Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Najib Yusuf

Seorang Mahasiswa, bercita-cita menjadi Presiden… Yakin Usaha Sampai http://www.bangnajib.com http://najibyusuf.blogspot.com selengkapnya

Islam, Budaya, dan Agama

OPINI | 20 February 2010 | 06:44 Dibaca: 1432   Komentar: 4   1

Jeffrey lang pernah memberikan analisi tentang pertentangan antara agama dengan budaya yang sejak dulu sudah terjadi, Yahudi memilih menutup diri dengan budaya, mereka menolak bentuk pencampuran antara budaya dengan agama, sehingga dalam praktik ibadahnya banyak kita temui hal-hal yang seolah-olah melawan arus budaya seperti seorang rabi yang memberikan fatwa tentang haramnya menggunakan lift, atau aturan-aturan lain yang bisa dipandang sebagai penolakan terhadap budaya, sehingga yahudi nyaris tidak mengalami perkembangan secara kuntitas tetapi tetap terjaga secara kualitas. Nasrani memilih menerima pencampuran antara budaya dengan agama, dalam praktik peribadatan banyak sekali unsur-unsur budaya yang digunakan seperti penerjemahan kitab suci ke berbagai bahasa, dsb. Sehingga secara kuantitas Nasrani berkembang menjadi agama yang pesat tetapi secara kualitas tidak begitu baik. Bagaimana dengan Islam?

Islam memberikan batasan-batasan yang jelas tentang budaya. Dalam konsep Ikhwanul Muslimin dikenal dengan tsawabit dan mutaghayyirat. Artinya Islam memberikan batasan antara yang tidak boleh diubah (tsawabit) karena bersifat prinsip seperti aqidah, ushul (pokok-pokok) yang tegas yang tidak menerima takwil, penggantian, perubahan kapan dan di mana pun serta oleh siapa pun. seperti rukum iman, atau bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Sedang Mutaghayyitat memberikan flesibilitas terhadap perkembangan zaman, termasuk budaya.

Dalam islam secara otomatis organisasi yang memiliki tsawabit tidak sesuai dengan apa yang sudah digariskan akan terkucilkan, bahkan dimusuhi seperti terjadi pada kasus elijah muhammad di US. konteks perubahan dalam mutaghayyirat tentu perubahan yang tidak bertentangan dengan tsawabit yang telah ditentukan dalam islam.

Inilah yang memungkinkan Islam terjaga secara kuantitas dan kualitas, karena Islam mampu berkembang menjawab permasalahan-permasalahan kekinian dengan corak yang khas, bukan terkontaminasi atau menutup diri. wallahua’lam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hijaukan Halaman Rumah dengan Tanaman …

Tjiptadinata Effend... | | 27 February 2015 | 03:44

Begal dan Hilangnya Kesalehan Sosial …

Handy Fernandy | | 27 February 2015 | 04:35

Kompasiana Drive&Ride: ”Be Youthful, …

Kompasiana | | 26 February 2015 | 22:29

Belajar dari Harvard untuk Membangun Asia …

Bayu Teguh | | 27 February 2015 | 05:28

Review Film 2014, Siapa Diatas Presiden?, …

Topik Irawan | | 27 February 2015 | 01:26


TRENDING ARTICLES

Boikot Bali Blunder Terbesar Australia …

Rizky Febriana | 3 jam lalu

Mafia Ikan dan Beras “Hajar” …

Gunawan | 4 jam lalu

Hatta Gagal Angkat Trophy …

Lisa Monalisa | 6 jam lalu

Pertemuan Misterius Ruki dan Batuk Kecil …

Axtea 99 | 10 jam lalu

Jokowi, Kepala Negara Juga Tidak Boleh …

Daniel H.t. | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: