Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Membahagia Kan Orang Tua

ingin membahagiakan Guru, Orang tua,, n ...

Seuntai Mutiara

OPINI | 15 May 2010 | 19:52 Dibaca: 59   Komentar: 0   0

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertemuan saya hari raya ke 4 (kamis,24 September 2009) bermisikan silaturrahmi dan juga mencari keberkahan dari seorang Ulama Sepuh di Kec Meurah Dua. Kesederhanaan beliau menjadi acuan dalam meniru kebaikan. Gaya beliau menggambarkan diri sebagai orang yang sederhana. Beliau sangat pintar berpidato. Umur beliau amat jauh selisih tetapi kelihatannya beliau masih muda belia. Apalagi di tambahkan dengan sifat mulia yang telah lama tertanam di dalam dada beliau. Guru kami ini sangat aktif di kabilah semasa beliau masih di dayah. Pengalaman selama pulang kampung beliau ceritakan kepada saya. Kehidupan beliau sudah termasuk dalam katagori cukup.

Beliau mengingatkan kepada saya yang terbaik adalah ”beut dan semeubeut” inilah yang perlu di lestarikan di dalam dada. Orang yang berkat menurut beliau adalah yang mengamalkan ilmu agama yang di dapatkan selama ”jak beut” di dayah. Selain mengamalkan tentunya juga mengajarkan ilmu kepada orang yang membutuhkan di kampung. Sedangkan bila tidak ada kegiatan menebarkan ilmu (sumeubeut) rasanya kurang lengkap sebuah keberkatan. Bekerja boleh di mana saja tapi agama menjadi motifasi kedepan yang harus di pertahankan. Karena dengan agama bangkitnya sebuah negeri. Dengan agama kecamatan akan makmur sentausa dan dengan agama kabupaten akan menjadi kota yang ”Baldatun taibatun wa rabbul ghafur.”

Ketika udara sore berhembus dari arah belakang balai menyapa kami. Beliau mengatakan betapa pentingnya menulis di kalangan orang dayah. Menuliskan ilmu agama yang sesuai dengan i’tikad Ahlussunnah Wal jamaah dan juga bermazhabkan syafiiyah rasanya sudah menjadi kewajiban.

Wah, ketika mengatakan masalah penulisan saya menjadi sedikit ter_conex dengan apa yang beliau katakan. Ketika saya menanyakan kenapa Tgk menyinggung masalah menulis. Ternyata itu hanya keluar dari ide beliau yang terpendam. Menulis bagi beliau sangat penting apalagi banyak sekarang ini beredar buku-buku yang beraliran sesat, Maka untuk membendungnya di butuhkan tulisan yang setara kualitasnya. Karena kalau buku banyak orang yang membacanya sedangkan kalau kitab tidak banyak orang yang bisa membacanya. Ungkap guru senior ini.

Tgk juga menambahkan tentang penulisan yang di kirimkan di koran. Penting sekali tulisan kita bisa di baca oleh masyarakat banyak. Karena menurut beliau banyak orang yang membaca koran opini. Maka surah kitab perlu di jabarkan dalam konteks islami dan juga membawa keuntungan diniah di media massa. Berdakwah lewat tulisan sekarang ini perlu di bangkitkan lagi. Semangatkan hidupmu dengan menyebarkan ilmu agama.

Tanpa saya tidak menduga hari ini mendapatkan sebuah nasehat yang begitu berarti dari diri Ulama Muda. Inilah fungsinya mengunjungi orang alim. Nasehat agama kita dapatkan dari orang yang tahu agama. Wawasan beliau sangat luas. Dengan masyarakat harus pandai memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak boleh di laksanakan.

Bagi beliau yang telah kenyang dengan pengalaman dan ilmu agama masalah kehidupan harus di hadapi dengan lemah lembut. Pengalaman sudah menjadi makanan tiap hari. Dengan pengalaman di dayah guru kami ini mampu beradaptasi dengan masyarakat di kampung.. Kemerdekaan itu tidak hanya bisa menjalankan sebuah kebajikan tetapi kemerdekaan itu adalah kenyamanan dalam menjalani hidup kita di kampung. Ungkap Al-Mukarram Tgk di Merah Dua.

Beliau dalam mengembangkan balai pengajian Irsyadul Ulum hanya akan membangun bilik di samping selama lima buah kemudian di tambah dengan balai satu lagi. Hanya itu cita-cita beliau, membangun islam dari nuansa kecil yang islami. Namun ketika saya tambahkan dengan, ”seandainya berpindah MUDI mesra ke sini, Tgk?” Beliaupun memberikan tanggapan itu sebuah hal yang sangat ”impossible”. Jauh dari kemungkinan. Jawab beliau di sertai dengan senyuman Ala Rasul.

”Cara belajar santri aktif” perlu digalakkan dan dikembangkan. Ini merupakan kunci keberhasilan seorang santri. Akan lebih berguna bila di dayah mempergunakan waktu kepada menuntut dan beramal yang sempurna tanpa tersisa sedikitpun. Waktu itu ternyata telah membuat kenyang Ulama muda ini dalam mengukir amalan. Beliau telah mengalahkan waktu yang berjalan sehingga separuh dari umur, beliau pergunakan dalam menuntut dan menjadi pengajar ilmu.

Dalam perjumpaan hari raya ini, di ceritakan juga bagaimana aceh sekarang ini. Beliau mengutip kata Tu di Jinieb yang mengatakan : ”Rusaknya Aceh sekarang ini karena orang-orang pintar dan universitas ikut bertanggung jawab.” orang pintar yang mana? Orang yang tidak bermoral. Tidak mengetahui hukum agama. Berbuat hanya untuk keuntungan pribadi tanpa peduli bermamfaat atau tidak pada sebuah proyek yang di tanganinya.

Inilah nasehat singkat bila kita bersilaturrahmi ke tempat Ulama. Sebagai orang yang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Beliau arahkan generasi muda untuk mengetahui mana yang benar dan menjauhkan mana yang menentang dengan hukum Allah.

Wallahu a’lam bissawab.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 3 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 3 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 5 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 7 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 7 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Ratapan Bunga Ilalang …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Mulut, Mata, Telinga dan Manusia …

Muhamad Rifki Maula... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: