Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Faisal Akhmad

faisal akhmad, lahir di Jember jawa- timur. pekerjaan atau aktivitas dalam keseharian, hanya menjadi kuli selengkapnya

Sistem Orde Baru, Dengan Bungkus Sistem Reformasi

REP | 21 March 2013 | 12:13 Dibaca: 352   Komentar: 0   0

3ac73129b70d6f32531916b8e6f1b514

Sumber Foto : tulisan-nyavie.blogspot.com

Indonesia secara ekspilisit sudah merdeka sejak 68 tahun lalu, Bangsa ini dimulai semenjak zaman soekarno yang disebut dengan sistem orde lama, Bung karno, sebutan populer the founding father merupakan tokoh yang populis sekaligus memiliki jasa yang luar biasa, sebagai pemprakarsa kemerdekaan bangsa Indonesia. Soekarno _Hatta, Adalah dua tokoh, sebagai presiden dan wakil presiden pertama kali di Indonesia dengan meletakkan sistem demokrasi.

Statemen Soekarno waktu itu yang populer sampai saat ini ” Jus Merah” (Jangan Lupakan Sejarah), simbolisasi atau jargon dari jas merah, bahwa proses adanya negara yang bernama Indonesia itu, tentu memiliki makna sejarah yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Apa sebetulnya sistem itu!!? kalo kita ingin mengkaji mengenai sistem, tentu ada 3 hal yang tidak bisa kita pungkiri, pertama, yang disebut dengan sistem itu adalah sebuah aturan, atau konstitusi yang diterapkan di negeri ini, Undang-Undang 1945, merupakan tonggak bagi berjalannya sistem yang bagus. kedua pelaksana undang-undang menjadi tuntutan bagi negeri ini yang memiliki integritas, kredibilitas, dan memiliki pola pikir tertsruktur, sistematis, dan solutif dengan proses perkembangan dan perubahan zaman yang menjadi tuntutan bagi situasi dan kondisi rakyat Indonesia. ketiga Budi, daya, dan karsa Anak negeri menjadi salah satu tuntutan bagi proses pencarian jati diri, sebagai bangsa yang majemuk atau plural, dan memiliki ratusan, sampai ribuan suku yang tersebar diseluruh pelosok negeri ini.

Pada tahun 1998, menjadi saksi seluruh rakyat indonesia, ketika Presiden kedua bapak Soeharto menyataken berhenti dari kursi kepresidenan. pada saat itulah gerbang Reformasi baru dibuka, dengan naiknya wakil prsiden, bapak BJ. Habibi, sebagai penggantinya. apakah dengan digantinya Soeharto, sistem itu sudah menjadi baik, tentu tidak demikian, Proses pergantian itu justru masih di klaim sebagai salah satu unsur dari orde baru dengan sistem Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme.

Pada masa Bj. Habibi, pelaku sistem orde baru, justru semakin meningkat dibeberapa elemen, sehingga menjadikan bangsa ini, sesak dan semakin sulit bernafas, hutang negara tercecer dimana-mana, kegaduhan sosial semakin merajalela, perang antar -suku dan keyakinan semakin marak, bahkan pada proses transisi tersebut kasus santet, dan ninja terselubung mengakar di masyarakat.

Banyak orang mengatakan bahwa naiknya K. H. Abdurahman Wahid pada tahun 1999, menjadi tonggak sejarah dalam proses memasuki era baru yang disebut dengan era reformasi. disinilah letak kegaduhan antar pejabat publik yang saling intrik untuk menjatuhkan baik lawan maupun kawan. Gus Dur, sebutan populer bagi K. H. Abdurrahman Wahid, telah pembawa prubahan yang signifikan dengan proses memberikan hak penuh terhadap rakyat untuk memiliki hak-haknya yang terampas semenjak orde baru, walaupun tidak bisa kita pungkiri bahwa priode kepemimpinana Gus Dur hanya berlangsung selama rentang waktu 2 tahun setengah. yang kemudian dilanjutkan oleh Megawati Soekarno Putri.

Menjelang pemilu pada tahun 2009, dengan naiknya Susilo Bambang Yudhoyono, yang bergandeng dengan M. Jusuf Kalla, Banyak perubahan yang terjadi, meski gonjang-ganjing politik dan perekonomian yang terus meningkat, tetapi masih banyak langkah-langkah solutif yang dilakukan oleh keduanya, misalnya dengan program BLT (bantuan langsung Tunai), meskipun banyak pengamat yang mengatkan bahwa adanya BLT, yang proses pelaksanaanya gaduh dimana-mana dan menjadi rerbutan menjadi salah satu indikator, bahwa rakyat Indonesia ini masih miskin dan lemah secara ekonomi, artinya problem tersebut terbentuk menjadi budaya yang mengakar mulai dari tingkat pejabat publik dipusat sampai pada tingkat  Rukun Tetangga (RT), budaya korupsi menjadi turun-temurun, bahkan ironisnya hal tersebut berupaya untuk ditranformasikan pada generasi selanjutnya.

Partai penguasa saat ini, menjadi saksi sekaligus contoh yang sangat nampak bagi masyarakat Indonesia, bahwa sejatinya dengan tertangkapnya Nazarudin dengan kawah Hambalang, yang titahnya Nazarudin kemudian menjatuhkan Anggelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Dan mantan ketua partai demokrat Anas Urbaningrum, dan yang masih hangat Putra Presiden Ibas, juga terkena titah para penikmat jajanan Hambalang yang cukup panas.

Budaya ini pada hakekatnya tidak jauh berbeda dengan sistem Orde baru yang dibungkus dengan sistem demokrasi yang tidak jadi, sistem reformasi yang masih coba-coba,. hampir semua pejabat publik di negeri ini hanya menunjukkan image dengan hati kepura-puraan, dengan hati yang penuh kebencian, dengan hati yang penuh dengan kebusukan.. inilah wajah sistem politik negeri hijau ini, yang semakin luntur dengan budaya membangun pola panas pada setiap sudut ruangan dan kesempatan. Semoga kita semua para pembaca yang budiman, masih diberi waktu untuk memperbaiki diri, orang-orang sekitar, dan masyarakat luas secara umum.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



Subscribe and Follow Kompasiana: