Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Swastika Andi

Statistician & Social Science blogger

Orang Miskin Banyak Ngeluh Tapi Kaya Informasi

OPINI | 21 February 2010 | 02:40 Dibaca: 92   Komentar: 1   1

Sudah lama saya tidak terlibat langsung melakukan interview untuk penggalian informasi dari responden. Kali ini, saya melakukan penelitian mandiri untuk tesis program studi Statistika Terapan IPB. Saya ingin menggali langsung informasi kemiskinan dari penerima-penerima Bantuan Tunai Langsung (BLT) di Jakarta Utara, khususnya di Kecamatan Koja. Awalnya saya agak ragu-ragu karena saya tidak ada persiapan administrasi, surat-surat pengantar survei, ijin-ijin dari pejabat pemerintah yang kadang-kadang menghambat kegiatan penelitian/survei. Selain itu masyarakat di Jakarta lebih kritis dengan orang-orang baru, tingkat kecurigaannya juga tinggi.

Dengan bekal motor berpakaian kemeja plus celana jean dan tas ransel untuk menyimpan dokumen, saya mulai berputar-putar mencari alamat responden yang sudah direncanakan. Walaupun harus sering bertanya ke orang-orang akhirnya ketemu juga alamat-alamat yang dicari. Dan ternyata apa yang saya kawatirkan tidak terbukti, setidaknya untuk 10 responden yang sudah saya wawancarai. Mereka sangat welcome, setelah saya jelaskan keperluannya. Walaupun mereka miskin masih sempat membelikan minuman air mineral kepada saya. Untuk menghormati mereka, saya pun terimanya. Ternyata kebanyakan mereka mau memberikan informasi kepada saya karena apa yang saya teliti sangat menarik bagi mereka yaitu tentang bantuan BLT kepada mereka. Isu yang sangat dekat dengan mereka.

Orang miskin memang hidup susah, tetapi mereka mempunyai tingkat sosial yang tinggi. Mereka sangat welcome dengan tamu yang datang dengan baik/sopan dengan penampilan yang menyakinkan pula (berpakaian santai). Perbanyak senyum/ketawa/bercanda dan basa-basi yang membuat interview terkesan santai. Mereka sepertinya mampunyai harapan, apa yang dia jawab semoga bisa memberikan sesuatu yang positif bagi mereka.

Orang Miskin Banyak Ngeluh tapi Kaya Informasi
Ini yang saya suka, mereka berani kasih waktu untuk ngobrol ngalor ngidul tentang nasib mereka, apalagi dengan program pemerintah yang menjanjikan ke mereka fasilitas gratis/murah untuk kehidupan mereka. Ternyata selain pertanyaan kuesioner terjawab, kita bisa mendapatkan bonus info yang sangat kaya yang bisa mendukung analisa nantinya walaupun bersifat kualitatif, sebagai orang sosial ini adalah harta karun, sedangkan bagi statistisi ini adalah PR untuk mendapatkan indikator untuk mendukung analisis kuantitatifnya.

Sumber: Swastika Andi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 3 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 4 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 5 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: