Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Charol Linda

Lahir dan besar di Belitong, kuliah dan bekerja di Jakarta dan sekarang sedang terus berjuang selengkapnya

Pizza Hut

OPINI | 10 May 2010 | 04:06 Dibaca: 1033   Komentar: 0   1

Setelah lelah berkeliling di ITC  buat mencari gorden, Sabtu kemarin (8/6/10), saya dan Dodo memutuskan untuk rehat dan makan siang di Hoka-Hoka Bento. Namun niat makan di Hokben jadi berubah setelah melihat Pizza Hut, dan dia menyadari kalo saya sudah lama ingin mencicipi spaghetti meatballnya Pizza Hut.

Pizza Hut ITC hari itu tidak begitu ramai dan kami tidak perlu menunggu lama untuk dipersilakan masuk oleh waitressnya. Sebelumnya si waitress meminta maaf karena tidak ada lagi meja untuk 2 orang yang tersisa, jadi kami hanya bisa menempati meja yang sebenarnya untuk kapasitas 4 orang.

Segera waiter menyodorkan buku menu di hadapan kami dengan bahasa persilaan yang sudah pakem D , dia mempersilakan kami memesan menu. Seperti yang sudah saya idamkan sebelumnya, saya memesan meatball spaghetti (atau spaghetti meatball ? lupa nama benernya P ) dan dodo memesan pizza oriental dengan pinggiran sosis ukuran sedang (lupa lagi namanya apa P ). untuk minumannya kami satu rasa memesan orange juice. Pemesanan ditutup dengan pembacaan ulang menu yang telah dicatat dan kami dipersilakan untuk menunggu selama 17 menit.

Segera setelah memesan menu saya ke toilet yang letaknya masih satu lantai dengan Pizza Hut tapi tidak berdekatan (cukup diperlukan waktu untuk bolak-balik). Kira-kira 3 atau 4 menit kembali dari toilet, minuman pun tersaji. Kami menyeruput sedikit (khawatir nanti pas makan malah seret D ). Sekitar 3 menit kemudian pesanan saya datang (hummm, sluuurpp). Spaghetti dengan baso daging sapi dan kaya dengan warna merah P .

Sepertinya dodo merasa kurang comfort baik untuk kursi maupun posisi meja kami, sehingga akhirnya dia meminta ke waiter untuk pindah tempat duduk di sofa yang baru saja kosong. Waiter segera membersihkan meja-meja di sofa dan 3 menit kemudian kami pindah tempat duduk.

Sudah tak terhitung berapa kali saya mengaduk-aduk spaghetti meatball yang terhidang sampai akhirnya dodo menyuruh saya untuk makan duluan. Sang waiter pun sudah 2 kali bolak-balik di hadapan kami, sampai akhirnya saya menegurnya untuk menanyakan pesanan dodo. Neng, dah lewat 17 menit neeh, Dodo berbisik sambil tersenyum. Si waiter mengatakan bahwa dia akan segera mengecek pesanan Dodo.

1, 2, 3, 4 dst…..
pesanan belum juga datang. sampai akhirnya saya makan duluan. Setengah sudah habis isi piring saya barulah pizza pesanan dodo datang, diiringi dengan senyum sang waiter. Saya berpikir, untuk ukuran pizza yang tidak besar dan kami cuma memesan 1, sementara pengunjung Pizza Hut waktu itu tidak begitu ramai, kok bisa lama ya ??? Kebiasaan saya dengan pelayanan yang seperti itu adalah, saya akan langsung mengkomplain si waiter. Karena bagi saya dia telah berjanji untuk menyelesaikan pesanan dalam waktu 17 menit dan bagi saya kepuasan customer adalah yang utama. Namun saya urung mengajukan komplain karena saya lihat dodo juga adem ayem mengambil sepotong pizza dan mulai mengirisnya. Sebelum meninggalkan kami, dengan ramah si waiter menawarkan apakah kami hendak memesan kembali. Serempak saya dan dodo senyum dan mengatakan tidak.

Perlahan sambil mengobrol dodo menghabiskan menunya sementara saya sibuk mengecek Hp dan makan cemilan (karena spaghettinya dah tandas P ). Si waiter kembali bolak-balik di hadapan kami dan kemudian dia mampir dan menambahkan tisu di meja kami dengan tak lupa sambil tersenyum dan kembali menawarkan apakah minuman kami hendak diisi kembali. Karena dari rumah saya telah membekal satu botol air dan cemilan, kami mengatakan tidak. Setelah si waiter berlalu, sambil tersenyum Dodo bilang: neng, itu si waiternya merasa bersalah. keliatan banget dari caranya D .

Habis ronde pertama, kami memutuskan untuk memesan 1 paket delight untuk dibungkus, tapi spaghettinya diganti dengan spaghetti sapi lada hitam. Kembali si waiter sesuai dengan standar pakemnya mengatakan bahwa mohon pesanan di tunggu selama 17 menit D . Lagi lagi dan lagi…. 17 menit sudah lewat. Sampai akhirnya saya bilang, ya udahlah do, toh kita gak terburu2 ini, kita bisa nunggu pesanan sambil ngaso disini. Dengan pelayanan yang seperti ini, gatal rasanya mulut saya untuk tidak mengajukan komplain. Tapi dengan situasi yang ada, kami tidak terburu2 dan si waiter sudah nampak sangat bersalah, maka saya mengurungkan niat saya.

Akhirnya spaghetti sapi lada hitam saya datang dengan diantarkan seorang waitress, tapi kok kenapa tidak dibungkus? (sesuai pesanan). Si dodo cuma bisa tetawa dan bilang: Mb, pesanannya di bungkus lohh…, Well akhirnya spaghetti dissjikan ulang dengan wadah kotak persegi panjang warna merah dan bertutup transparan.
pesanan sisanya belum datang. Sambil menunggu kami kembali membicarakan hal-hal penting yang memang perlu dibahas saat itu.
Dan…. Finally seluruh pesanan datang dalam kresek putih dan dua buah minuman dengan wadah khusus buat tentengannya.

Setelah membayar bill, kami bersiap-siap meninggalkan Pizza Hut. Namu sepertinya dodo tergelitik mengecek semua pesanan kami. Plastik dibuka, dan olala,, ternyata isinya ada satu kotak spaghetti lagi. Padahal kami kan cuma pesan satu. (delight: satu spaghetti, satu pizza, 4 potong garlic bread dan 2 minuman). Jadi total kami mendapat 2 spaghetti. Hummmmm, ya udah neng, pilih salah satu dan kita kembalikan yang lain.

Di pintu keluar Pizza Hut, kami kembalikan satu kotak spaghetti kepada waitressnya dan kami katakan bahwa pesanan kami berlebih. semula mb-nya bingung dan kemudian dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. masih di pintu keluar, kami bertemu dengan si waiter yang sedari tadi melayani kami dengan mimik rasa bersalahnya itu D , kami juga menyampaikan bahwa pesanan kami berlebih. si waiter berkata: ya udah, itu buat ibu dan bapak saja. kan tadi sudah lama menunggu kan pak, bu…, maaf ya…

Hehehehe…. Dodo bilang, Itulah neng, kalo orang sudah melakukan perbuatan yang mungkin tidak menyenangkan buat kita, baikin aja, dengan sendirinya sebenarnya orang itu sudah merasa bersalah. Lihat waiter tadi, dia merasa bersalah karena sudah membuat kita menunggu lama, tapi kita masih tetap senyum ke dia ) .

Saya membantahnya: tapi do, kalo orangnya kelewatan dan bikin makan hati gimana? sampai kapan gitu kita harus mentolerirnya? LIhat case by case neng. Kalo kejadian di k*nt*rmu itu baru dirimu memang harus bertindak!

Saya tidak sedang ingin mengeluhkan pelayanan Pizza Hut. Tapi hikmah hari itu yang saya dapat adalah, saya menyadari inilah salah satu perbedaan saya dan dodo. Jika tingkat toleransi diukur dengan skala 1-10, maka mungkin saya berada di titik 5 atau 6. Sementara saya yakin dia berada di titik 8 atau mungkin 9. Namun mungkin inilah yang namanya saling melengkapi. Ada kalanya dalam sebuah situasi justru tingkat toleransi dengan skala 5 lah yang diperlukan. atau mungkin dalam situasi yang lain tingkat toleransi dengan skala 8 lah yang diperlukan. Alangkah indahnya kalo perbedaan bisa disikapi dengan kepala dingin dan diambil hikmahnya ^^.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

Pérouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 8 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 8 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 12 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: