Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Octa Vitriadi

Tukang ketik surat di sebuah kantor, bergabung di berbagai milis untuk menunjukkan eksistensi "Aku ngeBlog selengkapnya

Kisah Ratu Sima

OPINI | 12 November 2009 | 08:26 Dibaca: 13346   Komentar: 4   2

Saat ini proses keadilan di bangsa ini sedang dipertanyakan. Para penegak keadilan yang diharapkan dapat memberikan rasa aman masyarakat di dalam proses mendapatkan keadilan ternyata malah berbeda pendapat satu dengan lainnya.

Di saat inilah perlunya kita kembali menengok masa keemasan bangsa kita, tak ada salahnya untuk membaca kembali sejarah bangsa kita. Anonim mengatakan “Bila dunia mau belajar dari sejarah, maka dunia akan tenteram.”

Bila bicara tentang sejarah keadilan bangsa ini, maka kita pasti bicara tentang Kisah Ratu Shima yang dikisahkan dalam cerita Dinasti Tang tentang Ratu Jawa.

Shima atau Sima adalah seorang ratu yang memerintah kerajaan Kalingga dari tahun 674 - 695 M. Kerajaan Kalingga yang terletak kira-kira di sekitar daerah Jepara, Jawa Tengah, mengalami masa kejayaannya di masa pemerintahan beliau.

Pada masa itu, pemerintahan Ratu Sima terkenal sangat adil sehingga rakyat pun amat patuh pada penguasa, bahkan bila ada buah mangga jatuh di jalanpun tidak akan ada orang yang berani mengambilnya tanpa seijin pemilik. Cerita ini terdengar seorang pangeran Arab.

Sang Pangeran Arab ingin menguji cerita tersebut dengan mengutus seseorang untuk meletakkan sebuah pundi berisi emas dan permata di sebuah jalan di pasar Kalingga. Dan ternyata cerita itu benar, tak ada seorangpun yang mengambil bahkan melewati pundi tersebut. Tiga tahun lamanya pundi itu tergeletak di jalan tersebut tanpa tersenggol sedikitpun hingga pada suatu hari sang pewaris tahta Kalingga entah sengaja ataupun tidak melangkahi pundi tersebut. Berita tersebut sampai ke telinga sang Ratu, dan beliau murka sekali. Maka dipanggillah sang pewaris tahta dan diadili di hadapan seluruh rakyat dan pejabat negara. Dan diputuskan oleh sang Ratu untuk menghukum mati sang pewaris tahta yang juga anak kandungnya sendiri.

Para menteri pun memohon keringanan pada sang Ratu, dan sang Ratu pun bersabda pada sang putra. “Kesalahanmu terletak pada kedua kakimu, maka cukuplah kedua kakimu yang dipotong untuk menjadi pelajaran bagi yang lain.”

Seorang raja Tazi urung menyerang kerajaan Kalingga setelah mendengar kisah ini, entah karena kekagumannya pada sang Ratu yang adil dalam memerintah atau pada para penduduk Kalingga yang taat pada keadilan, kombinasi keduanya adalah hal yang amat langka di seluruh bangsa di dunia.

Kisah ini terdapat berbagai versi dalam penceritaannya. Tetapi hikmah yang dapat diambil ialah bahwa rasa keadilan dapat menciptakan rasa aman bagi seluruh masyarakat suatu bangsa.

Untuk mendapatkan hal tersebut maka dibutuhkan seorang pengambil kebijakan yang bernyali besar dan mampu bersikap adil. Adakah?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 11 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 12 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: