Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ngayah, Metode Menyumbang Masyarakat Bali

OPINI | 13 November 2012 | 16:53    Dibaca: 1162   Komentar: 0   0

Oleh Sigit Budhi Setiawan

Bali tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan pesona alam yang luar biasa. Bali juga dikenal sebagai daerah dengan kekayaan seni, budaya dan sistem kemasyarakatan yang seolah tiada lekang dimakan modernisasi. Mereka begitu liat, ulet dan cerdik meniti gelombang perubahan. Persis secerdik dan lihai para Surfer Bali meniti gelombang pantai Kuta.

Dalam tradisi menyumbang, masyarakat Bali memiliki metode menyumbang sangat khas. Menyumbang dalam masyarakat Bali tidak hanya sebagai bentuk perintah agama, namun telah inheren dalam perilaku budaya mereka. Salah satu metode menyumbang paling dikenal adalah ngayah.

Secara harfiah, ngayah berarti pekerjaan sukarela untuk kebaikan bersama. Secara konsep, ngayah adalah sejenis gotongroyong di berbagai masyarakat di Indonesia. Namun ngayah tidak semata-mata tolong menolong dan berbuat untuk kebaikan bersama tetapi merupakan manifestasi religiusitas, kesalehan sosial dan budaya dalam masyarakat Bali. Ngayah adalah artikulasi dari Dharma masyarakat Bali. Dalam prakteknya, ngayah ditujukan untuk berbagi, tolong menolong, bersolidaritas dan bersosialisasi antarmasyarakat.

Ngayah dalam Lintasan Jaman

Secara historis, ngayah merupakan tradisi masyarakat agraris Bali yang secara turun temurun dipelihara. Pada masa itu, ngayah menjadi bagian dari pekerjaan agraris, mengolah sawah, ladang sambil bersosialisasi dengan masyarakat untuk hidup yang lebih baik. Ngayah juga merupakan bagian dari pengabdian transedental kepada Tuhan, pengabdian tanpa pamrih kepada adat, pengabdian kepada patron tradisional di masyarakat (raja sebagai pemilik tanah, negeri).

Pada masa modern ini, wilayah-wilayah perkotaan Bali menerapkan model ngayah yang fleksibel. Ngayah sebagai kerelaan dan solidaritas yang disesuaikan dengan perubahan jaman. Namun, seperti semangat tradisional, Fleksibel tidak berarti mengurangi interaksi dan hubungan baik kekerabatan di masyarakat. Sebagai misal dengan mengatur jadwal ngayah di luar jam kerja, lebih dini atau waktu-waktu libur bagi pekerja kantoran atau memiliki halangan.

Bagi pekerja kantoran, sebagai contoh, bisa ngayah terhadap kerabat atau tetangganya pada pagi dini, sebelum jam kerja kantor dimulai. Selain itu, sumbangan dalam bentuk uang, barang dikumpulkan secara reguler. Dengan model ini, semangat berbagi, berbuat untuk kebaikan bersama tanpa menipiskan ikatan kekerabatan nampaknya bisa terjaga.
[]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ayo Jalan-jalan ke Lapangan Banteng Jakarta! …

Amirsyah | | 30 May 2015 | 16:31

Menyiapkan Keluarga untuk Menyambut Ramadhan …

Cahyadi Takariawan | | 30 May 2015 | 13:09

Mini Market Tanpa Miras, Kita Lihat …

Kompasiana | | 30 May 2015 | 18:33

Catatanku di Eropa: Pungutan Kuliah? No! …

Dyah Rahmasari | | 30 May 2015 | 04:59

Sambutlah: Kompasiana Baru 2015 yang Lebih …

Kompasiana | | 20 May 2015 | 19:02


TRENDING ARTICLES

Gagasan Khilaf Khilafah …

Iqbal Kholidi | 9 jam lalu

Salah Membaca Gestur, Calon Doktor Itu …

Muhammad Armand | 10 jam lalu

Berkat Jokowi Rakyat Indonesia Semakin Kuat …

Stefanus Toni A.k.a... | 11 jam lalu

Jika Ibu Kota Dipindah ke Palangka Raya! …

Jimmy Haryanto | 13 jam lalu

Buku Kontroversial: Akulah Istri Teroris …

Muthiah Alhasany | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: