Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Widya Setyanto

seseorang yang slalu ingin belajar dari kehidupan sesama tanpa memandang siapa dan apa mereka...

Raden Rais, Bangsawan yang Peduli pada Kematian Ibu dan Angka Putus Sekolah

REP | 18 April 2012 | 21:42 Dibaca: 73   Komentar: 0   0

Mambalan dulunya adalah sebuah kedatuan (nama lain bagi kerajaan), struktur pemerintahan serta aparaturnya sama dengan kerajaan tapi dengan wilayah yang lebih kecil. Dulu wilayah Kedatuan Mambalan (apabila dihitung dengan tata pemerintahan saat ini) meliputi Kecamatan Gunung Sari dan Batu Layar). Tapi saat ini, Mambalan hanyalah nama sebuah desa di Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Sebagai wilayah bekas kedatuan, warga Desa Mambalan masih berpegang teguh pada hukum adat atau warga sering menyebutnya awig-awig. Walaupun mayoritas penduduknya adalah muslim, akan tetapi pertautan sejarah Hindu – Islam di Lombok membuat istilah awig-awig yang merupakan istilah bagi masyarakat Hindu bisa diterima oleh warga.

Kepatuhan warga pada awig-awig salah satunya bisa dilihat pada proses pernikahan adat yang selalu mengalahkan hak perempuan, terlebih bagi perempuan yang merupakan keturunan bangsawan. Dia akan kekehilangan hak warisnya apabila menikah dengan laki-laki yang bukan berasal dari bangsawan. Belum lagi soal pisuke (harga beli atau mas kawin), aji krame (nilai kebangsawanan dan tidak kebangsawanan), serta sorong serah (seserahan atau pemberian di hari perkawinan).

Memanfaatkan situasi ini Raden Mohamad Rais, salah satu keturunan bangsawan Kedatuan Mambalan yang memiliki kepedulian terhadap perempuan dan anak-anak di desanya mengajak berdiskusi tokoh adat, tokoh agama serta tokoh masyarakat lainnya untuk bisa memanfaatkan potensi desa yang ada untuk lebih memperpedulikan nasib perempuan dan anak khususnya di Desa Mambalan.

Salah satu yang menjadi perhatian seriusnya adalah jumlah kematian ibu melahirkan yang mencapai 50% dikarenakan melahirkan di dukun beranak, tidak di tenaga medis seperti bidan atau dokter. Belum lagi jumlah angka putus sekolah di Desa Mambalan cukup tinggi, mencapai angka 5% dari total anak wajib belajar 9 (Sembilan) tahun di desa tersebut. Dimana akar dari itu semua adalah kemiskinan dan kurangnya informasi akan pentingnya kesehatan dan pendidikan bagi kelangsungan hidup warga.

Berdasarkan kondisi tersebut, akhirnya pada tahun 2009, Raden Mohamad Rais memelopori pembuatan awig-awig (secara tertulis) tentang keamanan, pendidikan, dan kesehatan atau biasa disebut dengan lace-lace. Dimana isi dari awig-awig tersebut diantaranya adalah:

  1. Mewajibkan suami untuk memerintahkan istrinya yang sedang hamil agar memeriksakan kondisi kehamilannya pada tenaga medis, baik di Posyandu, Puskesdes, Puskesmas, atau bidan. Karena selama ini perempuan hanya disuruh untuk menjaga rumah, pergi ke pasar, memasak, serta menjaga anak-anak. Kepergian perempuan/istri ke tempat lainnya harus sepengetahuan dan seijin dari suami.
  2. Mewajibkan perempuan yang hamil untuk melahirkan di Polindes, Puskesmas, Bidan, atau tenaga medis lainnya. Serta tidak diperkenankan lagi melahirkan di dukun beranak. Hal ini didasari oleh sikap suami yang selalu menyuruh istrinya melahirkan di dukun beranak untuk menghemat biaya yang dikeluarkan. Apabila melahirkan di dukun beranak suami hanya mengeluarkan uang Rp. 2.000,- dan 5kg beras.
  3. Mewajibkan semua warga Desa Mambalan untuk wajib belajar sampai dengan 9 tahun (SD – SMP). Apabila ada warga yang tidak mampu untuk bersekolah maka RT, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala dusun, dan kepala desa wajib menyekolahkan atau mencarikan orang tua asuh bagi anak yang tidak mampu tersebut.

Awig-awig mengenai keamanan, pendidikan, dan kesehatan ini baru berjalan hampir 3 (tiga) tahun. Tapi setidaknya selama 2 (dua) tahun, tidak lagi ditemukan ibu yang meninggal karena harus melahirkan di dukun beranak. Sudah tidak ada lagi anak-anak yang pada jam sekolah terlihat bekerja di sawah atau bermain-main di rumah. Khusus di Desa Mambalan pada tahun 2011, ada 97 orang ibu hamil yang rutin setiap bulannya memeriksakan kondisi kehamilannya pada tenaga medis. Dan 475 anak usia wajib belajar 9 tahun semuanya sudah bersekolah.

Dampaknya, awig-awig ini kemudian menginspirasi desa-desa lain di kecamatan Lombok Barat serta kecamatan lainnya. Salah satunya adalah Desa Gerima Kecamatan Narmada yang juga membuat awig-awig untuk menekan kematian ibu melahirkan dan mengurangi angka putus sekolah.

Semuanya dimulai dari kepedulian Raden Mohamad Rais, Ketua Lembaga Adat Faer Mambalan yang merupakan mitra Jaringan Masyarakat Sipil Lombok Barat yang mendapatkan dukungan dari ACCESS Phase II. Raden Rais keturunan bangsawan Kedatuan Mambalan yang tidak terlena dengan kebangsawanannya tetapi melawan ketidakberdayaan perempuan dan anak-anak dengan kebangsawanannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 17 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 21 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 22 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: