Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mujahid Zulfadli

masih terus berupaya men-"jadi" Indonesia

I La Galigo: Aseli Indonesia

OPINI | 10 May 2011 | 17:56 Dibaca: 1189   Komentar: 2   0

Hampir setiap hari ketika di rumah, saya melihat dan membaca tulisan ‘I La Galigo’ di rak terdepan lemari buku yang sudah berusia duapuluhan tahun. Buku tersebut memang sengaja diletakkan di bagian paling depan. Entah mengapa. Semua tumpukan buku tersebut adalah peninggalan ayah yang dahulunya merupakan tenaga pengajar di Jurusan Sejarah Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial-sekarang Fakultas Ilmu Sosial-salah satu universitas negeri di Makassar. Sehingga, penyebutan nama I La Galigo menjadi sangat familiar di telinga masyarakat Makassar Sulawesi Selatan, khususnya saya sendiri. Selain itu, La Galigo sendiri merupakan nama salah satu ruas jalan protokol dan Museum di kota Makassar. Jadi setidaknya saya mulai bespekulasi bahwa pastilah I La Galigo orang terkenal di zamannya. Dan, memang ternyata melebihi perkiraan saya. Setidaknya pementasan internasional I La Galigo pada tanggal 23-24 April 2011 di Benteng Fort Rotterdam Makassar membuat kami boleh bangga sebagai orang Sulawesi Selatan.

Pementasan bertajuk teater kontemporer tersebut mengambil episode klasik percintaan di mana Pangeran Sawerigading jatuh cinta dengan saudara kembarnya yang cantik bernama We Tenriabeng. Mereka terpisah sejak terlahir ke dunia dan sudah diprediksikan akan bertemu dan saling jatuh cinta. Akhirnya entah bagaimana nasib mempertemukan mereka kemudian saling jatuh cinta. Untuk menghindari perkawinan sedarah, Sawerigading dipaksa menikah dengan wanita lain.

Namun jauh dari romatika dan dinamika kisah percintaan tersebut, Sureq I La Galigo (naskah I La Galigo) sendiri adalah sebuah karya sastra puisi epik terbesar sepanjang sejarah sastra dunia. Epik “I La Galigo” bercerita tentang para dewa yang datang ke Luwu di Sulawesi Selatan dan membangun sebuah kerajaan. Para keturunan kerajaan dan bangsawan bugis lainnya menuturkan bahwa kisah I La Galigo sering diceritakan semasa kecil sebagai pengantar sebelum tidur yang di dalamnya memuat filosofi dan keseluruhan sistem hidup Suku Bugis di Indonesia. Hal itu diteruskan dari kebiasaan nenek moyang orang Bugis sebagai internalisasi nilai-nilai hidup yang mesti dilestarikan sepanjang masa. Karya ini ditulis dalam deretan kata-kata puitis di daun lontar dalam bahasa Bugis kuno, ditulis abad ke 13-15 M. “I La Galigo” yang asli memiliki 300.000 baris dalam 6.000 halaman. Sebagai perbandingan, “I La Galigo” lebih panjang dan lebih tebal dari karya sastra klasik Homer Iliad dan Odyssey yang terdiri dari 16.000 baris, dan epik Mahabharata dari India yang terdiri dari 150.000-200.000 baris.

Kebudayaan Nasional-Branding Internasional

Sepenggalan kisah I La Galigo mampu dikemas secara apik dan menawan oleh Robert Wilson (sutradara), untuk dipentaskan dan diperkenalkan ke seluruh dunia lewat pementasan yang sangat mengesankan. Dan yang membanggakan adalah ketika kisah itu telah melawat ke sejumlah negara, akhirnya kita bisa menyaksikannya di tanah Sulawesi Selatan sendiri, di Makassar. Ratusan bahkan sekitar seribuan orang hadir dari sejumlah kota di Indonesia hanya untuk menyaksikan pementasan tersebut selama dua hari di Benteng Fort Rotterdam Makassar termasuk Riri Riza, sutradara film berdarah Makassar.

Sulawesi Selatan khususnya dan Indonesia umumnya, menjadi lebih dikenal di luar negeri sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan yang besar. Pementasan I La Galigo sudah menyambangi panggung-panggung internasional sejak tahun 2004 silam di Asia, Eropa, Australia, serta Amerika Serikat. Di antaranya Esplanade, Singapura; Lincoln Center Festival di New York; Het Muziektheatre Amsterdam; Forum Universal de la Cultures Barcelona, Les Nuit de Fourviere Rhone-Perancis; Ravenna Festival di Ravenna dan Milan Italia, serta masih banyak lagi. Para aktor melakukan gerakan pantomim yang dramatis di atas pangung. Ceritanya diiringi oleh campuran musik Bugis, Jawa, dan Bali yang digubah oleh Rahayu Supanggah. Munculnya karya teater besar ini di Indonesia atas prakarsa pengusaha Tanri Abeng yang berasal dari Sulawesi Selatan, Yayasan Bali Parnati, Pemerintah Kota Makassar, dan tim seni pertunjukan dari Italia. Para pemain juga mencakup sekitar 100 seniman Sulawesi Selatan yang berlangsung selama dua setengah jam.

Beberapa adegan spektakuler yang ditonjolkan adalah bayangan pemain dengan background warana warna cerah yang selalu berubah ubah serta unsur unsur tari tarian yang ditampilkan. Penggambaran sosok melalui kostum tradisional serta asesoris panggung lainnya seperti orang yang dikerek seperti dalam sangkar yang digambarkan berjenggot sebagai  Batara Guru. Tangga yang tinggi dimana orang turun secara terbalik, adegan orang masuk ke bawah panggung, pepohonan, serta ilustrasi berbagai macam binatang seperti monyet, kucing , burung dan sebagainya.

Daya tarik utama I La Galigo sebetulnya terletak dari berbagai aspek yaitu sebagai pertunjukan teater kontemporer yang akarnya tentu saja mengambil unsur budaya bangsa Indonesia sendiri namun dipadu dengan permainan lighting dan soundsystem yang canggih. Background lampu warna warni serta adegan seperti halnya sendratari (seni drama dan tari) yang dipadu dengan musik tradisional dan lagu-lagu tradisional Bugis tentu saja sangat memukau khususnya penikmat seni.

Keberadaan Sureq La Galigo

Misteri tetaplah akan menjadi misteri. Legenda masyarakat Bugis yang telah tercipta dan tertuang dalam naskah kuno tersebut belum diketahui kelanjutannya. Manuskrip tersebut tidak dalam kondisi utuh namun tersebar di sejumlah tempat di seluruh dunia, dan bukan pula naskah asli melainkan proses penyalinan. Keberadaan Sureq La Galigo di Makassar bisa diketemukan di Museum La Galigo, juga di Perpustakaan Leiden Belanda, di Malasyia, dan tentu saja di keluarga masyarakat Bugis yang masih melestarikannya dengan bekerjasama dengan para peneliti Sureq La Galigo. Sehingga bukan kebetulan jika kelanjutan cerita itu tidak kita ketahui rimbanya. Kitapun tidak ingin pementasan teater kontemporer dunia ‘I La Galigo’ yang aseli Indonesia hanya menjadi santapan seni berkelas tanpa tidak kita ketahui nilai-nilai dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Sumber:

1. http://sondez.multiply.com/journal/item/37/Pertunjukan_Spektakuler_Indonesia_I_La_Galigo_di_Milan?&item_id=37&view:replies=reverse

2. http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/28/mengenal-epos-terpanjang-dunia-i-la-galigo-bugis-makassar-part-i/

3. http://www.indonesia.travel/id/news/detail/313/i-la-galigo-comes-home-performs-in-makassar

Foto: Liranews.com

Tags: telkomsel

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 4 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 7 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 9 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: