Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Tari Jaran Kepang

HL | 08 August 2012 | 22:25 Dibaca: 5267   Komentar: 48   21

1344438267572137567

Tari Jaranan atau Jaran Kepang dari Desa Ngadas. Dok.Pri

Tari Jaran Kepang merupakan tarian rakyat yang banyak dikenal oleh masyarakat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Jawa Tengah lebih dikenal dengan sebutan Jathilan. Entah mengapa disebut demikian. Di Jawa Timur disebut Jaran Kepang karena kuda-kudaannya terbuat dari anyaman bambu yang disusun atau dijalin secara menyilang, bahasa Jawanya: ngepang.

Di sebagian besar wilayah Jawa Timur, tari Jaran Kepang biasanya ditampilkan bersama Reog Ponorogo dan Bantengan, namun juga sering ditampilkan sendiri sesuai dengan adat yang berkembang di suatu desa yang mengenal tari Jaran Kepang tersebut.

Asal usul Tari Jaran Kepang.

Tentang asal-usul tarian ini amat beragam, sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari Jaran Kepang lebih terpengaruh oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Maka pakaian dan para penarinya lebih modis dan menunjukkan keberadaan kaum ningrat. Penarinya pun pada umumnya adalah wanita dengan dandanan yang cantik dan lembut.

1344438381262387075

Penari Putri Jaranan gaya Ponorogo. Dok.Pri

13444384941603782021

Dua penari putri Jaran Kepang dengan seorang Warok Dok.Pri

Bagi masyarakat Jawa Timur bagian timur ( Surabaya, Malang, Lumajang, sampai Situbondo ) tari Jaran Kepang lebih cenderung dari kisah-kisah raja-raja kecil yang saling berperang atau berebut pengaruh untuk meluaskan wilayahnya. Seperti kisah peperangan antara Turyanpadha ( sekarang Turen – Malang ) dengan Tuksari ( sekarang Sumbersari – Malang) dan pemberontakan warga Malang, Surabaya, Lumajang, dan Pasuruan melawan Sultan Agung dari Mataram.

Berdasarkan pengamatan dan penelitian penulis ( di wilayah pinggiran Malang, Lumajang, dan Surabaya ) tari ini berasal dari tari rakyat jelata atau kelompok masyarakat bawah. Tarian berawal dari keinginan kaum jelata untuk memiliki kuda ( Jawa: turangga, Tengger: kapal ) yang saat itu merupakan kendaraan yang cepat tapi mahal dan hanya dimiliki oleh para adipati atau penguasa setempat. Sehingga mustahil mereka memilikinya. Keinginan memiliki yang begitu kuat maka dibuatlah kuda kepang lalu ditunggangi dengan kaki mereka sebagai kaki kuda. Dengan tangan kiri memegang leher kuda (kepang) dan tangan memegang cambuk ( Jawa=pecut ) serta kedua kaki menghentak-hentak bagaikan kaki kuda maka terciptalah tarian Kuda Kepang. Alat musik yang sederhana berupa slompret, kendang, kempul, bonang, dan gong ( sautan ) serta pakaian yang sederhana pula ( celana pendek hitam dan kaos loreng merah putih ) semakin menunjukkan bahwa tari ini berasal dari rakyat jelata. Ikat kepala kadang memakai udheng wulung ( khas Ponorogo ), udheng merah dan ungu khas Madura, bahkan udheng lorek khas Jawa Tengah. Sedang kaos tetap loreng putih merah dengan memakai rompi hitam, dan celana warna hitam. Penarinya juga pada umumnya kaum pria.

13444386521902621144

Penari putra Jaran Kepang dengan pakaian yang sederhana.

13444387331927586993

Alat musiknya lebih sederhana juga.

Memang harus diakui sumber tertulis asal usul tari ini amat sedikit, atau bahkan boleh dikatakan tidak ada. Hanya cerita – cerita turun temurun dari para leluhur yang ‘kadang’ kita dengar dari kakek-nenek kita yang masih mau berbagi. Kecenderungan anak muda sekarang, akibat pengaruh budaya dan agama, yang menganggap Tari Jaran Kepang mengandung unsur magis dan klenik sehingga tak menarik lagi bagi mereka. Bahkan, sekedar mengetahui kisahnya saja kadang dianggap ‘tak layak’

Gerakan tari Jaran Kepang.

Pada umumnya Tari Jaran Kepang gerakannya dilakukan oleh seluruh anggota gerak tubuh. Mulai kaki, tangan, jemari tangan, bahu dan pundak, leher dan kepala, serta pinggang dan perut. Dengan irama yang dinamis dan kuat, tari ini sungguh memerlukan tenaga yang cukup banyak.

Pada masyarakat petani di luar Suku Tengger yang ada di Malang, kita sering melihat mereka berjalan dari rumah sambil membawa cangkul atau garu ( alat membajak sawah ) dan menggiring sapi atau kerbau adalah hal lumrah. Dalam mengelola sawahnya sering menggunakan cangkul. Gerakan mencangkul yang banyak menggunakan tangan ini pula yang banyak mempengaruhi gerakan tangan dalam menari. Termasuk tari Jaran Kepang dan tari Topeng gaya Malang.

13444388771215367239

Gerak tari terpengaruh kondisi topografis dan ekografis masyarakat Ngadas.

13444390481916758149

Gerakan kaki lebih banyak, halus, dan rancak.

13444391751593595199

Penari Jaranan dengan latar belakang ladang di perbukitan desa.

Gerakan tari Jaran Kepang Desa Ngadas.

Tari Jaran Kepang dari Desa Ngadas hanya mengandal gerakan kaki, yakni dua langkah kaki kanan dan kiri secara bergantian dengan menghentakan tumit dan ujung jari kaki secara bergantian. Gerakan kepala ( Jawa: pacak gulu) hanya menggeleng sesuai dinamika tabuhan kendang. Gerakan tangan hanya menyabetkan cambuk dari depan ke belakang, tak ada cambukan atas ke bawah dan memutar lalu menyabetkan dengan keras sehingga melontarkan bunyi yang keras dan tinggi. Gerakan-gerakan ini ternyata terpengaruh oleh seluruh gerak tubuh masyarakat Suku Tengger Desa Ngadas dalam keseharian mereka seperti berjalan kaki ke dan dari kebun serta saat bertani. Keadaan geografis yang penuh tanjakan dan turunan yang berliku membuat beban tubuh pada saat berjalan dan bekerja lebih banyak tumpuannya pada kaki. Terpusatnya gerakan tubuh dan bertumpunya beban hanya pada kaki inilah yang juga mempengaruhi gerakan dalam Tari Jaran Kepang dan Tari Topeng di Desa Ngadas yang lebih banyak pada hentakan-hentakan kaki yang tidak terlalu cepat, namun halus, dan rancak.

Posisi badan penari yang banyak membungkuk dan sedikit goyangan ke kiri dan kanan juga menggambarkan langkah kuda yang lambat karena beban yang diangkutnya di jalanan yang menanjak. Selain itu juga menggambarkan cara berjalan masyarakat Desa Ngadas saat membawa hasil pertanian dari ladang ke rumah. Atau membawa rumput dari padang rumput untuk ternak mereka di ladang yang curam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 16 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 17 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 18 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 19 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: