Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Mr Aulia

Menjadi Lentera bukan Angin yang selalu meredupkan upaya penerangan anak-anak bangsa

Membohongi ‘Sumpah Pemuda’

OPINI | 01 October 2013 | 11:59 Dibaca: 2187   Komentar: 0   1

Oleh:

Mr. Aulia

1380603344125901376

Ilustrasi, Bapak Bangsa Merindukan Pemuda Seperti Kalian, Sumber: operadewa.wordpress.com


Holla Oktober 2013. Selamat datang.

Udah punya rencana apa aja di bulan ini? Wahai pemuda yang katanya gagah, berani dan pernah bersumpah lantang, menggoncangkan pendengaran telinga-telinga bayi yang lahir setelah satu hari di bulan Oktober puluhan tahun silam. Apakah lantangnya sumpah tersebut masih tetap berdaya besar dalam menggugah lahirnya karya demi karya atau hanya membahana di bibir-bibir anak muda saat ini. Jawabannya adalah bagaimana waktu demi waktu dihiasi? Hari demi hari dinikmati, minggu demi minggu dipahat, serta bulan demi bulan dibentuk.

Kumpulan hari-hari baru di bulan yang baru. Pastinya yang sudah punya rencana sudah tidak sabar lagi menjalani hari-hari baru. Tidak sabar menunggu pagi. Malam-malam yang dilalui, terbayang banyak mimpi. Ingin segera melakukan dan menyusun bata demi bata, demi curahan yang berwujud pasti. Mereka sadar dan yakin detik-detik waktu baru akan terus bergulir. Bergelindingan jauh memasuki hari baru di awal bulan, tetap jalan menuju pertengahan bulan dan tidak berhenti hingga akhir bulan dan hari selanjutnya.

Mereka juga sadar, waktu itu kejam. Tega. Tak pernah perduli siapa kita. Waktu akan pergi meninggalkan kita yang acuh tak acuh dengan kelapangan yang dimilikinya. Rencana besar yang sudah disusun di hari sebelumnya akan bernilai hampa ketika lalai menghiasinya. Menghiasi waktu dengan menyusun batu bata demi tercapainya suatu bangunan yang kokoh, yaitu terwujudnya jenis lain setelah rencana dan mimpi.

Punya rencana besar, mimpi besar saja, tidak juga memberikan ‘kecukupan’ kalau hanya puas dan bangga tanpa nyusun bata demi bata. Bagaimana nasib mereka yang tidak punya rencana sama sekali?

Bangun tidur di awal bulan, tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Tidak mengerti cara menikmati hari-hari baru di bulan Oktober. Hanya beranggapan dan membanggakan diri sebagai pengikut arus kemana dan apa saja yang akan terjadi selama arus hari-hari baru mengalir. Sungguh disayangkan. Terlalu.

Teringat masa lalu, ada kalimat penohok. Al waqtu ka syaif. In lam taqto’ qhoto’aka. Waktu bagaikan pedang. Jika tak berhasil menikmatinya, sungguh disayangkan, pedang tersebut akan terhunus dan memotong-motong keberdayaan kita. Artinya kejantanan dan kegagahan sebagai manusia muda mendadak jadi layu, ompong dan rapuh.

Oktober 2013 bulan yang baru datang. Semua manusia abad ini juga sama-sama baru bertemu, sama-sama baru masuk gerbang, sama-sama baru menghirup udara yang sama, tak terlupakan, sama-sama hidup di bawah langit Oktober. Tak ada alasan buat mengeluh. Mumpung, masih awal bulan dan semua kita sama-sama baru ngerasain hari baru Oktober.

Kita semua punya kesempatan melejit, kesempatan naik podium, berlari cepat, jauh, meninggi di atas permukaan. Tapi tergantung keberdayaan dan daya gugah kita selama menghiasi hari-hari yang ada, apakah sebagai korban arus, atau punya karya dengan banyak cetus.

Sumpah pemuda, puluhan tahun silam yang Declared. Kita adalah satu bangsa, kita satu tanah air, dan kita satu bahasa. Itu semua tidak akan buat kita berdaya kuat dan tinggi, selama kebanggaan bersatu hanya sekedar membahana di bibir pemuda. Apa gunannya kita satu bangsa? Satu tanah air? Satu bahasa? tapi tidak membuat karya yang dapat dilihat banyak orang, dipegang banyak orang, dan dinikmati sesama bangsa dan lainnya.

Dan karya itu tak akan pernah menjulang tinggi dan berganti dari wujud ghaib menjadi nyata tanpa menghias ‘cantik’ waktu demi waktu. Mimpi-mimpi besar rakyat Indonesia hanya akan terus berada dalam etalase saja, tidak pernah bisa keluar dan dikeluarkan, selama itikad produktif tidak berjalan dengan baik. Jika sumpah pemuda ini hanya terus membahana di bibir, apa bedanya dengan membohongi sumpanh pemuda nan lantang itu?

Akhirnya, kita berharap semoga kita sebagai pemuda berdaya gugah tinggi di bulan Oktober 2013 penuh dengan karya nyata dan kreatifitas yang menginspirasi. Semoga Tuhan maha jelita berkenan menjawab mimpi kita semua. Aminn.

Selamat hari baru. Selamat bulan baru. Selamat berkarya. Semoga karya baru bermunculan dari kalangan kita, kalangan pemuda yang dicap ikut bersumpah lantang.

Salam Hormat

Pemuda Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 12 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: