Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Abu Tholib

Wong Banyumas asli yang demi sesuap nasi (pernah) merantau ke Banda Aceh 1996-2000, ke Tebing selengkapnya

Pengalaman: Mengurus Mutasi Masuk Roda Dua di Samsat Wangon, Banyumas

OPINI | 07 December 2011 | 09:58 Dibaca: 1229   Komentar: 5   0

Saya mau sharing pengalaman saja saat mengurus mutasi masuk kendaraan saya di Samsat Wangon, Banyumas beberapa waktu yang lalu. Kendaraan roda dua saya berasal dari Kalimantan Timur dan mau dimutasi ke Banyumas sesuai home base saya.

Pada tanggal 24 September 2011, saya memasukkan berkas mutasi masuk kendaraan roda dua di Samsat Wangon. Kendaraan roda dua saya sebelumnya berletter KT (terdaftar di Samsat Balikpapan, Kalimantan Timur). Mengenai pengalaman proses cabut berkas kendaraan saya di Samsat Balikpapan dapat dilihat di tulisan saya di sini. Dalam tulisan tersebut pada intinya saya merasa puas akan pelayanan yang prosedural (termasuk biayanya) yang diberikan oleh Samsat Balikpapan.

Bagaimana proses dan pelayanan mutasi kendaraan di Samsat Wangon?

Dari sisi lamanya proses, menurut saya sudah cukup baik (dokumen diserahkan kira-kira jam 10 dan selesai jam 12). Dalam tempo lebih kurang dua jam, proses selesai hingga saya menerima plat baru dengan nomor polisi berawalan R (wilayah Banyumas).

Dari sisi biaya, ada biaya yang membuat saya bersitegang dengan petugas di sana. Yaitu biaya cek fisik sebesar Rp 30.000 per kendaraan roda dua. Kenapa saya bersitegang? Karena pertama, biaya cek fisik tidak diinformasikan/ditempel secara resmi (di perda, ada atau tidak biaya cek fisik?). Kedua, saat cek fisik di Balikpapan tidak ada biayanya. Ketiga, tidak ada kuitansi dari pembayaran tersebut. Akhirnya dengan terpaksa saya bayar biaya cek fisik sebesar Rp 30.000 per kendaraan. Sedangkan biaya lain di luar biaya cek fisik besarnya sesuai dengan ketentuan alias tidak ada pungli.

Bagaimana sikap petugas di front office?

Ini yang masih perlu diperbaiki. Selama kira-kira dua jam saya di situ hampir tidak ada petugas yang melayani para wajib pajak dengan senyum ramah. Entah kenapa. Ekspresi wajahnya menunjukkan kurang simpatik. Padahal seharusnya para petugas melayani para wajib pajak dengan penuh keramahan karena mereka digaji dari uang yang dibayarkan oleh para wajib pajak tersebut.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membatik di Atas Kue Bolu bersama Chef Helen …

Eariyanti | | 02 October 2014 | 21:38

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Lidia Putri | | 02 October 2014 | 18:06

Nasib PNPM Mandiri di Pemerintahan Jokowi …

Ali Yasin | | 02 October 2014 | 10:05

Teror Annabelle, Tak Sehoror The Conjuring …

Sahroha Lumbanraja | | 02 October 2014 | 16:18

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Emak-emak Indonesia yang Salah Kaprah! …

Seneng Utami | 8 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Dahsyatnya Ceu Popong! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-gara Incest di Jerman, Nginap di Hotel …

Gaganawati | 7 jam lalu

Usul Gw kepada Anggota Dewan …

Bhre | 7 jam lalu

PKC # 3: Kekasih Baru …

Ervipi | 7 jam lalu

Ini Baru #Shame On You# Jika PSC Off Ticket …

Aprindah Jh | 8 jam lalu

Negeriku Tercabik …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: