Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Arief Setiawan

pecinta kegilaan http://arieflmj.wordpress.com/

Ganjuran: Matrilinealisme a la Jawa

REP | 21 January 2011 | 21:37 Dibaca: 69   Komentar: 0   0

Malam nan wingit menyelimuti sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Deru kendaraan yang melintasi jalan nyaris tak terdengar sama sekali. Hanya iringan orkestra alam menghiasi sunyinya malam. Suara jangkrik, kodok, cenggeret, serta hewan malam lainnya yang terdengar nyaring bersahut-sahutan. Membentuk alunan nada tersendiri yang tak kalah dengan karya besar Beethoven atau Mozart. Memecah malam sunyi ditengah belukar hutan jati dengan tanah kapur keringnya. Malam yang sederhana sekali.

Ditengah kampung yang jauh dari keramaian ada pemandangan tersendiri di salah satu rumah warga. Sebuah ritual yang cukup langka untuk ukuran Jawa. Rituan yang jauh dari budaya jawa meski secara geografis berada didalamnya. Di Dusun Toan, Kedungpring, Lamongan, Jawa Timur. Sebuah ritual suci sedang dilaksanakan. Ritual yang nantinya akaan menyatukan dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara. Tak hendak untuk diulang di kemudian hari kecuali memang bukan jodohnya. Pertunangan.

Ini bukan pertunangan biasa. Bagi ku yang selama ini hidup ditengah budaya Jawa yang patrilineal terlihat sangat aneh. Di luar kebiasaan yang terjadi dan ini sebuah kenyataan. Memang, kejadian ini bukanlah barang baru bagiku karena sebelumnya sering mendengarnya, tapi tak pernah melihatnya secara langsung. Namun, malam itu benar-benar nyata dan ada di depan mata. Sebuah khasanah tersendiri yang samapi sekarang sulit sekali untuk dilupakan.

Sebuah “pentas” budaya sedang diperagakan dengan agung. Beragam makanan khas desa terhampar sepanjang mata memandang di dalam rumah sang empunya. Pertunangan sedang dilakukan dengan isi pembicaraan mengenai masa depan anak-anak mereka yang sudah matang itu. Uniknya, pelamar dalam prosesi itu bukanlah pihak keluarga laki-laki, tapi sebaliknya. Keluarga perempuan didapuk sebagai pihak pelamar, bukan dari laki-laki seperti yang biasa terjadi.

Masyarakat setempat menamai prosesi ini “ganjuran”. Pihak laki-laki yang menerima pinangan ini sedang “diganjur.” “Diganjur” oleh keluarga mempelai perempuan dengan sejumlah barang bawaan khusus tiada duanya. Angkreman pithik. Kala ganjuran dilaksanakan, seorang tetua desa menjadi “fasilitator” pihak kedua mempelai dalam menentukan hari baik untuk pernikahan. Menelisik weton kedua mempelai dengan cara Jawa agar nantinya dapat langgeng dan sejahtera.

Serangkaian prosesi tersebut ada satu yang menarik. Apalagi kalau bukan barang bawaan pihak mempelai perempuan kepada keluarga laki-laki, angkreman pithik. Didalamnya berisi macam-macam jenis makanan. Telur rebus 20 biji, sebuah ayam potong utuh, dan mie, serta nasi. Disamping itu, juga terdpat empat jenis jajanan yang masing-masing berjumlah 100 biji. Sungguh menakjubkan melihat kekayaan budaya ini. Sangat unik ditengah kuatnya budaya patrilineal khas jawa yang kadangkala sangat mencengkeram hingga ke ulu hati.

Tak hanya itu saja. Segantang rawon, opor ayam, serta beberapa jenis lainnya diserahkan. Anehnya, paket ini (plus angkreman pithik) juga harus diserahkan kepada pihak paman dan bibi dari keluarga bapak serta ibu sang mempelai laki-laki. Malam itu juga, makanan “ganjuran” itu diahantarkan ke rumah paman dan bibi, berharap restu bila kelak berlanjut ke pernikahan. Bayangkan bila dari keluarga ayah mempelai laki-laki punya enam saudar, berarti semuanya harus mendapatkan “bingkisan” serupa. Begitu pula dari pihak ibu, juga mendapatkan “bingkisan” yang sama.

“Dulu, ambengannya (bingkisannya) diantar dengan cara dipikul dan diterangi nyala api dari obor,” tutur salah seorang warga asli.

Namun, seiring perkembangan zamaan, tata cara seperti ini mendapatkan tantangan tersendiri, terutama dari generasi muda. Mereka banyak yang enggan melakukannya meski sang calon berasal dari kabupaten yang sama. Mereka cenderung melaksanakan pertunangannya dengan cara lazim a la jawa pada umumnya. Pihak laki-laki berperan sebagai pelamar, bukan kebalikannya. Budaya seperti ini, secara ekonomi, memang cukup memberatkan ditengah keluarga petani yang lahannya bertanah kapur.

“Aku besok kalau menikah ga mau dengan cara ganjuran meski calonku berasal dari Lamongan. Nanti, aku dan keluargalah yang akan melamaar si gadis pujaan hatiku,” papar seorang kawan yang asli dari kampung itu.

Kemudian malam itu pun semakin larut saja. tak ada tanda-tanda aktivitas manusia yang berarti. Malam itu pun menenggelamkan dirinya ke dalam setiap manusia yang dilingkupinya. Malam wingit dengan sejuta sepi dan sunyi. Penduduknya sudah dibuai malam setelah seharian penuh berpanas-panas di sawah memeras keringat. Menyimpan tenaga untuk besok. Begitu fajar menyingsing, cangkul dan sabit sudah siap menanti. Sawah sudah siap untuk diolah dengan segenap tenaga. Sengatan panas matahari adalah sahabat baik sambil terus berharap hujan turun membasahai bumi.

Dimuat juga di blog pribadi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 15 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 17 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 18 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: