Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Arief Gun

Anak perantau yang masih mencoba mencari jati dirinya

Seperti Apa Sih Sistem Kesehatan ‘Gratis’ di Inggris?

HL | 16 February 2013 | 23:48 Dibaca: 969   Komentar: 0   5

13610542461631471222

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Salah satu institusi yang sering dibanggakan oleh orang-orang Inggris adalah sistem kesehatan universal mereka yang bernama National Health Service (NHS). Seperti di judul saya, banyak orang yang mengira sistem kesehatan di Inggris itu gratis. Tentu saja ini tidak sepenuhnya benar karena NHS dibayai oleh pajak yang dibayar oleh pekerja-pekerja di sini (termasuk saya), yang sebenarnya sangat tinggi seperti 40% untuk pajak pendapatan (income tax) maksimum dan sekitar 20% untuk pajak pertambahan nilai (VAT). Tetapi, pada akhirnya, NHS itu gratis ketika diperlukan.

Saya akan memberikan beberapa contoh untuk teman-teman yang belum terbiasa dengan sistem ini. Apabila orang Inggris terkena serangan jantung, mereka akan langsung dibawa ke RS pusat dan mendapat emergency angioplasty +/- stent apabila diperlukan. Semua ongkos tinggal di RS dan pengobatannya gratis. Ketika pulang ke rumah, mereka mungkin perlu membeli obat yang dipatok harga sekitar GBP 7 per item. Contoh lainnya, orang-orang yang berumur di atas 70 tahun mungkin memiliki masalah nyeri pinggang yang disebabkan oleh osteoarthritis. Mereka bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis tulang dan mendapat operasi ‘hip replacement’ dengan gratis. Jadi, semua pengobatan primari (dari dokter umum atau General Practitioner - GP), sekondari yang berada di RS, dan tertiari untuk pengobatan khusus seperti kanker dan transplantasi, itu gratis.

Bagaimana ini mungkin berjalan mulus? Saya akan mencoba memberi beberapa poin untuk melihat lebih lanjut kebagusan dan kekurangan NHS.

1) GP sebagai pintu masuk. Sistem kesehatan primari di UK sangat kuat. Ini adalah kunci keberhasilan mereka karena pengobatan (dan preventasi) yang diberikan oleh dokter umum jauh lebih murah dari yang diberikan oleh spesialis di RS. Dokter umum menjadi filter yang menyaring gejala penyakit pasien. Apabila GP menganggap perlu, pasien pun akan dirujuk ke RS. GP ini juga yang menjadi ‘fund-holder’. Artinya mereka diberikan uang beberapa miliar pound yang bisa dipakai untuk biaya kesehatan pasiennya. Jadi, kadang2 ada GP yang kurang mau langsung merujuk pasien ke spesialis. Ada beberapa masalah keterlambatan diagnosa penyakit bahaya, seperti kanker, karena GP kurang lihai mendiagnosa masalah pada awalnya.

2) Pengobatan yang diberikan harus disetujui oleh sebuah badan lain, yang bernama NICE (National Institute for Health and Clinical Excellence). Semua pengobatan, terutama pengobatan baru dan mahal seperti kemoterapi, harus dianalisa oleh NICE. Analisa ini lebih bersifat ekonomis di mana keuntungan dan harga pengobatan itu dibandingkan dalam sebuah cost-benefit analysis. Jadi, banyak pengobatan kanker yang terbaru tidak bisa diperoleh di NHS apabila belum ada bukti. Ini juga berarti dokter2 di Inggris kebanyakan harus mengikuti paduan atau guidelines dalam menangani penyakit pasien. Pengobatan di Inggris memang sangat Evidence-Based Medicine yang berarti semua praktik dokter ini harus bisa dilandaskan atas riset-riset yang sudah diterbitkan di jurnal kedokteran.

3) Penyalahgunaan UGD dan ‘waiting list’ yang panjang. Banyak masyarakat Inggris yang tidak mau pergi ke GP mereka dan langsung pergi ke UGD di RS. Walhasil banyak masalah2 di UGD yang agak sepele. Banyak unit UGD pun kemudian menjadi kewalahan dengan pasien. Beberapa tahun yang lalu, agak lazim untuk orang2 menunggu di UGD 4-6 jam sebelum ditemui oleh dokter. Sekarang pemerintah telah menetapkan target 4 jam untuk menyelesaikan pengobatan di UGD. Masalah lain yang sering diungkapkan oleh orang asing yang datang ke Inggris adalah panjangnya ‘waiting list’ rujukan ke spesialis. Pasien di sini harus menunggu sekitar 3 bulan sebelum menemui spesialis untuk masalah kesehatan yang tidak terlalu berbahaya. Gejala kanker harus ditelusuri dalam waktu 2 minggu. ‘Waiting list’ adalah salah satu cara ‘rationing’ yang harus ditempuh oleh NHS.

4) Pembengkakan biaya NHS. Ketika NHS pertama kali dibentuk pada tahun 1948, bapak2 pendirinya berpendapat biaya NHS akan semakin berkurang dengan meningkatnya kesehatan masyarakat Inggris. Tentu saja ini hanya impian belaka. NHS menjadi korban kesuksesannya sendiri. Dengan meningkatnya kesehatan masyarakat Inggris, mereka hidup lebih lama dan mempunyai banyak masalah kronik seperti diabetes, darah tinggi, kanker dan penyakit jantung. Semua penyakit ‘non-communicable’ ini memakan banyak biaya konsultasi dan obat2an. Banyak institusi NHS yang sekarang semakin terlibat dalam hutang. Dalam menyambut ultah NHS yang ke 65 tahun ini, orang2 Inggris mulai bertanya2 apakah NHS bisa tetap berdiri 60 tahun mendatang.

Tentu saja ada banyak kritik dan celaan terhadap NHS. Beberapa teman saya yang berasal dari negara lain selalu mengeluh betapa lama waiting list untuk berkonsultasi dengan seorang spesialis. Tanggapan saya selalu sama, memang sangat lama melihat spesialis karena penyakit mereka tidak berbahaya. Apabila mereka didiagnosa dengan kanker, mereka bisa mendapat operasi dalam waktu 1 minggu dikerjakan oleh dokter bedah bertaraf internasional. Ini biasanya cukup untuk membuat diam teman2 saya.

NHS didirikan atas dasar kemanusiaan. Saya bangga bisa menjadi bagian dari sebuah sistem kesehatan universal, yang berarti bisa diakses oleh siapa saja dan mencakup seluruh orang yang tinggal di Inggris. Apabila anda tinggal di Amerika, hanya mereka yang mempunyai asuransi mahal yang bisa pergi ke dokter2 terkemuka. Sebagai turis yang sedang berkunjung ke Inggris pun, anda bisa mendapat pengobatan gratis untuk perawatan yang bisa menyelamatkan nyawa atau badan (saving lives or limbs) untuk masalah yang baru terdiagnosa pada saat anda sedang berwisata, seperti kecelakaan atau serangan jantung.

Apakah sistem ini bisa diwujudkan di Indonesia pada suata saat? Mungkin tidak perlu secara universal di seluruh Indonesia tetapi bisa dimulai di beberapa daerah seperti KJS di Jakarta. Bangsa Indonesia secara keseluruhan hanya menggunakan 2.6% dari GDP (PDB) untuk biaya kesehatan dibandingkan 9.6% di United Kingdom dan 17.9% di Amerika.  Mari kita pikirkan sama-sama cara untuk meningkatkan kesehatan Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 11 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 15 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 16 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: