Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Swastika Andi

Statistician & Social Science blogger

Orang Miskin Banyak Ngeluh Tapi Kaya Informasi

OPINI | 21 February 2010 | 02:40 Dibaca: 95   Komentar: 1   1

Sudah lama saya tidak terlibat langsung melakukan interview untuk penggalian informasi dari responden. Kali ini, saya melakukan penelitian mandiri untuk tesis program studi Statistika Terapan IPB. Saya ingin menggali langsung informasi kemiskinan dari penerima-penerima Bantuan Tunai Langsung (BLT) di Jakarta Utara, khususnya di Kecamatan Koja. Awalnya saya agak ragu-ragu karena saya tidak ada persiapan administrasi, surat-surat pengantar survei, ijin-ijin dari pejabat pemerintah yang kadang-kadang menghambat kegiatan penelitian/survei. Selain itu masyarakat di Jakarta lebih kritis dengan orang-orang baru, tingkat kecurigaannya juga tinggi.

Dengan bekal motor berpakaian kemeja plus celana jean dan tas ransel untuk menyimpan dokumen, saya mulai berputar-putar mencari alamat responden yang sudah direncanakan. Walaupun harus sering bertanya ke orang-orang akhirnya ketemu juga alamat-alamat yang dicari. Dan ternyata apa yang saya kawatirkan tidak terbukti, setidaknya untuk 10 responden yang sudah saya wawancarai. Mereka sangat welcome, setelah saya jelaskan keperluannya. Walaupun mereka miskin masih sempat membelikan minuman air mineral kepada saya. Untuk menghormati mereka, saya pun terimanya. Ternyata kebanyakan mereka mau memberikan informasi kepada saya karena apa yang saya teliti sangat menarik bagi mereka yaitu tentang bantuan BLT kepada mereka. Isu yang sangat dekat dengan mereka.

Orang miskin memang hidup susah, tetapi mereka mempunyai tingkat sosial yang tinggi. Mereka sangat welcome dengan tamu yang datang dengan baik/sopan dengan penampilan yang menyakinkan pula (berpakaian santai). Perbanyak senyum/ketawa/bercanda dan basa-basi yang membuat interview terkesan santai. Mereka sepertinya mampunyai harapan, apa yang dia jawab semoga bisa memberikan sesuatu yang positif bagi mereka.

Orang Miskin Banyak Ngeluh tapi Kaya Informasi
Ini yang saya suka, mereka berani kasih waktu untuk ngobrol ngalor ngidul tentang nasib mereka, apalagi dengan program pemerintah yang menjanjikan ke mereka fasilitas gratis/murah untuk kehidupan mereka. Ternyata selain pertanyaan kuesioner terjawab, kita bisa mendapatkan bonus info yang sangat kaya yang bisa mendukung analisa nantinya walaupun bersifat kualitatif, sebagai orang sosial ini adalah harta karun, sedangkan bagi statistisi ini adalah PR untuk mendapatkan indikator untuk mendukung analisis kuantitatifnya.

Sumber: Swastika Andi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Apakah yang Lebih Baik daripada …

Ade Hermawan | | 23 December 2014 | 06:03

Belajar Setia dari Tentara Suriah atau Lebih …

Abanggeutanyo | | 23 December 2014 | 05:27

Empat Modal PSSI Berprestasi di 2015… …

Achmad Suwefi | | 23 December 2014 | 07:07

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Fachri Hamzah Ucapkan Selamat Natal dan …

Gunawan | 2 jam lalu

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 10 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 12 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 14 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: