Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Dominasi Pria dalam Bahasa Inggris

HL | 03 May 2010 | 01:24 Dibaca: 572   Komentar: 22   5

ilustrasi 1.bp.blogspot.com

ilustrasi 1.bp.blogspot.com

Ada suatu masa dimana banyak profesi diberi akhiran ‘man’ untuk merujuk kepada pemangku pekerjaan itu. Salah satu contoh diantaranya adalah kata policeman. Seakan-akan bahasa Inggris ini mau menegaskan bahwa pekerjaan tersebut adalah monopoli kaum adam dan sama sekali tidak layak disandang oleh kaum wanita. Dengan berkembangnya kesadaran kesetaraan jender memang sejumlah kata yang berimbuhan ‘man’ sudah mengalami perubahan seperti pada istilah chairman (ketua) yang kini lebih banyak diucapkan menjadi chairperson. Namun ternyata tidak semua kata yang berakhiran ‘man’ bisa disulap dengan diberi akhiran ’person’. Selain karena alasan kedengaran ’aneh’, sejumlah kata dengan sufiks ’man’ ini juga banyak yang merupakan idiom (ungkapan).

Kata-kata yang berkaitan dengan profesi dapat disebutkan antara lain postman (tukang pos), seaman (pelaut), airman (pilot), newsman (wartawan), cameraman (juru kamera), workman (pekerja), milkman (pemerah susu sapi), fireman (pemadam kebakaran), fisherman (nelayan), clergyman (pendeta), sportsman (olahragawan), linesman (bisa bermakna penjaga garis dalam pertandingan atau petugas pemeliharaan dan perbaikan saluran kabel listrik atau telepon), salesman (pramu jual), lawman (penegak hukum), spokesman (juru bicara), businessman (pengusaha), stuntman (pemeran pengganti dalam film untuk adegan yang berbahaya).

Ada pula yang lebih cenderung mengacu kepada karaktek dan kondisi kejiwaan seseorang misalnya pada kata madman (orang sinting), yes-man (orang yang suka cari muka alias ’asal bapak senang’), henchman (antek), nobleman (bangsawan), caveman (manusia purba yang masih tinggal di gua), swordsman (ahli pemain pedang), rifleman (penyandang senapan), horseman (penunggang kuda), bushman (orang yang bermukim dan berkelana di padang semak khususnya di wilayah Australia dan Selandia Baru).

Namun terdapat pula sejumlah kata yang bersifat idiomatik seperti pada kata-kata candyman (pengedar narkoba), gunman ( penjahat atau teroris yang menggunakan senjata api dalam aksinya), hitman (pembunuh bayaran), highwayman (perampok kendaraan di jalan raya), marksman (penembak jitu), bogeyman ( jin jahat yang sering dipakai untuk menakut-nakuti anak-anak), con man ( sering pula disebut dengan confidence man yaitu penipu yang menggasak uang kita dengan bujuk rayu yang amat meyakinkan), best man (pendamping pengantin pria), plain-clothesman ( penegak hukum seperti petugas polisi dalam penyamaran dengan pakaian sipil), pitman (pekerja tambang khususnya tambang batubara), shaman (dukun atau tukang tenung), foreman (pengawas pekerjaan atau mandor), serviceman (anggota angkatan bersenjata dari suatu negara).

Beberapa istilah memang sudah menjadi kata usang (archaic) seperti chapman atau packman yang bermakna peddler (pengasong), handyman atau legman (orang yang mempunyai pekerjaan serabutan dalam rumah tangga umumnya yang tidak membutuhkan skill khusus). Malahan ada kata yang sama sekali tidak berkaitan dengan ’manusia’ seperti kata cayman (sejenis krokodil atau buaya) dan talisman (jimat), snowman (boneka yang dibuat dari bongkah salju).

Sejumlah istilah dengan awalan ’man’ juga menunjukkan masih dominannya orientasi laki-laki seperti kata-kata man-of-war (kapal perang), man in the street (orang awam), manhunt (pemburuan manusia khususnya pelaku kejahatan), manslaughter (istilah hukum yang bermakna pembunuhan tidak berencana).

Untuk menghindarkan tudingan sebagai ungkapan yang sexist, kata fireman misalnya diganti menjadi firefighter karena terasa menggelikan kalau disebut fireperson apalagi kalau diucapkan firewoman, demikian pula istilah policeman diganti dengan police officer. Namun kata frogman (penyelam atau ’manusia katak’) misalnya masih tetap bercokol dan tidak diberi padanan dengan frogwoman untuk merujuk kepada penyelam wanita. Beruntunglah dalam bahasa Indonesia kita tidak mengenal pembedaan jender ini sehingga tidak perlu pusing-pusing mengubah istilah para penyandang profesi ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 11 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Perubahan, Dimulai dengan Kesadaran bahwa …

Fidelia Divanika Ku... | 8 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Melamun: Bermimpi tanpa Tidur …

Delu Pingge | 8 jam lalu

Kisah Bus Surat …

Setiyo Hadi | 8 jam lalu

Jalur Lambat Jebres Tidak Beres …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: