Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Median Editya

penyuka beladiri dan sastra. calon guru teknik yang dicemplungin NASIB ke dunia perbankan..well, life always selengkapnya

Bangsa Indonesia = Bangsa Sparta???

OPINI | 11 May 2010 | 04:39 Dibaca: 456   Komentar: 1   0

Seperti biasa malam ini saya lagi pusing. Pusing karena segala macam terlintas di otak ini. Mengingatkan saya akan banyak hal. Banyak cerita. Banyak kegiatan. Banyak hal ganjil yang menjadi pikiran. Sekarang pun sya jadi teringat pernah membaca kisah kepahlawanan bangsa sparta. Bangsa yang katanya benar-benar menerapkan hukum “besi” dalam setiap sendinya. Bangsa yang gagah berani. Bangsa yang jujur tidak takut akan mati. Bagi bangsa sparta kematian itu tidaklah harus ditakuti, kalau perlu didatangi oleh peperangan itu sendiri. Hollywood bahkan berhasil menggambarkan tentang ini dalam film mereka yang berjudul “300”. Film favorit sya yang saya masukkan kedalam kategori film yang teramat bagus.

Yah bangsa sparta itu cerita tentang bangsa yang ada pada zaman dahulu. Bangsa dimana belum ada yang namanya hak asasi. Belum ada juga teknologi tinggi. Tetapi berkat kemampuan mereka, berkat heroisme mereka maka ribuan tahun kemudian bahkan cerita bangsanya tetap hidup. Masuk dalam kurikulum sejarah di sekolahan. Mampu menginspirasi para sineas internasional untuk mengabadikan. Bangsa yang hebat kawan. Suka berperang, benar-benar menjunjung tinggi martabat dan tidak pernah takut akan kematian.

Sya tercenung dengan ingatan sya. Membandingkannya dengan beberapa kejadian sederhana dalam hidup sya. Dan aneh bin ajaib tiba-tiba sya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya karena beberapa hal saya yakin bangsa indonesia kemungkinan besar punya garis keturunan bangsa sparta. Utamanya dalam hal suka berperang, tidak takut mati dan menjunjung tinggi martabat harga diri. Loh??? kok sya bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Gampang kawan, lihat saja keseharian hidup bangsa indonesia. Hal-hal sederhana yang dilakukan kebanyakan orang indonesia pada umumnya. Hal-hal yang sya yakin kita semua pernah melakukannya (tentu dalam versi yang berbeda-beda).

Tidak percaya? Haha, mari kawan. Mari aku perlihatkan sedikit fakta kepadamu. Bangsa sparta suka berperang? Sama bangsa kita juga sangat senang “berperang”. Lihatlah ratusan kali (mungkin ribuan kali malah) kasus tawuran. Mau itu antar sekolah, antar desa, antar daerah. Pasti saja ada “perang” dinegeri ini. Contoh paling besar ya Aceh sana. Bagaimana “perang” merajalela disana bahkan setelah tsunami melanda. Kata berita sih memang sudah damai, tapi tetap saja ada pertikaian kecil disana. Kontak senjata masih sering terjadi walau kecil skalanya.

Bahkan hampir disetiap daerah ada “peperangan” mereka sendiri-sendiri. Macam-macam bentuknya, entah gangster, entah premanisme, entah tawuran biasa. Alasannya pun rupa-rupa bentuknya. Perkara ngapel kemaleman akhirnya digebukin warga desa sudah lumrah. Perkara isu ada yang dipukul (entah siapa pula orgnya) sudah langsung menyiapkan senjata. Atau cuma karena melihat pacar orang saja ujung-ujungnya berantem juga. Ah biasa kawan, hampir tiap hari kita bisa lihat di koran-koran. Kurang lebih sama bukan dengan tabiat bangsa sparta yang suka berperang? Bahkan kita lebih hebat karena memulainya cukup dengan alasan sederhana.

Sifat bangsa sparta tidak takut mati. Sama kawan dengan bangsa kita ini. Masih tidak percaya? Cobalah sekali saja engkau melongok sedikit bagaimana keadaan KA ekonomi di indonesia? Beuh, sumpah disana bisa kita lihat para “ksatria-ksatria” yang tidak pernah takut akan mati. Jerih untuk mati pun tidak dirasa lagi. Bermain dengan nyawa seakan itu cuma mainan anak kecil saja. Berdiri depan pintu masuk saat kereta berjalan dengan kecepatan 100km lebih perjam itu biasa. Gelantungan di atas atap kereta apalagi. Perkara kepentok tiang, kesamber kabel listrik, atau malah terjun bebas dari sana juga gak pernah dipikirkan oleh mereka.

Sya pernah bertanya sama seseorang yang sering seperti itu. Sya tanya “emang gk ngeri apa duduk di atap kereta????”. Dan jawabannya simpel saja “ah, daripada didalam gerbong kotor bau pesing sesak dengan orang itu mending duduk diatap bro. Santai aja, perkara ngeri mati atau gk ya ada juga sedikit. Tapi klo tuhan belom ngijinin mati mah gk bakal mati, jadi percya aja gua mah. Lagian lumayan bisa hemat uang kan gk bakal ditagih kondektur kalau diatap…”

Jujur, mendengar jawaban dia sya cuma bisa geleng-geleng kepala tidak percya. Tidak percya bahwa nyawa “dipermainkan” cuma untuk hemat beberapa ribu saja. Mengucapkannya dengan keyakinan penuh plus bercanda pula. Hebat bukan orang-orang bangsa kita?

Terus coba kau lihat sekali-sekali kendaraan di jalanan. Lihatlah pengendaranya. Pengendara sepeda motor apalagi. Tak pake jaket gk masalah. Pake helm abal-abal asal tutup kepala sudah biasa. Ngebut selap-selip tanpa peduli tikungan atau rem gak ada apalagi, ah semuanya sudah biasa. Sya bingung juga bagaimana orang-orang seperti itu berkendara seakan-akan siap menggantung nyawanya. Sya bahkan pernah bertemu bapak-bapak naik motor, bawa barang-barang yang sangat banyak, cuma pake helm cetok, gk pake jaket, bersendal jepit, hebatnya lagi naik motornya sambil smsan. Jelas-jelas jalanan lagi ramai tidak dia pedulikan. Pengendara mobil pun begitu juga adatnya. Tak heran kalau angka kematian dijalanan indonesia bahkan melebihi angka kematian akibat peperangan.

Dan lagi-lagi saya saya geleng-geleng tidak percaya. Bagaimana orang-orang bangsa kita berkendara seakan-akan siap untuk menjemput kehilangan nyawa. Bahkan gak pernah sadar akan bahayanya atau melakukan tindakan untuk meminimalkan resikonya. Lagi-lagi saya berkata, hebat bukan orang-orang bangsa kita?

Lihat pula pekerja bangunan yang bekerja tidap pernah dengan peralatan yang memadai. Memanjat tiang tinggi puluhan kaki cukup dengan kaitan seutas tali. atau bagaimana orang-orang bangsa ini menyepelekan sakit yang mereka derita. Mau flu, demam, meriang, sesak, maag, atau sakit apapun sering kali hanya didiemin. Paling banter malah cukup pake obat warung saja. Tidak pernah memikirkan untuk menjaga kesehatannya. Check up? Bah, malas kawan. Gak ada waktu orang-orang kita untuk check up gak guna. Bandingkan dengan orang-orang bangsa lain yang cuma bersin saja bisa langsung ke dokter untuk periksa kesehatan.

Yang saya herankan, kalau itu dilakukan orang-orang kurang mampu saya angkat tangan kawan, wajar saja soalnya. Makan saja mereka gak punya uang, apalagi buat berobat. Tapi kalau hal itu dilakukan oleh orang-orang yang cukup “berada” cuma dengan alesan malas???? sya cuma bisa (lagi dan lagi) geleng-geleng kepala. Melihat bagaimana teman sya yang punya motor tiga ber-atm dua (milik pribadi semua) akhirnya menderita maag super kronis cuma karena malas makan awalnya. Melihat bagaimana teman sya akhirnya harus kehilangan satu kakinya hanya karena awalnya tidak menghiraukan rasa nyeri pada tempurung lututnya.

Jadi tidak salah bukan saat saya bilang bangsa ini terdiri dari orang-orang yang tidak takut mati? Atau mungkin malah lebih tepatnya sama sekali tidak mempedulikan resiko mati? Ah sya rasa bangsa sparta kalah dalam hal ini.

Bangsa ini juga bangsa yang sangat bermartabat kawan. Sama kayak bangsa sparta yang rela mati demi martabat bangsanya. Lihatlah bangsa kita yang sangat marah saat ada yang mengklaim “kepunyaan” kita. Bagaimana orang-orang bangsa kita bagaikan singa kehilangan anak saat beberapa budaya mereka diklaim negara lain. Batik saja kita ambil contoh, bagaimana bangsa kita langsung sibuk berpakaian batik saat akhirnya mendapatkan pengakuan dunia yang didamba. Anak muda pun latah pake batik kemana-mana. Tpi sekarang? Haha.. tak tahulah saya mereka pada kemana.

Walau sya agak heran kawan. Dulu sewaktu tidak ada klaim-klaim itu apa ada yang sempat memikirkan nasib gamelan? Nasib batik? Nasib tempe? Nasib makanan-makanan khas jajanan pasar? Tidak ada kawan. Yang muda lebih memilih gaul dengan drum atau gitar (mana kepikir nabuh gamelan), orang-orang lebih memilih mengenakan jas daripada batik apabila ada acara gedongan, orang-orang berada lebih suka makan pizza dripada tempe murahan, apalagi jajanan pasar yang terlupakan. Tapi sewaktu klaim itu datang. Saat martabat hak miliknya terusik sedikit saja maka singapun kalah sama garangnya orang-orang bangsa kita. Yang muda menciptakan istilah keren seperti “malingsia”, yang pendekar bersiap-siap untuk jihad ke jiran sana (inget bagaimana para pendekar banten bersiap perang dan mendirikan laskar anti malaysia?), yang tua-tua sibuk bercerita, membahasnya dimana-mana.

Histeria bangsa kita terjadi dimana-mana karena martabat yang seharusnya dimiliki bangsa ini diaku-aku oleh bangsa lain. Menakjubkan bukan? Menakjubkan melihat bagaimana kita sendiri melupakan martabat kita dan marah sedemikian rupa saat ada yang menunjuknya (yang jadi pertanyaan kemaren-kemaren kita kemana???). Kurang lebih dalam hal menjaga martabat pun sya melihat kemiripan bangsa kita dengan bangsa sparta. Benar tidak kawan?

Sya yakin seyakin-yakinnya sya bahwa ada beberapa ratus contoh lainnya. Contoh yang sebenarnya terjadi dan kita alami setiap waktu dalam hidup kita sendiri. Disini saya cuma mengambil contoh-contoh sederhana saja. Contoh-contoh sederhana sehingga saya berani bilang bahwa bangsa kita sebenarnya mirip dengan bangsa sparta (sya sampai berfikir mungkin punya garis keturunan sebangsa malah).

Tapi malam ini dipikir-pikir lagi saya agak bingung juga kawan. Apakah sebenarnya ini benar-benar mirip atau suatu “kebodohan” yang saya mirip-miripkan. Ah mana sya tau, sya sudah terlanjur terpesona dan menikmati contoh-contoh peristiwa “heroisme” lainnya. Gak usah jauh-jauh untuk melihat contohnya. Coba kau lihat lebih teliti dalam kehidupan kita sehari-hari. Pasti ada. Hebat-hebat loh semuanya. Kalau kalian sadar kalian bisa saja mendapatkan efek berantai yang menakjubkan. Ada perasaan kagum, bertanya-tanya (kok bisa yah?), heran, bahkan ada beberapa hal yang membuat sya tertawa karenanya.

Bangsa kita yang “hebat”, kamu “hebat’, mereka “hebat”, masyarakat lainnya pun sungguh-sungguh “hebat”, bahkan saya pun masuk dalam golongan “hebat” (karena suka atau tidak saya sering melakukan hal-hal seperti itu tanpa sya sadari). Jadi bangsa kita = bangsa sparta???? wuah sya yakin kayaknya kita malah berada beberapa level “diatas” bangsa sparta. Setujukah kawan akan hal ini???? mari kita coba renungi dan sedikit saja pahami. Ah malam yang melelahkan (padahal sya cuma memikirkan yang bukan-bukan). Tidur saja ah. Besok-besok sya lagi-lagi harus siap dengan berbagai “kejadian” hebat nan menakjubkan.. Nite ^_^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: