Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Theeadomo

Namaku tetap sama, jiwaku tetap sama, visi dan misiku tetap sama dan aku adalah orang selengkapnya

Mudahnya Mendapatkan Emas 24 Karat Seberat 100 Gram, Anda Berminat?

OPINI | 15 March 2013 | 18:48 Dibaca: 1679   Komentar: 0   0

Emas, siapakah sih yang tidak suka dengan satu kata benda itu? Ya, emas adalah perlambang strata kehidupan seseorang, semakin banyak emas yang seseorang miliki semakin terlihat dan terukur nilai strata kehidupannya secara materi. Lalu bagaimanakah seseorang untuk memiliki emas dengan jumlah yang begitu banyak? Tentunya jawabannya adalah, “sangat sulit memiliki emas dengan jumlah yang sangat banyak”. Apakah jawaban anda? Jawaban anda adalah hak anda untuk menjawabnya karena anda yang bisa mengukur kemampuan anda sendiri secara pribadi, apakah aku bisa dan mampu memiliki emas dengan jumlah banyak dan mudah serta murah.

Tidak pernah terbayang oleh fikiranku bahwa aku bisa memiliki emas sampai seberat 100 gram, jumlah yang fantastis untuk ukuranku sebagai seorang guru honorer dengan gaji diluar dari batas kewajaran standar kehidupan pada umumnya. Tetapi mengapa aku mampu memilikinya? Mari kita simak cerita atau kisahku ini. Awal mula aku memiliki emas dengan cuma-cuma dan segala kemudahan yang Tuhan beri padaku adalah dua buah cincin emas 24 karat masing-masing seberat 5 gram, sebagai pengikat cinta kami berdua (hadiah dari seorang calon suami untuk aku sebagai calon istri) pada tanggal 6 Juni 1994. Dan dua buah cincin itu mengikat aku untuk selanjutnya kami menikah pada tanggal 4 September 1994, serta kembali lagi aku dhadiahkan sebuah gelang emas 24 karat seberat 10 gram dan kalung emas 24 karat seberat 15 gram. Tentunya buatku adalah hadiah yang sangat fantastis. Tanpa kerja keras aku sudah memiliki emas sebanyak 35 gram emas 24 karat.

Emasku tak semakin berkurang tetapi malah semakin bertambah dengan kelahiran putri pertama kami pada tanggal 1 Juli 1995 dan kami beri nama Adinda Fauziah Juliana, kembali hadiah bertabur emas dapat kami nikmati dengan tanpa kerja keras dan dengan kemudahan. Hadiah itu kami dapat dari saudara-saudaraku tercinta 15 gram emas 24 karat sebagai hadiah buah cinta kami. Rasa syukur pada Tuhan yang tiada terkira atas semua hadiah yang telah dipersembahkan untuk putri cantik kami.

Tahun mulai berganti dan kehidupan kami masih menjadi seorang guru honorer yang mengajar dibeberapa tempat, sampai akhirnya saya hijrah untuk menetap di Jakarta pada tahun 1996 dan mengajar di sebuah sekolah swasta dengan gaji guru honorer “ala kadarnya”, sungguh tetap kami syukuri karena dengan gaji “ala kadarnya” kami tetap mampu bertahan hidup di Jakarta. Hadiah demi hadiah dari tahun ke tahun sering aku dapatka dari para wali murid tempat aku mengabdi.

Hadiah yang membuat aku sering terkagum adalah bila mereka mengahdiahkan cincin emas atau bahkan gelang serta kalung emas. Sedikit demi sedikit aku simpan hadiah pemberian orang tua siswa/iku, Sejak tahun 1997 sampai dengan 2001, saat aku mulai behenti dari tempat aku mengajar di Jakarta terkumpul emas 24 karat sebanyak 50 gram semua hadiah dari orang tua siswa yang kukumpulkan selama kurang lebih lima tahun masa pengabdianku mendidik dan mengajar di sekolah tersebut. Pada tahun 2001, jumlah emasku terkumpul sebanyak 100 gram emas 24 karat.

Emas itu hanya menjadi simpanan dan kadang-kadang aku pakai sebagai penghias tubuhku tapi aku termasuk orang yang paling risi bila harus ku pakai semua emas yang ku miliki. Terbayang aku seperti toko emas berjalan dan menjadi sorotan orang-orang yang memandangnya.

Menurutku ini bukan aku yang sebenarnya, dan aku kesulitan untuk menemukan arti “100 gram emas” untukku. Dan akhirnya emas itu tetap ku simpan dan terus aku mencari jawaban dari semua emas 100 gram yang ku miliki.

Saat aku mulai merambah di dunia “antah berantah”, begitu sebutanku pada saat itu untuk daerah Parungpanjang. Jalanan yang rusak berat, kendaraan yang sulit untuk mencapai daerah Parungpanjang, kereta ekonomi yang penuh sesak, tempat yang masih belum terpetakan dan tentunya masih sangat sulit untuk mengembangkan diri di daerah Parungpanjang menurutku pada saat itu.

Kesulitanku dalam mencari jati diri dan mencari kebermaknaan dalam kehidupanku, membawa aku terus untuk belajar. Belajar untuk mencari makna hidupku agar ada kebergunaan dalam lingkungan sekitarku. Pendidikan dalam bidang pendidikan luar biasa yang pernah ku dapat di bangku kuliah IKIP Jakarta (saat ini UNJ-Universitas Negeri Jakarta) semakin mengasah rasa keinginantahuanku tentang keadaan lingkungan di daerah Parungpanjang dan kebutuhannya akan pelayanan terhadap anak-anak luar biasa.

Diawali dengan melihat langsung beberapa anak berkebutuhan khusus di lingkungan Parungpanjang dan belum mendapatkan pendidikan yang layak untuk mereka karena ketidaktersediaannya sekolah yang dapat melayani anak-anak khusus tersebut. Dan mulailah pada tahun 2002 aku dan suami membuat tempat kursus dan terapi untuk anak-anak khusus, dan tuntutan akan sekolah khusus semakin meningkat tetapi pada saat itu aku masih terbentur dengan biaya pengadaan tempat dan sarana pra sarana. Aku mulai menghitung tentang jumlah kebutuhan bila harus mendidirkan SLB (sekolah Luar Biasa) dan mulai dengan meminjam ke Bank Jabar (bjb pada saat ini) dengan SK PNS yang suami miliki.

Tetapi kebutuhan untuk mendirikan sekolah itu lebih besar dari dugaanku. Aku mulai tercenung, harus berbuat apakah aku dengan dana yang kurang sangat jauh? Ah…aku berlari menuju kamar sederhanaku dan ku simpan dengan rapi 100 gram emas 24 karat milikku yang ku simpan penuh dengan kehati-hatian lalu ku ambil emas 100 gram milikku…kugenggam penuh dengan keeratan.

Hmmm…inilah waktunya, fikirku. Menjelang tidur, aku mendekatkan kedua tanganku dengan memeluk suamiku tercinta lalu aku berkata padanya…”Sayang, aku bahagia mengenalmu dan selalu berada disampingku juga terima kasih atas semua penghargaanmu pada diriku yang telah memberikan banyak hadiah emas saat pertunangan dan pernikahan kita. Dan maafkan aku yang selama ini tidak banyak menggunakan perhiasaan pemberianmu ditubuhku karena aku yakin suatu hari emas ini akan lebih bermanfaat bukan ditubuhku tapi lebih bermanfaat untuk hal yang lain. Aku mohon izin padamu, bagaimana kalau emas hadiah darimu kita jual untuk menambah sarana sekolah yang saat ini kita rintis” dengan hati penuh pengharapan dan keinginan untuk mendapatkan izin dari suamiku.

Sungguh jawaban yang indah…”Bunda sayang, emas yang ayah berikan untuk bunda adalah hak bunda. Apapun yang akan bunda lakukan terhadap emas itu adalah hak bunda dan ayah sangat yakin bunda akan selalu memanfaatkan emas itu untuk penggunaan yang bermanfaat bukan untuk diri bunda tapi untuk oang lain karena ayah sudah mengenal bunda cukup lama dan tahu apa yang menjadi keinginan bunda dan ayah selalu yakin bahwa itu yang terbaik”.

Subhanallah, jawaban yang sangat menyejukkan dari suamiku. Akhirnya aku langsung menjual semua emas yang ku miliki dan emas itu ku dapat dari semua kemudahan yang Tuhan berikan padaku tanpa kerja keras, tanpa harus membanting tulang tanpa harus memerih untuk mengumpulkannya tapi Tuhan beri begitu saja dengan semua kemudahan yang Tuhan beri untukku.

Saat ku dapat semua emas yang ku muliki itu, aku sempat bertanya pada diriku sendiri, mengapa Tuhan beri begitu banyak hadiah emas untukku? Untuk apakah semua in? Lalu harus bagaimanakah aku dengan emas ini? Tuhan menjawabnya setelah bertahun kemudian dan inilah jawaban yang Tuhan beri padaku, emas 24 karat dengan berat 100 gram itu Tuhan persiapkan untuk membuat sebuah sekolah impian untuk anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan Parungpanjang, lalu berdirilah SLB Ayahbunda yang sampai dengan saat ini berdiri tegar dengan emas-emas putih bersih nan suci berada didalamnya.

Dengan kemilau emas yang selalu terpancar diwajah-wajah suci penuh cinta dengan binar emas didalamnya.

Dengan emas-emas penuh cinta kasih terpancar dari sorot mata mereka.

Dengan kemilau emas dan harapan emas yang terus terpatri dan ada harapan-harapan semurni emas bahkan melebihi kemurnian emas yang pernah ada.

Emas 24 karat seberat 100 gram itu tetap ada dan tak pernah terjual secara hakiki dan tidak ada yang terjual karena aku telah membeli banyak emas dibandingkan dengan emas 24 karat dengan berat 100 gram.

Emasku adalah jutaan kilo yang ada pada harapan 84 anak berkebutuhan khusus di SLB Ayahbunda.

Emasku adalah jutaan kilo rasa syukur dari orang tua siswa di lingungan kecamatan Parungpanjang.

Emasku adalah mimip-mimpiku yang aku wujudkan lewat berdirinya SLB Ayahbunda.

Emasku adalah cinta kasih yang tak akan padam walau banyak cemooh menghadang bahkan hinaan dan pra sangka atas keberadaan SLB Ayahbunda.

Tak usah padam untuk mendapatkan emas, karena begitu banyak emas bertebaran di muka bumi ini. Raihlah emasmu dengan tekad bahwa, sangat mudah meraih waktu, ide, logika, kesempatan “emas” bagi kita semua.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 11 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 15 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 16 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: