Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ahmad Baihaqi

Tulisan adalah goresan titik pada mangkuk huruf NUN. Berlayarlah dg mangkuk itu...

Meluruskan dan Memurnikan

OPINI | 29 January 2013 | 14:07 Dibaca: 184   Komentar: 0   0

Sebagian orang memberikan stigma negatif terhadap dunia tasawwuf. Mereka memberikan penilaian, tanpa pengetahuan secuilpun, kepada hal ihwal praktek tasawwuf seperti praktek perdukunan. Karena itu, tak segan-segan merekapun menjatuhkan vonis sesat. Sebuah praktek yg dianggapnya sebagai dunia fantasi dan jauh dari kebenaran ilmiah. Meski sejarah telah menuliskan bahwa pertentangan antara filsafat idealisme dengan materialisme, sebagai barometer ontologi ilmiah selisihnya hanya sedikit, bahkan sebenarnya tidak berbeda sama sekali. Artinya, kebenaran alam ide dengan latar belakang intuisinya yang digagas dalam dunia tasawwuf tidak bisa dipandang sebelah mata oleh pandangan-pandangan ilmiah dengan metodologi dan riset-riset kontemporer.

Pandangan dan penilaian negatif terhadap dunia tasawwuf sama persis dengan pandangan kaum-kaum jahiliyah terhadap para Nabinya. Tak satupun para kekasih Allah swt yang tidak ditentang oleh kaumnya. Beliau-beliau dianggap aneh, asing, bertentangan dengan tradisi yg hidup pada saat itu, bahkan tak jarang pula para kekasih Allah swt itu dianggap tidak waras. Mengapa? Karena sesuatu yang disampaikan oleh Nabi seringkali (seolah) bertentangan dengan logika pada umumnya. Padahal sebenarnya, pertentangan itu muncul karena ketidaktahuan.

Fenomena menyatakan sesat sebenarnya justru penyimpangan prilaku itu sendiri. Tanpa adanya pemahaman yg mumpuni terhadap praktek tertentu dari hal ihwal tasawwuf, wilayah penyesatan justru berasal dari mereka yg sering mengumbar-umbar dan memudahkan stigma sesat.

Ketika kaum mayoritas mendominasi sistem sosial dan pemikiran, maka kebenaran akan bermakna seolah-olah sebagai kontrak sosial. Hanya terbatas pada suara persetujuan mayoritas. Cara berpikir seperti ini akan menumpulkan kreatifitas pemikiran yang berimplikasi kepada dogma. Tanpa terkecuali di dunia akademik. Apa yang dikatakan benar secara akademis adalah sebuah argumentasi yang didasarkan pada dalil-dalil yang sangat tekstual. Walhasil, kebenaran mayoritas adalah bermakna kegelapan dan kebodohan itu sendiri.

Namun, fenomena kenabian tidaklah mensyaratkan itu (dalil-dalil akademis). Mereka yang hidup pasca kenabianlah yg memberikan parameter dan kategorisasi akademis. Sehingga ilmu diposisikan menjadi terbatas dan sempit, hanya yang kasat mata, empirik. Wilayah intuisi yang menjadi karakteristik kenabian tidak mendapatkan tempat dalam kebenaran ilmiah. Implikasinya, menuntut ilmu dimaknakannya sebagai mengisi akal dengan pengetahuan bukan memoles hati dengan spiritual. Ini bukanlah kritik terhadap dunia akademik, tapi sebuah upaya untuk membuka ruang bagi peran pengetahuan yg bersumber dari intuisi (ilham). Dalam hal ini adalah dunia tasawwuf.

Stigma khayalan, perdukunan, khurafat, syirik dan bid’ah terhadap dunia tasawwuf justru menjumudkan pandangan metodologi ilmiah terhadap dunia empirik. Menuntut ilmu dipersempit menjadi sekolah, yang hanya dinisbahkan pada pengisian ruang-ruang akal. Padahal istilah menuntut ilmu merupakan upaya mempertemukan kehendak-kehendak hati dengan ketersingkapan hijab akal. Makna kebodohan itu bukanlah berarti tidak pintar, tapi tidak bertemunya antara ketersingkapan akal dengan kehendak hati. Sebutan jahiliyah terhadap masyarakat Arab pd saat itu bukan tertuju pada makna lemah akal (kebodohan akademis), tapi justru pengabaian terhadap kehendak murni hati dimana istilah intuisi itu muncul.

Krisis epistemologis yg dialami Imam Ghazali adalah salah satu bukti bahwa pergolakan bathin dalam dunia empirik seolah menjelaskan tentang betapa sempitnya makna ilmu yang kemudian dipakai turun-temurun menjadi kategori-kategori ilmiah hingga saat ini. Klasikalisasi sekolah telah melakukan itu selama berabad-abad. Pandangan umum terhadap menuntut ilmu dipersempit menjadi sekolah, dan kategorisasi ilmu pun dipesempit lagi menjadi pengetahuan empirik-epistemologis. Parahnya lagi, pandangan-pandangan tentang iman dipersempit menjadi aturan-aturan definitif. Walhasil, cara beragama menjadi sangat tekstual. Sungguh sangat pragmatis.

Tasawwuf merupakan suatu metodologi penguatan intuisi. Melalui latihan-latihan tertentu diharapkan intuisi itu bisa muncul. Meski tujuan murni tasawwuf bukanlah semata-mata membangun mekanisme ilmiah untuk dijadikan referensi pendidikan. Sebab Rasulullah saw diutus bukan semata-mata untuk mendidik manusia, tapi sebagai rahmat. Rahmat merupakan wilayah yang sangat abstrak dan spiritual. Makna rahmat yang mendasari perutusan tidaklah semata-mata merujuk pada makna-makna materil. Dari sini saja, misi dan tujuan Perutusan Tuhan (Nubuwwah) tidak bisa ditinjau secara empirik, tapi harus ditinjau atau setidaknya “diraba” berdasarkan “penyingkapan” (kasyf) spiritual (intuisi).

Persepsi umum terhadap dunia tasawwuf yg disebutnya sebagai praktek perdukunan justru merupakan pengingkaran terhadap Nubuwwah (kenabian) yang sepertinya diimani. Mereka memposisikan para “ahlu tasawwuf” seperti tukang obat, paranormal atau tukang sulap. Sehingga mereka berasumsi para “ahlu tasawwuf” itu orang sakti mandraguna yang bisa mempertunjukkan keanehan-keanehan secara sewenang-wenang. Mereka merendahkannya dg stigma dukun, paranormal, tukang ramal dan tukang santet. Sebuah keadaan yang membuktikan bahwa pandangan umum telah terkungkung oleh persepsi yg disebut dg stereotif paranoid. Terjebak oleh batasan intelektualitasnya sendiri.

Ketakutan akan adanya praktek-praktek syaithoni (dukun, paranormal, tukang santet) sebagaimana yg dituduhkan kepada dunia tasawwuf menunjukkan sebuah kelemahan iman. Bahwa mereka merasa aman dengan keadaannya sendiri yang disebut tanpa godaan syetan. Padahal kemurnian iman tak kan bisa dikotori meski berada di tempat yg (dianggapnya) sangat kotor sekalipun. Iman tetaplah murni dan suci. Praktek perdukunan dan paranormal bukanlah tasawwuf. Camkan itu…

Harapan untuk meraih keduniaan (harta, jabatan, popularitas, kecantikan) merupakan obyek yang tidak berbeda sedikit pun dengan praktek-praktek syaithoni seperti dukun, tukang santet, dan mereka-mereka yang terikat dg ikrar-ikrar syaithoni. Kehidupan dunia yg memunculkan harapan dan ketakutan telah mengikat sikap dan geraknya. Sehingga kehidupannya disebut sebagai penuh dg syirik, khurafat, takhayyul dan bid’ah.

Godaan seorang tasawwuf yang mencari kejernihan di hutan dan di gunung tetaplah sama dg seseorang yang berada di tengah keramaian kota. Di hutan dan di gunung digoda dengan berbagai macam penampakan-penampakan jin, memedi dan hantu blau, sedangkan di kota digoda dengan bayangan-bayangan harta, tahta, ketenaran, dll. Keduanya sama sekali tidak berbeda. Penampakan di hutan dengan bayangan di kota adalah sebuah keadaan yg “membujuk” manusia agar keluar dari jalan kemurnian iman.

Bahwa inti dasar tasawwuf adalah kemurnian tauhid. Hal ini sejalan dg misi yang diemban oleh para kekasih Allah. Kemurnian tauhid adalah sebuah jalan untuk menjernihkan akal pikir dan melapangkan dada terhadap fenomena-fenomena keduniaan yang muncul sebagai realitas dari godaan syetan. Inti ajaran tauhid adalah mengenalNya untuk menyatu kepadaNya dalam rangka mensinergikan antara yang disebut sebagai perbuatan manusia dengan kehendak Allah. Sebuah metode untuk menggapai fitrah kemanusiaan yakni kembali kepada Allah, saat ini dan di sini.

Saat ini dan di sini, manusia harus bisa kembali kepada Tuhannya. Bukan nanti, ketika waktu shalat, puasa ramadhan, haji, dll, tapi saat ini dan dalam kondisi bagaimanapun kita harus bisa kembali kepada Tuhan. Bukan pula sekedar di sana (di masjid, musholla, masjidil haram – Mekkah), tapi di sini, di tempat kita berdiri, dilahirkan, makan, minum, bekerja, istirahat, dll. Tuhan menjadi motivasi terbesar dan tujuan teragung akan segala perbuatan kita. Intinya, kembali kepada Tuhan.

Garis landas tasawwuf sangatlah jelas. Sebagaimana namanya, tashawwuf artinya meluruskan atau memurnikan. Diasaskan pada kata shauf (meluruskan). Sebuah perbuatan manusia yang murni dan lurus, berbobot sebagai perbuatan Tuhan (af’alullah). Mekanisme yg berlaku sesuai dengan Kehendak Tuhan. Tuhan tidak akan mendzalimi hambaNya, jika si hamba meluruskan perbuatannya sendiri dengan kehendak Tuhan. Karena itu, manusia harus menyatu dengan Tuhan. Namanya Tauhid, artinya penyatuan. Perubahan yang berasal dari kata “wahhada” yang artinya menyatu.

Karena itu, sudahilah stigmatisasi sesat, syirik, takhayyul, khurafat, bid’ah, dan ungkapan-ungkapan sinis lainnya yg menunjukkan kelemahan akal. Karena semua manusia justru sedang berada dalam kesesatan, dan sedang berusaha keluar dari kesesatan itu. Wallahu muwaffiq ilaa aqwaamith tahariiq…

alHajj Ahmad Baihaqi

Tags: renungan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Gitar Bagus Itu Asalnya dari Sipoholon, Lho! …

Leonardo Joentanamo | | 25 April 2014 | 11:08

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: