Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nani Roslinda

Berusaha ceria, bahagia dan hilangkan buruk sangka bisa bikin awet muda

Pembantu Bunuh Bayi Majikannya, Siapa yang Salah?

REP | 06 February 2013 | 11:22 Dibaca: 854   Komentar: 0   3

Mendengar acara di salah satu stasiun TV dalam acara “Apa Kabar Indonesia” saya menyaksikan berita dan reportasi tentang seorang pembantu yang berani dan tega membunuh bayi majikannya.  Sayang saya tidak menyaksikan beritanya dari awal tetapi berita ini menarik untuk saya tulis ulang dalam kompasiana ini mengingat hal ini cukup dapat menjadi pelajaran bagi saya dan bagi para ibu-ibu dan bapak-bapak yang memiliki pembantu di rumahnya ataupun bagi para keluarga yang sekarang memiliki pembantu atau sedang mencari pembantu di rumah tangganya.

Mendengar penuturan wawancara dari reporter stasiun TV tersebut disimpulkan bahwa Pembantu rumah tangga tersebut membunuh bayi majikannya karena merasa kesal sedang mengerjakan pekerjaan yang banyak tetapi si bayi yang baru berumur 5 bulan tersebut rewel alias tidak bisa diam.  Mendengar penuturan pembantu ini, dia merasa menyesal dan merasa bersalah, hilaf dan meminta maaf kepada majikannya yang menjadi korban kehilangan anaknya karena anaknya atau bayinya sekarang sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Awalnya pembantu mengakui bahwa telah terjadi perampokan pada diri sang pembantu dan anak majikannya disekap dan di bunuh oleh para perampok.  Namun karena terjadi kejanggalan-kejanggalan pada kasus ini, beberapa hari setelah kejadian ini Pembantu rumah tangga ini mengakui bahwa dialah yang merekayasa cerita bohong telah terjadi perampokan.    Pembantu ini akhirnya menceritakan semuanya bahwa dia pelaku pembunuhan ini,  dia melakukan ini karena hilaf dan karena merasa kesal saja banyak pekerjaan yang harus dia lakukan tetapi anak sang majikannya merasa rewel.

Sementara majikan yang kedua-duanya bekerja masih trauma dan masih sangat sedih kehilangan buah hatinya yang sangat dinantikan,  disayang-sayang, sedang lucu-lucunya sehingga tetap menuntut sang pembantu dihukum sebera-beratnya dan seadil-adilnya.

Sang majikan dalam wawancaranya dengan reportasi salah satu TV swasta menceritakan bahwa pembantunya itu dia dapatkan dari pembantu tetangganya yang membutuhkan pekerjaan dan mereka menyepakati di awal bahwa pembantu ini tidak menginap di rumah melainkan jam 8 pagi datang ke rumah dan pulang jam 5 sore.  Kesepakatan gajinya adalah 650 ribu perbulan dan uang jajan 5 000 perhari, hari sabtu bekerja setengah hari dan hari minggu libur . Kesepakatan kerjanya adalah semua yang bisa dibantu misalnya ada cucian, setrikaan, membersihkan rumah sambil mengasuh anaknya yang berumur 5 bulan.  Mendengar penuturan majikannya bahwa bayi ini saja yang jadi titik fokus pengasuhannya, karena 2 anaknya yang lain sudah besar-besar bisa mengatur dirinya sendiri.

Majikannya ini menuturkan cerita bahwa diantara mereka dengan pembantunya ini tidak terjadi masalah apa-apa, bahkan hubungannya cukup baik dan tidak pernah terjadi kekerasan dan ketidakbaikan antara majikan dan pembantunya ini.  Sang pembantu ini menurut majikannya tidak menyangka sekali akan berbuat sekejam ini, karena sebelum-sebelumnya dia selalu kelihatan sayang pada anaknya.  Tadinya menurut majikannya kalau sampai sudah 3 bulan lebih dia bekerja dengan baik akan dinaikkan gajinya nanti.

Pembantu ini saat diwawancarai menangis tersedan-sedan dan menuturkan kalimat-kalimat penyesalan dan mengucapkan mohon maaf kepada majikkannya melalui wawancara dengan reporter TV di stasiun swasta ini, tidak ada cerita lain yang membuat seorang pembantu ini kesal pada majikannya, tidak ada faktor lain menurut ceritanya. murni karena kehilafan dan kekesalan sesaat sebelum dia berani membunuh bayi tersebut. Dia meminta maaf dan siap dihukum seberat-beratnya dan bertanggung jawab tutur katanya saat wawancara dengan badan membelakangi kamera.

Terlepas dari siapa yang bersalah, pembantu dan majikan dimanapun berada semua peristiwa seperti ini bisa terjadi kepada siapapun dan dimanapun.  Mungkin keluarga yang saya ceritakan ini sedang bernasip tidak baik.  Mereka harus mengikhlaskan bayinya yang sudah dipanggil sang penciptanya.  Mereka harus mengambil hikmah dari kejadian ini semua.  Termasuk kita-kita yang memiliki pembatu atau memiliki hubungan sosial kepada masyarakat sekitar kita, bahwa kejadian seperti ini terjadi karena kita semua saling membutuhkan satu sama lainnya.

Pembantu butuh pekerjaan, majikan karena sibuk bekerja perlu pembantu rumah tangga untuk menjaga, merawat dan mengasuh anak-anak yang ditinggalkannya di rumah.  Hubungan yang saling membantu ini hendaknya diimbangi dengan komunikasi-komunikasi yang baik antara majikan dan pembantu.  Mereka tidak boleh merasa diri yang paling benar dan mereka tidak boleh menjaga jarak terlalu jauh diantara keduanya. Mereka harus mulai menyatukan hati mereka bahwa mereka bersaudara dan wajib menjadi orang yang harus saling menjaga keduanya.

Kadang-kadang ibu-ibu rumah tangga muda, karena belum pengalaman memiliki anak dan sibuk bekerja di luar rumah, semua pekerjaan yang ada dirumah tangga diserahkan semua kepada pembantu, sampai-sampai majikan tidak pingin mengerjakan apa-apa lagi di rumah karena sudah merasa membayar pembantunya yang lumayan lebih besar, kadang-kadang majikan merasa gaji pembantunya lebih besar dari gaji dirinya sendiri.  Semua pekerjaan yang harusnya dilaksanakan oleh istri dan ibu rumah tangga dilimpahkan semua kepada pembantunya, termasuk masalah buah hatinya, yang sangat ironinya kadang-kadang kebutuhan suaminya pembantunya juga yang melayaninya.  Hal ini yang salah kaprah dari seorang majikan, tidak sedikit cerita bahwa pembantu rumah tangga melayani hal-hal yang lebih pribadi terhadap suaminya. Apalagi tugas seorang istri? Apakah kita seperti ini?

Kasus yang saya ceritakan di tulisan ini tidaklah seperti itu.  Bapak dan ibu majikan yang ada dalam cerita ini adalah orang baik-baik dan perilaku terhadap pembantunya cukup baik,  tidak seperti yang kita duga walaupun kita tidak tau motif lain dibalik peristiwa ini semua, yang disimak sementara bahwa pembantu hanya hilaf dan kesal karena mungkin terlalu capek dengan pekerjaan-pekerjaan yang banyak yang harus dia kerjakan.  tetap saja ada kejadian yang menggemparkan yaitu anaknya dibunuh dengan cara yang cukup sadis yaitu dengan cara dicekik dan diikat lehernya dengan kain gendongan.  Maaf kalau seandainya keliru pemberitaannya, karena saya agak terlambat menyaksikan ceritanya di TV pagi ini.

Hikmah-hikmah yang bisa kita ambil antara lain  1) setiap manusia kadang-kadang tidak bisa diprediksi apakah orangnya kelihatan baik atau kelihatan buruk, mungkin saja mempunyai peluang melakukan kejahatan, oleh sebab itu teruslah menjaga hubungan baik diantara keduanya, majikan harus menjaga hati dan perasaannya agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang akan membuat dia berlaku jahat.   2) Kejahatan kadang-kadang terjadi bukan direncanakan, karena memang ada kesempatan dan ada rasa kesal sesaat, teruslah menasehati dan memberikan amanah-amanah yang baik terhadap pembantu misalnya dengan selalu mengingatkan agar mengerjakan pekerjaan yang lebih penting dibanding mengerjakan hal-hal yang masih bisa ditunda,   3) Majikan sebaiknya selalu berkomunikasi baik terhadap pembantunya setiap hari  agar dengan komunikasi ini dia merasa dihargai dan merasa dijadikan bagian dari isi rumah ini dan memiliki rasa tanggung jawab yang baik.  4) Majikan hendaknya memberikan penjelasan yang tegas terhadap tugas-tugas pembantunya di rumah, mana perioritas yang harus diutamakan, dan mana perioritas pekerjaan yang boleh ditunda dan bisa dikerjakan bersama-sama dengan  ibu majikannya. 5) Jangan menyerahkan semua pekerjaan kepada pembantunya, karena pembantu  mempunyai keterbatasan tenaga juga dalam melaksanakan kegiatan rumah tangganya.  6) Posisikan diri kita saat kita tak punya pembantu, maka kita harus mengerti perasaan pembantu dan pembantu juga harus mengerti perasaan majikannya, harus saling terbuka dan saling berkomunikasi terhadap keinginannya masing-masing dengan berbicara yang baik-baik diantara keduanya.

Keputusan untuk memiliki pembantu harus dipikirkan matang-matang oleh suami istri yang memiliki pekerjaan diluar rumah kedua-duanya.  Mereka harus mempersiapkan mental dan perasaan yang baik manakala hendak memilih pembantu dari kalangan orang baru atau bukan saudara karena kita akan menjadikan mereka saudara kita dan harus berusaha melakukan hubungan yang baik terhadapnya.  Saat anak masih sangat kecil atau masih bayi sebaiknya ibu rumah tangga harus mengambil dan memanfaatkan waktu-waktu cutinya untuk menyayangi anaknya dan melatih pembantunya agar bisa menyayangi anaknya juga.  Jangan sampai kita tunjukkan kepada pembantu kita bahwa kita tidak peduli dan tidak sayang pada anak kita, karena bisa jadi pembantu kita juga tidak sayang pada anak kita.

Kalau kita berusaha menunjukkan rasa sayang kepada anak kita dan pembantu melihat kita memperlakukan anak kita dengan baik dan sangat sayang, maka pembantupun akan meniru. Contoh dan teladan yang kita berikan pada saat kita ingin menyerahkan pengasuhan kepada pembantu kita, akan menjadikan pembantu kita juga akan sayang dengan anak kita, karena kita mencontohkan hal-hal yang baik pada pembantu kita.

Maka dari itu solusi yang terbaik adalah berikan contoh dan teladan yang baik dari seorang majikan kepada pembantunya.  Bertutur sapa yang baik dan memelihara komunikasi yang baik kepadanya akan sangat membuat seorang pembantu dihargai dan berfikir panjang dalam melakukan tindakan yang tidak baik.  Pembantu juga manusia, punya rasa ingin dimanusiakan.

Berusahalah untuk tidak membeda-bedakan makanan antara majikan dan pembantu, karena bisa saja pembantu memfonis diri kita sombong, kita pelit dan kita akan mendidik mereka untuk jaga jarak dan tetap menjadi orang lain, sehingga hati kita masih terpisah maka dia akan gampang melakukan kejahatan karena dia bukan siapa-siapa di rumah itu. Boleh saja kita memberitahukan bahwa makanan sebaiknya dipisahkan tempatnya menjadi dua piring, yang satu untuk dihidangkan dan yang satunya untuk pembantunya, tapi jenis makanannya sama, usahakan tidak berbeda-beda.

Kalau wanita bekerja di luar rumah sangat perlu sekali pembantu rumah tangga untuk bantu-bantu  di rumah namun tetap kadang-kadang harus hati-hati dan waspada dalam memilihnya, apalagi tipe dan karakter majikannya sangat keras dan tidak empati terhadap orang lain, bisa jadi pembantunya akan selalu gonta-ganti silih berganti setiap hari dan setiap minggu, tidak ada yang betah tinggal di rumah kita, atau yang betah bisa mencari selah untuk merugikan majikannya dengan mengambil barang yang ada dirumahnya secara diam-diam, melakukan fitnah dan menceritakan kejelekan-kejelekan rumah tangga kita kepada orang lain atau tetangga kita, bahkan tidak sedikit para pembantu yang melakukan kejahata-kejahatan yang tidak diinginkan seperti cerita di atas, seorang pembantu tega membunuh anak majikannya.

Kalau para majikan tidak bisa menerima resiko ini, maka cara yang terbaik adalah wanita tidak usah bekerja di luar rumah, tidak usah punya pembantu dan wanita tersebut sebaiknya bekerja sendiri melakukan semua pekerjaan rumahnya sendiri saja.  Resiko terbesar sang wanita bisa bete, bosan dirumah saja, dan kecapean dalam mengurusi rumah tangganya. Kadang-kadang tidak semua suami suka istrinya hanya diam dirumah tidak bergaul dan tidak berdandan cantik lagi karena pakaian kerja ibu rumah tangga adalah daster, suami-suami banyak juga yang melirik wanita lain yang bekerja.

Semua keputusan  mempunyai resiko, semoga setiap orang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian.  Selamat memperkecil resiko dari keputusan mengambil pembantu rumah tangga atau tidak!

Semoga kita mampu menjalani hidup ini penuh dengan keiknlasan dan keridoan!! Amiiiin!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 13 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 14 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 15 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: