Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mira Marsellia

You could find me at: Blog: http://miramarsellia.com Twitter: bellamyavandenbush

Saya Bukan Cina dan Selalu Disangka Cina, Terus Kenapa?

OPINI | 14 January 2013 | 13:40 Dibaca: 2231   Komentar: 30   13

Aku bukan WNI keturunan Cina. Oke. Mungkin ada sih keturunannya, di nenek moyangku entah di urutan ke berapa, pokoknya jaman dulu banget saat masih kerajaan Pajajaran belum sirna ing bhumi (mungkin ini juga) . Dan kalaupun ya, memang apa salahnya dengan itu? Apa salahnya dengan menjadi Cina? Seperti halnya seseorang tidaklah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah derajatnya gara-gara dilahirkan sebagai orang Afrika, orang Pigmi, orang Papua, ataupun orang Amerika (yang asli penduduk Amerika lagian kan Indian), apalagi untuk dinyatakan bersalah gara-gara identitas berdasarkan kesukuan. Tapi ada yang jadi beda rupanya dengan pandangan orang di sekitarku (para tukang sayur sih kebanyakan), terhadap aku khususnya.

Bukan mauku dilahirkan dengan kulit putih (atau kuning bangsat?) -apapun deh warnanya kulitku ini, yang kata beberapa orang terlihat lebih terang dibandingkan orang-orang yang mengaku sebagai orang Indonesia asli, dan mataku memang agak sipit (karena memang tidak sipit-sipit amat) nyaris tak berlipatan di kelopak mata, dengan rongga mata yang nyaris pula sama ratanya dengan tulang hidung (tidak menjorok ke dalam seperti orang Timur Tengah atau Bule). Rambutku juga lurus. Itu semua menjadikanku hampir tidak pernah dipanggil “Teteh” atau “Ceuceu”, tapi selalu dengan “Ci”, “Cici”, ataupun “Enci”. Baik oleh pramuniaga, tukang sayur, supir angkot, bahkan teman-temanku, dan bahkan yang terakhir menyapaku itu khusus untuk menggodaku, tepatnya.

Walaupun sebenarnya salah sasaran, karena ya itu tadi, apa salahnya berwajah dan berkulit mirip Cina? Hehehe, dan tenang saja, saya tidak pernah terprovokasi untuk nginjek-nginjek HP mereka bila digoda/diledek model apapun. Kalau kapasitasnya masih becanda (masalah lucu tidak lucu itu mah lain soal). Padahal sama orang Cina sendiri aku juga tidak diaku-aku sebagai anak mereka yang hilang kok, buktinya kalau nawar di Pasar Baru atau di King’s tetap saja sama dengan yang lain, malah bisa jadi harga yang aku dapat lebih mahal karena aku memang tidak piawai benar dalam tawar menawar.

Sudah lama aku menyerah mengoreksi mereka soal ke-bukan-cinaan-ku. Seperti halnya aku menyerah menjemur kulitku untuk jadi hitam. Karena setelah gosong yang sangat, sangat menyakitkan, selalu kembali ke warna asal, putih lagi. Lagipula toh, kulit putih tidaklah jelek. Lihat saja tuh iklan-iklan di tv, berapa milyar digelontorkan industri kecantikan untuk iklan kosmetik pemutih wajah dan lotion pelembab sekaligus pemutih itu. Dan sekarang jumlah wanita yang rela membunuh dan terbunuh untuk mendapatkan warna kulit putih cantik alami dan segar bestari berkembang pesat seperti deret hitung (atau deret ukur ya?).

Kalau dipikir lagi, manusia itu memang suka tidak jelas banget soal kesukuan dan warna kulit. Ini tentang teman-temanku; ada orang tua yang sangat bangga dengan kesukuannya, membuat perkawinan antar suku urun terjadi (gara-gara dilarang keluarga katanya), atau ada yang malah tidak bangga sama sekali. Sampai-sampai tidak sudi mencantumkan marganya karena tidak mau disebut sebagai orang Batak. Nah kan, coba, apa salahnya jadi orang Batak? Tidak ada yang salah dengan itu. Dan saya sendiri punya prinsip Don’t Know Don’t Care dengan suku dan agama orang lain. “As long as they nice to me”, nurutin kata Eminem.

Lucunya saat aku pulang kampung pun (yang kadang dua tahun sekali itu), orang-orang kerap menanyakan pada kerabatku,
“Punten, Neng nu itu teh Cina nya?”
Nah lho, itu di kampung tempat nenek moyangku sendiri padahal. Jelas-jelas mereka satu turunan dengan aku, orang nyekar ke kuburan yang sama kok. Terus tetap kembali ke pokok masalah, misalnya nih ya misalnya, aku ini Cina, terus kenapa?

Bicara soal turunan, kalau kita menyimak pelajaran  jaman SD dulu, bukankah jelas-jelas tercantum bahwa nenek moyang kita yang datang ke Indonesia itu berasal dari Yunan Cina Selatan?. Mungkin abad berikutnya memang beberapa ada yang datang dari India, Arab, Melayu, dsb, namun jelas, bukan – POP! -muncul tiba-tiba dari tanah sehabis hujan seperti jamur. Jadi nyaris tidak ada orang Indonesia asli, kecuali mungkin Pithecanthropus Erectus atau Homo Soloensis yang benar-benar asli penduduk Jawa. Untuk yang disebut WNI keturunan Cina yang datang kemudian, ya itu mah masalah datang duluan dan belakangan saja kan? Tetap saja sama-sama datang dari negara tempat telur seribu tahun itu diciptakan (sampai saat ini aku masih bingung bagaimana cara mengubur telur ayam untuk  berubah menjadi telur bertekstur cantik dengan warna bening kecoklatan itu).

Selanjutnya soal tempat tinggal. Saya memang tinggal di perumahan yang kalau dipresentasekan 98% dihuni oleh Cina (Cina asli bukan cuma mirip doang seperti saya). Selalu saja ada komentar seperti, dari non Cina tentunya:
“Lho itu kan perumahan Cina” atau
“Oh sengaja ya biar kumpul dengan komunitasnya”
“Nyari yang mukanya samaan nih?”
Ya ya ya, saya sangat mengerti mereka becanda.

Yang paling-paling aku jawab, tetanggaan mah sama aja dimana-mana, yang baik banyak, yang nyebelin juga banyak, gak harus liat bangsa atau suku apa. Tapi kalau soal dibaikin tetangga ya gimana kitanya aja menyesuaikan diri dalam bertetangga. Buktinya saya sering lho dikirim makanan; dodol cina, kue, nasi goreng pete, pernah juga jengkol setengah karung, ubi kayu, bahkan ikan mas hasil mancing.

Itu kalau aku sedang mood ngomong, kalau malas, ya tinggal nyengir kuda saja. Beres. Rumah juga rumah aku sendiri kok. Masalah turun temurun dan keturunan ini sih kan kalau dibahas kapan juga toh selesainya? Aku sih sebenarnya tidak begitu ambil pusing mau jadi orang Sunda asli ataupun Cina aspal sekalipun. Masalah penting sekarang kan bagaimana ngurangi sampah Bandung agar tidak menggunung. Dan yang penting aku masih diaku sebagai warga dunia, bukan alien. Ya kalau Mars sudah bisa ditinggali bolehlah aku pindah kesana. Biar Farhat puas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 6 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 8 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 8 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 9 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 9 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: