya diredam melalui pembelajaran shaum. Karenanya ibadah shaum sebagai ibadah yang mempunyai hikmah untuk membina kesalehan personal, selalu dianjurkan pula mesti di-ikuti dengan memaksimalkan simpati dan kepedulian untuk saling berbagi melalui ibadah yang berdimensi sosial seperti shadaqah, berinfak, berzakat dan sebagainya.

Dalam kriteria ibadah shaum untuk mencapai derajat taqwa sebagai cita-cita mulia ahli shaum, mafhumnya dijelaskan ada tiga tingkatan; Pertama, shaum tingkatan kaum awam yang sekadar menahan haus dahaga dan nafsu biologis. Kedua, shaum level orang-orang khusus (khawwas) yang mengiringi shaumnya bukan saja dengan menahan lapar, dahaga dan keinginan biologis, tapi juga menjaga pandangan, menjaga pendengaran dan senantiasa menata hati dari hal-hal yang membatalkan shaum, termasuk dengan menjalankan ibadah-ibadah lainnya baik fardhu dan sunnah, yang personal maupun sosial. Ketiga, shaum insan-insan khusus dari yang khusus (khawwasul khawwas), yakni mereka yang benar-benar memanfaatkan momentum shaum sebagai media menjaga hati dan mengendalikan diri dari segala kecenderungan duniawi serta semata-mata mendekatkan diri hanya kepada Allah guna mencapai keridhaan dan derajat taqwa sebagai predikat tertinggi.

Nah, anomali yang terjadi dalam menyambut-melaksanakan ramadhan dan kerap terulang pada tiap momen ramadhan di sebagian pemeluk agama yang menjalankan shaum, yakni masalah perilaku konsumtif. Nilai-nilai suci ibadah shaum dengan segala hikmahnya menjadi kalah sanding bila berhadapan dengan perilaku “tidak hemat” tersebut. Malah pada saat ini, ketika situasi agak kalut karena inflasi terjadi, harga barang-barang dan jasa melambung tinggi, terlebih lagi karena dampak kenaikan harga BBM yang membuat semuanya semakin meroket, tapi pola hidup konsumtif ini tetap dibudayakan dan “diberdayakan” dengan apik.

Ramadhan sedianya mengajarkan kesederhanaan, mendidik simpati dan kepedulian, menumbuhkan keikhlasan dan hanya mengharapkan keridhaan. Sejatinya, ketika saat-saat seperti inilah perilaku hidup hemat dan cukup dengan apa yang ada (qana’ah) menjadi penting untuk dilakukan dan di-internalisasikan dalam diri. Karena yang lebih penting dalam menjalankan ibadah shaum ini, paling tidak kita mampu mencapai derajat yang kedua, meski belum sampai pada level shaumnya para insan khusus dari yang khusus (khawwasul khawwas). Namun sedaya upayalaah kita mencoba menggapai level shaum yang bermakna ibadah, baik dalam amalan-amalan personal maupun yang bermanfaat secara sosial.

Menyambut ramadhan dan memeriahkannya, termasuk menjalankan dengan ceria adalah sangat baik. Tentu akan bertambah baik jika dilakukan dengan hemat, sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Karena tetap saja yang berlebih-lebihan bahkan sampai pada tingkatan mubazir adalah “perilaku tak layak.”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 4 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 6 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Cinta Sejati …

Adhikara Poesoro | 8 jam lalu

Mengenal Air Asam Tambang …

Denny | 8 jam lalu

Afta dan Uji Kompetensi Apoteker …

Fauziah Amin | 8 jam lalu

Demo BBM vs Berpikir Kreatif …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa (Paradigma Baru …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: