Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Zulfikar Fauzi

Arkeologi FIB UI 2006 senang menulis dan dunia jurnalistik

Kesadaran Pengunjung Perpustakaan FIB UI, Masih Minim

REP | 14 April 2010 | 08:38 Dibaca: 276   Komentar: 2   1

“Dilarang Menyobek Koleksi”, “Mohon Menjaga Kerapihan Koleksi”, “Dilarang makan dan Minum di ruangan ini. Ketiga kalimat itu ditempelkan secara terpisah pada salah satu ruangan di Perpustakaan FIB UI. Tampaknya ketiga kalimat itu hanya suatu kalimat peringatan yang tidak berpengaruh pada pembacanya, jika kita mengetahui bagaimana sebenarnya yang terjadi. Ungkapan ”Peraturan untuk dilarang” pun menjadi ungkapan yang lumrah di telinga kita.

Perpustakaan FIB yang seharusnya tempat yang nyaman untuk memperoleh pengetahuan lewat koleksinya, nampak banyak kekurangan di sana sini. Kita tidak mau menyalahkan pihak atau pegawai perpustakaan itu secara sepihak, namun, problem yang dihadapi oleh perpustakaan jelas terjadi karena kedisiplinan pengunjung yang minim atau dalam hal ini khususnya mahasiswa setempat. Banyak koleksi yang sobek, hilang, atau lembar beberapa halaman buku yang terkena noda makanan. Seperti penuturan salah satu pustakawan perpustakaan FIB UI ”perpustakaan kita memiliki kurang lebih 125.000 ekslepar koleksi buku dengan 75.000 judul, dan yang hilang sebanyak 4000 buku dan banyak halaman yang tidak lengkap karena disobek”, katanya. Jumlah buku yang hilang merupakan jumlah yang cukup signifikan, mengingat jumlah mahasiswa FIB yang termasuk banyak di UI—kira-kira 1500 orang—dan hal ini mengakibatkan banyak ”pencari-pencari buku” atau pengunjung perpustakaan baik mahasiswa FIB atau umum mengeluh mengenai kelengkapan koleksi di perpustakaan tersebut. Salah satu pengunjung yang diwawancara mengaku ”banyak koleksi, terutama koleksi tentang teori kebudayaan yang hilang, saya telusuri di lontar kok ada, tapi di raknya ngga ada”. Setelah ditelusuri dari wawancara salah satu pustakawan, memang buku banyak yang hilang sejak di berlakukannya sistem terbuka di perpustakaan FIB sejak tahun 1993, sebelumnya perpustakaan FIB diberlakukan sistem tertutup bagi peminjam buku.

Selain hilangnya koleksi buku, perpustakaan pun mengalami problem nyasar nya koleksi dari rak asal. Hal ini terjadi karena kesadaran yang kurang dari pengunjung perpustakaan. Pengunjung mahasiswa Sastra Belanda mengaku pernah menyembunyikan buku di tempat yang bukan seharusnya. ”kan koleksi di sini kadang terbatas, ya saya umpetin biar gampang nyarinya dan takut kalo keduluan orang lain”.

Tentu hal ini akan membingungkan petugas perpustakaan dan pengunjung lain yang ingin mencari buku tersebut. Atau kadang-kadang setelah membaca, pengunjung tidak mengembalikan buku-buku tersebut di tempat yang telah disediakan untuk menyimpan buku setelah membaca. Perlakuan tersebut juga akan membingungkan pengunjung mencari buku. Mengenai lembar buku yang sobek memang sulit untuk melacak karena diberlakukannya sistem terbuka bagi pengunjung perpustakaan FIB. Hal ini akan mendukung pengunjung yang jahil untuk merobek koleksi, lain halnya jika diberlakukannya sistem tertutup dimana pengunjung hanya dapat meminjam koleksi dari tangan pegawai perpustakaan. ”Keadaan buku sebelum dan sesudah meminjam kami cek” tutur salah satu pustakawan FIB UI bernama Chaeruman.

Dari sini kita dapat melihat bahwa perlakuan terhadap buku di Perpustakaan FIB memang sangat kurang. Bung Hatta pernah marah dan menyuruh mengganti buku yang baru kepada peminjam buku milikinya yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Kenapa Bung Hatta marah? Mungkin kita menganggap sepeleh alasan Bung Hatta, alasannya hanya karena buku miliknya itu dilipat oleh keponakannya tersebut. Sangat agung perlakuan Bung Hatta terhadap buku. Mungkin pengunjung atau kita yang membaca tulisan ini dapat belajar dari Bung Hata.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penjelajah Kuburan, Mencintai Indonesia …

Olive Bendon | | 23 October 2014 | 03:53

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | | 23 October 2014 | 17:48

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 5 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 11 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 11 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 13 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Maju Mundur Cantik Kabinet Jokowi ala …

Yudhi Hertanto | 7 jam lalu

Ssstt….Ada Srikandi di Tol Laut …

Aqshaya | 7 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua …

Asep Rizal | 7 jam lalu

Penumpang Duduk Di Lantai Krl yang Sangat …

Saut Hasiholan | 7 jam lalu

Esok Aku Datang Lagi …

Septi Yaning | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: