Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Lukman Hakim

milan, psikologi,..

Supaya Menang dalam Adu Penalti

OPINI | 26 January 2010 | 06:27 Dibaca: 99   Komentar: 0   1

Sepertinya adu penalti adalah momen yang ingin dihindari oleh setiap pemain sepakbola. Sudah bermain 90 menit lamanya plus babak silver goal selama 2x 15 menit, menang atau kalah hanya ditentukan melalui kurang lebih 5 kali percobaan tendangan di titik 12 pas. Tidak sedikit legenda sepakbola harus gigit jari saat melakukan adu penalti. Sebut saja, Roberto Baggio dan Franco Baresi (World Cup 1994), John Terry (Chelsea, Final Liga Champions 2008), Antonio Di Natale (Piala Eropa 2008), dsb, harus menunduk menahan air mata jatuh saat gagal mengeksekusi penalti. Lalu, adakah ada penjelasan mengapa tidak semua pemain bisa dengan mudah melalui babak ”neraka” ini ?.

Peneliti dari Universitas Exeter melakukan suatu penelitian untuk mengapa pemain sepakbola gagal mengekskusi penalti saat babak adu penalti. Mereka menunjukkan untuk pertama kalinya efek kegelisahan (anxiety) pada gerakan mata pemain sepakbola saat mengambil tendangan penalti. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa saat pegambil tendangan penalti gelisah mereka lebih sering melihat ke arah dan fokus pada posisi kiper yang terpusat di tengah. Berkaitan dengan koordinasi antara kontrol tatapan dan kontrol gerakan (motor), tendangan juga cenderung ke arah tengah yang membuat tendangan tersebut mudah untuk ditangkap.

Greg Wood dari University of Exeter School of Sport and Health Sciences mengatakan bahwa selama berlangsungnya situasi yang sangat (menegangkan) stressful, kita lebih sering terganggu oleh stimulus yang mengganggu dan focus kepada stimulus tersebut dibandingkan fokus kepada tugas yang akan dilakukan. Oleh karena itu, lanjutnya, dalam sebuah situasi adu penalti yang menegangkan, atensi pesepakbola cenderung diarahkan ke arah kiper dibandingkan ke arah optimal scoring zone (inside the post). Hal tersebut mengganggu sasaran tembakan dan meningkatkan kemungkinan tembakan diarahkan ke arah kiper, membuat tendangan menjadi lebih mudah untuk diselamatkan.

Untuk penelitian ini, para peneliti meminta 14 anggota tim sepakbola univeristas Exeter untuk menjadi peserta penelitian. Mereka diminya untuk melakukan 2 seri tendangan penalti. Pertama, mereka hanya diminta untuk melakukan tendangan sebaik mungkin untuk mencetak skor. Kemudian, para peneliti membuat seri yang kedua menjadi lebih menegangkan dan lebih mirip dengan adu penalti. Para pemain diberi penjelasan bahwa hasilnya akan dicatat dan di-share dengan pemain lain dan akan ada hadiah sebesar £50 untuk pengambil tendangan penalty terbaik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat gelisah, pesepakbola melihat penjaga gawang lebih dahulu dan lebih lama. Perubahan dalam gerakan mata membuat pemain lebih condong menendang kearah tengah gawang, membuatnya lebih mudah untuk diselamatkan oleh kiper. Para peneliti percaya bahwa dengan lebih menyadari dampak kegelisahan pada gerakan mata dan akibatnya terhadap akurasi tendangan para pemain, pelatih dapat mengatasinya melalui latihan.

Greg Wood mengatakan bahwa strategi terbaik untuk digunakan oleh pengambil tendangan penalti adalah mengambil posisi dan tendanglah bola ke gawang dan abaikan penjaga gawang dalam prosesnya. Berlatih strategi ini akan membangun koordinasi yang kuat anyta pergerakan mata dan tindakan-tindakan selanjutnya, membuat tendangan menjadi semakin akurat. Tambahnya, hal yang paling penting untuk mengatasi kecemasan selama dalam adu tendangan penalti adalah berlatih tendangan penalti. Skill mengambil tendangan penalti harus terasah dengan baik sehingga mereka (pemain sepakbola) kuat dalam menghadapi tekanan.

Tetap saja, Bola itu bundar.

Sumber :
www.sciencedaily.com, “Why England soccer team keeps losing on penalty shots”, diunduh pada 24 Desember 2009 pukul 08.16

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 6 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 11 jam lalu

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 14 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Insomnia di Usia Lanjut …

Dian Fakhrunnisak | 8 jam lalu

Terima Kasih Guru …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Tak Pandai Masak? Mungkin Ini Solusinya …

Siti Zaidah | 8 jam lalu

“Menanti Sinetron Kejar Tayang dari …

Kosmas Lawa Bagho | 8 jam lalu

Membangun Brand Image Melalui Service …

Ika Nesiha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: