Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nana Podungge

Seorang blogger b2wer teacher

Hermenetik, Teori Interpretasi

OPINI | 18 July 2010 | 13:16 Dibaca: 170   Komentar: 2   1

‘Hermeneutics’ adalah studi teori interpretasi; bisa jadi seni interpretasi maupun praktek interpretasi. Traditional hermeneutics — dimana Biblical hermeneutics termasuk di dalamnya - mengacu ke studi interpretasi teks-teks tertulis, terutama di bidang kesusastraan, agama, dan hukum. Modern hermeneutics melingkupi tidak hanya teks-teks tertulis, namun segala sesuatu yang mengalami proses diinterpretasi. Hal ini termasuk komunikasi verbal dan non verbal. Ketika kita membaca sesuatu, kita akan mendapatkan sebuah interpretasi. Ketika membacanya kembali, akan selalu mungkin terjadi bahwa kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam lagi dimana akhirnya akan membawa kita ke sebuah interpretasi yang jauh lebih menyeluruh. Tatkala kita sampai ke interpretasi yang menyeluruh ini, sangatlah mungkin bahwa hasil interpretasi tersebut dipengaruhi oleh apa yang kita simpan dalam otak maupun memori kita: bacaan-bacaan yang telah kita baca, interpretasi-intepretasi yang kita hasilkan sendiri dari kegiatan membaca atau mengamati segala hal yang terjadi di sekitar kita, pengalaman kita sendiri maupun pengalaman orang lain yang kita dengar atau lihat, dll. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian muncullah pertanyaan: adakah suatu interpretasi yang objektif, lepas dari segala yang telah kita simpan dalam otak maupun memori kita, lepas dari segala indoktrinasi yang telah dia terima sepanjang hidupnya, juga lepas dari segala pengalaman hidupnya. Tentu saja jawabannya adalah TIDAK.

Dalam bidang kesusastraan, teori hermeneutics ini tentu sangat mendukung adanya multi-interpretasi dari sebuah karya sastra. Apalagi dengan sangat luwesnya sebuah karya sastra dianalisis, tergantung teori mana yang kita gunakan, mulai dari teori klasik yang diajukan oleh Aristotle - expressive theory: berdasarkan pemikiran pengarang; pragmatic theory: berdasarkan pemikiran pembaca; mimetic theory: pemikiran bahwa karya sastra merupakan tiruan apa yang terjadi di masyarakat; dan objective theory: teori yang berdasarkan semata-mata pada karya sastra itu sendiri - sampai ke teori-teori sastra yang lebih modern, seperti Historical & Biographical Criticism, New Criticism, Russian Formalism, Structuralism, sampai ke Marxism, Feminism, Reader-Response Theory, Deconstruction, Psychoanalytic Criticism, Postcolonialism, etc. Dengan pemaparan yang sangat kuat, berdasarkan teori yang kita pilih, hampir tidak mustahil kita bisa menghasilkan interpretasi apa pun yang kita ingini. Bahkan, dengan teori The Death of the Author milik Roland Barthes, seorang kritikus sastra bisa menafikan keberadaan seorang pengarang di balik karya sastra yang dihasilkannya. “The essential meaning of a work depends on the impressions of the reader, rather than the “passions” or “tastes” of the writer, “a text’s unity lies not in its origins, or its creator”, but in “its destination” or it audience.”

Dalam ranah spiritualitas, hal ini pun berlaku. ‘Kedewasaan’ spiritualitas seseorang tentu amatlah ditentukan oleh seberapa banyak seseorang membaca, seberapa banyak variasi bahan bacaannya, seberapa banyak seseorang mengalami ‘guncangan-guncangan’ spiritualitas, yang bisa jadi disebabkan oleh pengalaman bergaul dengan orang-orang yang memiliki pengalaman spiritualitas yang berbeda, bahkan mungkin kontradiktif, kesediaan diri untuk membuka otak dan mata hati bahwa tidak ada interpretasi tunggal dalam memahami Kitab Suci, (contoh yang paling ‘mudah’ dalam hal ini misalnya pemahaman seseorang atas ayat ‘lakum dinukum waliyadin’ bisa jadi menghasilkan interpretasi yang berbeda dengan orang lain, yang disebabkan oleh pengalaman spiritualitas yang berbeda). Maka, tidaklah mengherankan jika seorang Amina Wadud berani mengutarakan pendapatnya bahwa seorang perempuan boleh menjadi imam shalat Jumat, meski ditentang oleh banyak ulama; seorang Irshad Manji dengan berani mengaku sebagai seorang lesbian padahal dia adalah seorang Islam scholar; seorantg Siti Musdah Mulia membolehkan seorang perempuan Muslim untuk menikah dengan lelaki non Muslim, dlsb. Pengalaman spiritualitas yang berbeda, didukung dengan teori hermeneutics tatkala menafsirkan suatu ayat sangat memungkinkan hal ini terjadi.
Untuk mengakhiri tulisan ini, yang paling penting adalah menghormati pendapat orang lain, tidak serta merta menghakimi pendapat orang lain salah tanpa berusaha memahami mengapa seseorang berpendapat seperti itu terlebih dahulu, juga tanpa bersifat oppressive terhadap sebuah komunitas yang mungkin merupakan sekelompok minoritas. Mari kita ciptakan dunia yang lebih aman, tentram, dan damai.
Nana Podungge
PT56 21.45 160710

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 3 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: