Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fransiscus Handoyo

Wiraswasta, tinggal di Purwomartani Kalasan Jogjakarta, hobi fotografi, silahkan lihat foto-foto saya di http://handoyoblog.com Kontak: fransiscushandoyo@yahoo.com.sg selengkapnya

Persahabatan Kuntul dan Petani

HL | 02 April 2010 | 04:38 Dibaca: 334   Komentar: 8   3

Persahabatan dua mahluk yang berbeda ini seakan terus berjalan, tak ada yang tahu kapan persahabatan ini dimulai. Disebut persahabatan karena keduanya tidak saling menyakiti, keduanya saling diuntungkan. Padahal burung kuntul bisa saja dijadikan santapan lezat - dipanggang, digoreng, disate - oleh petani.

Yah… nggak seru, yang dipikirkan cuma makan aja. Itu tidak dilakukan petani. Burung Kuntul ini setengahnya tidak mengganggu bagi petani yang sedang membajak sawah. Memang burung-burung putih jangkung ini sering menghampiri petani yang sedang membajak sawah, untuk apa ya…? untuk mencari sesuatu dalam tanah yang bisa dimakan, seperti cacing. Saya pernah melihat seorang petani yang sedang membajak sawah dengan traktor, dikerumuni segerombolan burung kuntul ini. Burung-burung ini selalu membenamkan paruhnya mencari cacing atau apalah…sehabis tanah sawah dibolak-balik oleh traktor.

Selain cacing atau binatang kecil dalam tanah, burung kuntul ini suka memangsa belalang dan serangga lainnya. Belalang dan serangga lainnya ini merupakan hama, musuh besar para petani. Burung kuntul ini dianggap sebagai “teman” karena mereka ikut andil dalam membasmi hama.

Burung-burung kuntul yang saya sering jumpai ini dari jenis Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), dengan ciri-ciri: tubuh berukuran kecil, kepala - leher - dada - punggung berwarna jingga pupus, leher pendek. Jenis burung ini banyak ditemukan di daerah Sleman. Burung-burung ini agak susah dipotret - tidak mau dijadikan model foto - karena langsung terbang kalau saya dekati. Burung-burung ini tahu bahwa saya bukan “temannya”. ┬áTapi tidak apa-apa kalau burung-burung itu tidak mau dijadikan teman, yang penting buat saya adalah saya ikut senang melihat persahabatan ini, mahluk-mahluk dapat hidup rukun di alam yang indah ini. Mari kita jaga alam ini.

Lokasi: Cangkringan Kalasan; Waktu: 31 Maret 2010

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Angkuh …

Retna Kusumawati | 7 jam lalu

Transfusi Darah …

Raka Pratama | 7 jam lalu

Agama adalah Kebudayaan yang Disucikan …

Kawar Brahmana | 7 jam lalu

KPK Selamatkan Jokowi dari Intervensi …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Jokowi dan Prabowo, Indonesia Kita …

Awaluddin Madjid | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: