Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Halina Said

Mahasiswa semester akhir yang sibuk skripsi, tapi masih sempet ngompasiana

Qulhu Geni

OPINI | 17 February 2012 | 05:06 Dibaca: 9691   Komentar: 7   0

Pernahkah anda mendengar amalan bacaan “Qulhu Geni”. Saya pernah beberapa kali mendengarnya dari orang orang tua di sekitar kampung. Katanya doa ini sangat ditakuti setan, sehingga sangat ampuh untuk mengusir setan dan ilmu hitam.

Tadi malam, secara langsung saya menyaksikan adegan menangkal santet dengan Qulhu Geni tersebut. Singkat cerita, salah seorang saudara saya menderita penyakit aneh dan tidak terekam secara medis. Awal mulanya, ada cahaya seperti api masuk ke mukanya, lalu ada sesuatu yang bergerak gerak di sekitar kepala, lalu menjalar ke pundak dan katanya itu rasanya sakit sekali. Jelas sudah bahwa sakit yang seperti itu perbuatan setan. Ada orang yang mengirim penyakit itu dan lazimnya kita sebut itu santet.

Kebetulan yang menderita sakit itu saudara saya dan juga tetangga yang berjarak satu rumah dari rumah kami. Sejak kejadian itu, keluarga kami agar geger, walau berusaha tetap tenang. Saudara saya yang lain marah marah dan mengancam akan mengirim santet balik. (entah mau dikirim kemana, wong yang nyantet siapa juga tidak tahu). Dan dengan tegas pula saya peringatkan untuk tidak membalas syirik dengan syirik. Itu artinya kita sama buruk dan sama berdosanya dengan yang mengirim santet.

Tadi malam itu tiba tiba, tetangga yang juga sakit itu datang ke rumah dan berkata, di rumahnya ada kerabatnya (orang pintar) yang sedang melawan ilmu santet itu dengan wirid, yang katanya menyebut nama Allah dan meminta bantuanNYA. Kami tidak boleh tidur, karena saat itu si dukun sedang mengirim santet itu. Saudara saya itu diberi air putih yang sudai didoakan dan diperintahkan membaca beberapa bacaan seperti an-nas, tahmid, takbir, dan yang lain saya lupa disuruh apa lagi.  Jujur saya merinding, seumur hidup belum pernah bertemu dengan klenik semacam ini. Iseng saya lihat kalender, 16 Februari 2012, kamis kliwon alias malam jumat kliwon. Lhaa, saya tambah merinding. Tapi yang namanya saya, merinding sekalipun, tetap saja ketiduran sampai pagi.

Subuh, Pukul 5, tetangga kami itu mendobrak pintu rumah kami lagi. Katanya, si dukun itu mengirim santet saat itu. Itu bisa saya terima , karena dalam buku buku agama, katanya setan dan iblis keluar saat terbit dan tenggelam matahari, juga saat matahari berada pas dipuncaknya. Saudara kami diminta membaca beberapa bacaan bacaan yang asing ditelinga saya. Yang masih teringat jelas cuma bacaan QULHU GENI. Yang kira kira begini :


Bismillahirrahmanirrahim qulhuwa geni bismillahirrahmanirrahim qulhuwallahu ahad kun fayakun masyaa Allah qadiran abadan abada


Nah, bagian yang ini saya sulit menerima. Bacaan apa itu? Kenapa Surat Qulhuwalluhu ahad dicampuri dengan kata geni yang artinya api. Siapa yang mengajarkan? Saya tak pernah membacanya dalam riwayat manapun. Lantas kenapa katanya bisa melawan setan? Malah yang pernah saya dengar, bacaan Quran yang diselewengkan bisa mendatangkan setan.

Dalam hal ini saya tidak bisa berbuat banyak. Suara saya yang satu kalah dengan suara banyak orang dan rasa sakit saudara saya tadi. Jauh jauh hari saya sudah katakan untuk tidak ikut ikutan terlibat dengan dukun dan orang pintar. Tapi kenyataannya, si kerabat yang jago wirid itu menggunakan bacaan bacaan Quran yang sekilas terlihat islami sekali. Terlebih dibarengi pula dengan bacaan bacaan lain seperti syahadat, istighfar dan hamdallah. Tapi menurut saya, bagaimanapun juga Qulhu Geni tidak pernah diajarkan oleh dalam Quran, tidak pernah ada dalam hadis nabi, dan tidak pernah pula dilakukan oleh para sahabat Nabi. Lantas apa bedanya dengan kita pergi ke dukun asli dan meminta bantuan untuk memusnahkan santet itu?

Dalam hal klenik mungkin kita tidak bisa logis, dalam hal agama pun kita tidak bisa rasional, tapi ini klenik dan dicampur dengan agama yang belum diterima pikiran dan hati saya. Entah dari mana mulanya, entah siapa yang menciptakan adat seperti ini. Tapi bertolak dari apakah Qulhu Geni itu bisa dibenarkan atau tidak, kenyataannya saudara saya mengaku keadaannya sudah membaik. Tiba tiba sembuh begitu saja.

Saya menelan ludah saja, tak paham dengan apa ini sebenarnya. Mungkin ada yang bisa bantu menjelaskannya kepada saya?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 13 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 15 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 17 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: