Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ahmad Syukri

Pernah Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fak.Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis. Tertarik dengan hal-hal yang berhubungan selengkapnya

Berdoa, Berzikir Buat Apa?

OPINI | 16 March 2013 | 16:47 Dibaca: 283   Komentar: 0   0

Berdoa, berzikir, buat apa? Tiba-tiba pertenyaan itu berkelebat di dalam benak dan dadaku. Dalam sekejap saya tersadarkan akan kebodohan ku selama ini.

Selama ini kita selalu ditanamkan bahwa kalau ada masalah, problem, kesusahan dan bencana, apapunlah nasib buruk yang menimpa kita, kita disuruh berdoa. Ya berdoa. Namun kita lupa bahwa persoalan hanya dapat selesai jika berusaha mengatasinya, bukan hanya berdoa.

Sekarang yang diingat dalam otak kita hanya berdoa saja, tidak perlu usaha. Dikit-dikit berdoa, berdoa, dan berdoa, namun tidak ada aksi dan tindakan apa-apa. Seakan-akan kita menyakini benar bahwa doa akan menyelesaikan segalanya.

Ini bukan sembarang pemberontakan batin?

Pemberontakan yang muncul dari pengalaman hidup pribadi atas situasi yang saya hadapi.
Hari ini tanggal 15 maret 2013,tepatnya di ruang perpustakan Anand Ashram Ubud. Ditemani beberapa rekan yang lagi mengerjakan tugas masing-masing. Saya mendapatkan komen yang sangat mengagetkan saya dari seseorang yang termasuk kategori saudara saya. Saat saya mengirimkan pesan ajakan untuk membantu mengisi petisi pembebasan Anand Krishna lewat inbok facebook. Cukup tajam dan sedikit menyakitkan barangkali:
“…masih banyak pekerjaan yg.lain. Banyak berzikir, istigfar,mintak ampun sama Allah.itu yg harus kita lakukan”

Bagus, tidak salah. Bukan karena saya anti berdoa atau tidak setuju berdoa,namun pemahamannya soal berdoa sampai disitu. Bagi saya itulah usaha dan tindakan yang bisa saya lakukan, mengajak orang untuk peduli dan mengambil tindakan. Bukan berdoa dan berzikir lalu tidak bertindak dan berusaha apapun.
Barangkali bagi dia, segala urusan bisa diselesaikan dengan berdoa,tidak perlu usaha dan melakukan hal seperti itu. Berdoa sudah cukup.

Jauh di dalam diri saya, saya protes. Saya tersadarkan seketika. Inilah kesalahan orang Indonesia dan ulama kita selama ini. Berdoa, berdoa dan berdoa, namun kita lupa berusaha sekuat tenaga sampai tetes keringat yang terakhir atau barangkali kita terlalu malas. Berdoa , minta ini, minta itu,minta apa saja tapi malas bekerja . That very wrong.

Mereka lupa barangkali,maksudnya saudara saya, salah satu ayat dalam kitab suci nya(al-Qur’an) menyebutkan bahwa Tuhan pun tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika dia tidak megubahnya. Tidak akan mengubah nasib anda, saya bahkan siapapun juga jika kita tidak bertindak, tidak berusaha untuk memperbaikinya.
Tuhan sangat logis dalam hal ini. Dia tidak akan memberi begitu saja bak tukang sulap, sim salabim, kita dapat roti. Tidak. Tuhan bukan tukang sulap seperti itu. Dia mengharuskan kita berusaha, berupaya sekuat tenaga. Celakanya selama ini kita sangat doyan berdoa tapi malas bekerja. Sehingga menjamurlah acara doa bersama, berdoa untuk negeri, ruwatan istighasah atau apapun lah namanya. Rajin berdoa tapi malas bekerja dan berusaha.
Kita ingin negeri ini menjadi lebih baik, pemerintah lebih arif dan bijak, ekonomi lebih merata, koruptor diadili, bisa hidup sejahtera dan aman, namun semua hanya sebatas harapan tanpa tindakan nyata(HOPE ONLY, NO ACTION). Paling banter berdoa. Wajar saja makin banyak koruptor, makin banyak korupsi, kolusi dan berbagai ketidakadilan di negeri ini.
Semestinya kita bisa bersama-sama memberantas ketidakadilan dan kejahatan yang terjadi, namun kita malas bertindak, takut berbuat. Sehingga yang jahat semakin berani berbuat kejahatan karena orang memilih berdoa agar terhindar dari kejahatan dan takut bertindak untuk menghentikannya.
Dengan beroa kita merasa kita dekat dengan Tuhan, kita berdialog dengan Tuhan dan merasa “sudah”beragama.

Berdoa bukan berarti meniadakan usaha. Berdoa adalah bentuk kesadaran bahwa tanpa berkah dan campur tangan Tuhan, usaha kita tidak berarti apa-apa. Berdoa menunjukkan bahwa kita rendah hati dan tidak arogan, tidak sombong bahwa kita mampu melakukan apapun tanpa campur tangan Tuhan.
Itulah fungsi doa, menurut saya, bukan untuk meniadakan usaha dan tindakan.

Dulu para nabi, para suci berdoa sebagai bukti bahwa dia menyadari Keilahian Tuhan dan berkahnya, bukan untuk menggantikan usaha dan tindakan nyata.

Sekarang sudah jauh berbeda.

Saat ini, sebagian besar orang yang doyan berdoa, barangkali orang yang malas bertindak, mengambil tanggung jawab untuk mengubah diri dan nasib kaumnya. Orang yang takut memanggul resiko sebuah tindakan.

Jika sibuk berdoa, ke Masjid, Gereja, Pura, Wihara,sibuk bolak-balik ke rumah ibadah, anda akan terlihat alim dan dekat dengan Tuhan, dan minim resiko. Orang seperti itu hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak banyak bermanfaat bagi kebaikan masyarakat. Namun jika anda termasuk orang yang berani mengatakan yang benar, bertindak benar, maka siap-siaplah untuk menghadapi resiko yang tidak terbayangkan. Bisa jadi anda akan difitnah, dipermalukan, dilecehkan, dikucilkan, dihina, dibuat cacat, digebuki, dianiaya bahkan mati di tangan orang lain.

Ada banyak alasan klise. Berdoa saja, biar Tuhan yang akan membalas. Setelah itu kita sibuk berdoa agar si “penjahat” ini dihukum Tuhan, dimasukkan ke neraka. Namun si zalim tidak kunjung celaka dan idak juga mati, sehingga tidak masuk neraka dengan segera. Maka si zalim yang kita biarkan berlalu karea kita takut bersuara dan bertindak, akan mulai mencelakakan orang lain dan berbuat onar sepanjang hidupnya, hanya gara-gara kita takut dan memilih berdoa daripada bertindak tepat agar si zalim ini sadar dan berhenti berbuat jahat.

Jadi segala bentuk kehatan, ketidakadilan dan kerusakan masyrakat mulai dari level tukang parkir sampai pejabat adalah hasil dari sikap kita yang rajin berdoa tapi takut bersuara. Berdoa lebih aman dan bersuara dan bertindak benar beresiko besar.

Jangan lagi menyalahkan orang lain kenapa semua kerusakan dan kebobrokan ini terjadi. Ini kesalahan kita semua yang tidak berani bertindak dan bersuara, lebih suka cari aman. Yang akhirnya membuat anda, saya,dan cucu kita tertindas dan menderita.

Inilah kondisi sebagian besar masyarakat kita, mayoritas yang diam. Diinjak-injak oleh sekelompok kecil orang bejat yang vokal dan bersuara lantang. Tragis…!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: