Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Emilbachtiar

Bukan siapa-siapa

Kekuatan Kesederhanaan

OPINI | 15 July 2010 | 08:40 Dibaca: 163   Komentar: 7   3

Saya disadarkan tentang kekuatan kesederhanaan ketika saya mengantar kepergian seorang kerabat beberapa waktu yang lalu. Almarhumah dikenal sebagai orang yang sederhana, walaupun kemampuan ekonominya cukup tinggi. Selain itu, almarhumah juga dikenal sebagai orang yang penolong. Kata pelepasan yang diberikanpun berulang-ulang menyebutkan almarhumah sebagai seorang yang sederhana dan baik.

Kesederhanaan dan kebaikan ternyata merupakan suatu pasangan. Orang yang sederhana menurut saya adalah orang yang membatasi kegiatan dan konsumsinya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, yaitu makanan, pakaian, rumah, serta kebutuhan dasar lainnya dalam jumlah dan kualitas yang secukupnya dan seadanya. Walaupun memiliki daya beli yang tinggi, baik bersumber dari pekerjaan, warisan ataupun kredit, mereka tidak tergoda untuk memiliki keinginan-keinginan yang tidak dibutuhkan. Keinginan-keinginan ini biasanya bersifat menjebak, yaitu ketika satu keinginan terpuaskan maka akan timbul keinginan baru, begitu seterusnya. Jebakan ini karena perusahaan terus berinovasi menciptakan produk-produk dan jasa baru yang lebih baik dan lebih menarik.

Dengan gaya hidup seperti ini, orang yang sederhana terbebaskan dari obsesi untuk memuaskan keinginan-keinginannya. Mereka juga terbebas dari kesedihan dan ketidakbahagiaan karena keinginan yang belum terpenuhi. Mereka juga terbebas dari jebakan kebahagiaan sesaat, yaitu pada saat satu keinginan terpenuhi, di mana kebahagiaan tersebut langsung hilang pada saat timbul keinginan baru. Mereka juga terbebas dari tuntutan untuk bekerja lebih keras, mengorbankan kosentrasi dan waktu dengan keluarga dan hal-hal lain yang sebetulnya tidak ternilai, demi pemenuhan keinginan-keinginannya. Kesederhanaan memberi kesempatan untuk  memperoleh financial freedom dan menghilangkan ketakutan menjadi miskin, karena pada dasarnya kesederhanaan melepaskan ketergantungan kepada uang.

Orang yang sederhana, dengan kesederhanaannya sebetulnya telah berbuat suatu kebaikan. Dengan mengabaikan keinginannya, orang yang sederhana sudah berkontribusi mengurangi tingkat konsumsi dunia, yang pada saat ini sudah melebihi kemampuan dunia untuk menghasilkannya secara berkelanjutan. Dengan demikian, orang yang sederhana sudah memberikan kontribusi untuk keberlangsungan hidup manusia di dunia ini.

Lebih dari itu, orang yang bergaya hidup sederhana ini juga memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berbuat kebaikan yang lebih besar. Kebaikan ini dapat dilakukan melalui kelebihan uangnya ataupun dari kelebihan waktu dan energi yang dimilikinya.

Suatu survei Gallup yang dirilis pada awal bulan ini menemukan bahwa uang memberikan kepuasan kepada orang, karena dengan uang kita dapat membeli barang dan jasa yang kita inginkan. Namun, survei yang dilakukan terhadap 136 ribu orang dari 132 negara ini tidak menemukan hubungan antara uang dan kebahagiaan. Kebahagiaan, menurut survei ini, diperoleh melalui hubungan yang saling mendukung, perasaan yang bebas, dan pekerjaan yang memberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Tidakkah kesederhanaan dan kebaikan yang kita lakukan memberikan kesempatan bagi kita untuk memperoleh semuanya itu?

Bagi perusahaan, kesederhanaan adalah mempertahankan perusahaan dalam ukuran yang dapat dikelola, baik dari segi aset dan utang serta sistem dan organisasi. Pimpinan perusahaan selalu berambisi untuk menjadi besar dalam tempo sesingkat-singkatnya, memenangkan persaingan dan mendominasi pelanggan. Untuk itu mereka memerlukan organisasi dan sistem yang kompleks, aset yang bertumpuk dan utang yang besar. Pada akhirnya organisasi mereka menjadi sangat kompleks sehingga tidak terkendali. Enron merupakan satu contoh perusahaan yang tumbuh menjadi besar melalui penciptaan kompleksitas, dari produk yang ditawarkan, transaksi yang dilakukan sampai dengan organisasinya. Mereka tumbuh secara mengesankan dalam waktu kurang dari 10 tahun, dan langsung bangkrut dalam tempo 3 bulan. Pimpinannya mengakui bahwa mereka tidak mampu mengelola perusahaan yang tumbuh menjadi sangat kompleks, yang sebelumnya berhasil menutupi kebobrokan di balik pertumbuhannya.

Perusahaan yang sederhana akan menjadi lebih mudah dimengerti bagi pegawainya. Misi perusahaan dan nilai-nilai yang dimiliki pendirinya dapat lebih mudah ditanamkan kepada seluruh pegawai (bayangkan pada saat ini begitu banyak perusahaan yang bingung mendefinisikan misinya yang kemudian tercermin dari pernyataan misi yang tidak jelas). Kemudahan dimengerti ini memberikan kesempatan pada orang untuk dapat bekerja dan berprestasi.

Organisasi perusahaan yang sederhana juga lebih mudah dikelola dan lebih mudah untuk diawasi. Kesempatan untuk menutup-nutupi dan manipulasi menjadi lebih kecil.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Ogah Ditinggal Relawan …

Nurul | | 23 August 2014 | 17:17

Badan Pegal di Raja Ampat, Sentuh Saja …

Dhanang Dhave | | 23 August 2014 | 12:10

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | | 23 August 2014 | 11:37

“Pah, Sekarang Mamah Lebih Melek Politik …

Djoel | | 23 August 2014 | 18:00

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: