Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Hirwan St.saidi

putra asli kamang

Perang Kamang

OPINI | 12 March 2013 | 23:29 Dibaca: 237   Komentar: 0   0

Assalamu’alaikum,W.W. Saya Hirwan Putra Kamang Asli. Mohon maaf sebelumnya saya ingin menanggapi dari apa yg Saudara ceritakan dalam blog ini banyak yg tdk sesuai dengan realita Perang kamang 1908. Jika dicermati isinya diduga ada upaya untuk mengaburkan/membelokan sejarah Perang Kamang. Ini dapat dilihat antara lain :
A. Diawal penulisan sudah ditemui kekeliruan, yaitu “Kamang, dulu merupakan sebuah kelarasan yang mencakup Aur Parumahan, Surau Koto Samiak, Suayan, Sungai Balantiak. Setelah Kemerdekaan Kamang terbagi menjadi menjadi dua nagari yaitu Kamang Hilir dan Kamang Mudiak. Aur Parumahan menjadi Kamang Hilia, Surau Koto Samiak menjadi Kamang Mudiak”. Saudara Irwan Setiawan, perlu Saudara  sadari bahwa tulisan Saudara dibaca oleh banyak orang, pernyataan saudara ini sangat keliru dan tumpang tindih. Dikatakan sangat keliru karena :

a. Sewaktu memakai sistem Kelarasan (tahun 1870 - 1908),  nagari yang tercakup dalam Kelarasan Kamang adalah: Kamang, Bukik, Suayan, Sungai Balantiak. Belum ada nama nagari Aur Parumahan maupun Surau Koto Samiak. Kelarasan Kamang, Angku Larasnya  orang Kamang dan berkedudukan di Kamang, maka  disebutlah Lareh Kamang. Setelah Perang Kamang 1908 sistem kelarasan dihapus, diganti dengan Admisistratif Onderdistrik yang dikepalai oeh seorang Asisten Demang. Setelah memakai sistem Admisistratif Onderdistrik ini, untuk menghilangkan pengaruh  nama Kamang, supaya Perang Kamang jangan ditiru oleh nagari-nagari lain, sekitar tahun 1916 nama Nagari Kamang diganti dengan Aua Parumahan, Bukik  berobah nama menjadi Surau Koto Samiak.

b.    Tidak ada Nama Nagari Aur Parumahan menjadi Nagari Kamang Hilir, sebab setelah kemerdekaan tahun 1945 nama Nagari Aur Parumahan oleh Kerapatan Nagari telah  dikembalikan kepada nama aslinya  yakni “ Kamang”.

c.    Selanjutnya dikatakan tumpang tindih dapat dilihat dari, pertama “Setelah kemerdekaan Kamang terbagi dua (yaitu Kamang Hilir dan Kamang Mudiak),  kedua (Aur Parumahan menjadi Kamang Hilia, Surau Koto Samiak menjadi Kamang Mudiak).
Saudara Irwan Setiawan, untuk Saudara ketahui Nagari Kamang Hilia dan Kamang Mudiak bukan bukan Pemekaran Nagari.  Sebutan Kamang Hilia dan Kamang mudiak dimulai semasa  perang mempertahankan kemerdekaan tahun 1949.  diantara tokoh-tokoh waktu itu yang mengatas namakan anak nagari, antara lain Saibi St.Lembang Alam, Ak.Dt Gunung Hijau, Patih A, Muin Dt.Rky.Maradjo, dalam suatu rapat di Anak Air Dalam Koto  Kamang,  sepakat untuk menambah Hilir di belakang Kamang, sehingga menjadi Kamang Hilir,  sedangkan  Nagari Surau Koto Samiak dirobah menjadi Kamang Mudiak. Tujuan perobahan nama nagari seperti ini saya tidak tahu pasti, tetapi “kalau lai  ilmu mangana aka maminteh” jawabnya ada pada kita masing-masing.
Nagari itu merupakan satu kesatuan masyarakat hukum adat, adat salingka nagari cupak salingka suku. Secara jujur harus kita akui bahwa hukum adat Nagari Kamang  dengan hukum adat Nagari Surau Koto Samiak tidak ada sangkut pautnya. Kenapa Nagari Surau Koto Samiak mau berobah /menyangkut/memakai nagari  Kamang, ini saya rasa perlu dianalisa lebih mendalam.

B. Selanjutnya didalam uraian jalannya perang Kamang, Saudara mengutip jalannya perang kamang dari buku “Kamang Dalam Pertumbuhan dan perjuangan menentang Kolonialis yang  dikarang oleh Alimin Sutan Majo Indo, Terbitan Rehevi, Jakarta 1996”. Kemudian membelokan-belokannya serta mengurangi isinya menurut maunya Saudara sendiri yang bisa menimbulkan kekeliruan sejarah Perang Kamang. Ini dapat dilihat antara lain:
(1). “Pada senja hari, Belanda mulai bergerak mengepung rumah H. Abdul Manan untuk menangkapnya karena dinilai beliau lah yang menjadi dalang pergolakan adalah kaum agama.Tetapi H. Abdul Manan berhasil meloloskan diri dan segera menemui Dt. Rajo Penghulu di Kamang (sekarang Kamang Hilir) untuk berkonsultasi.Akhirnya bertiga dengan Kari Mudo dan beberapa orang pemuka lainya, mereka langsung mengadakan rapat kilat untuk membahas perkembangan yang sangat kritis dan menyusun kesiagaan seluruh rakyat guna mengobarkan perang sabil. Pasukan Belanda yang masuk dari Tanjung Alam dan Gadut bertemu di Kamang Mudiak Sekarang, Sehingga pejuang-pejuang dari Kamang (Kamang Mudiak dan Kamang Hilir) terkepung di Kampung Tangah”.  Kalau saudara menyebutkan Sehingga pejuang-pejuang dari Kamang (Kamang Mudiak dan Kamang Hilir) terkepung di Kampung Tangah. Ini adalah “keliru besar” tidak sesuai dengan realita pada waktu itu, pada waktu itu belum ada Kamang Hilir dan Kamang Mudiak, yang ada hanya Kamang (sekarang Kamang Hilir). Nagari Kamang Mudiak  belum memakai nama kamang seperti sekarang ini, masih bernama Bukik.  Pejuang Kamang yang pada waktu itu datang ke Kampung Tangah dibawah pimpinan M.Saleh Dt.Rajo Pangulu adalah untuk menyerang pasukan Belanda yang beristrahat di sana, bukan terkepung. (untuk lebih jelasnya baca Realita Perang Kamang).

(2). Kalimat yang Saudara  dikutip dari buku karangan Alimin sutan Majo Indo pada halaman 81 dan 82  yang tercantum ” Demikian pada pertempuran yang berlangsung sampai pukul 2.00 dini hari, Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi.Tentara Belanda berhasil dibuat kucar kacir.Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi.Pasukan inilah nantinya yang telah menimbulkan malapetaka terhadap pasukan rakyat, karena bertepatan fajar menyingsing mereka datang dalam jumlah yang sangat besar, sehingga babak kedua perang basosoh, segera meledak kembali.Akan tetapi lantaran pasukan itu terlalu banyak dan segar-segar, dilengkapi pula dengan senjata modern, akhirnya pasukan rakyat terpaksa mengundurkan diri. Dan bersamaan itu, berhentilah kegaduhan suasana perang bagai disapu dari bumi Kampung Tangah.Yang tinggal hanyalah keheningan yang ditingkah erangan suara manusia yang luka-luka di tengah desau angin dedaunan.Nun di ufuk timur, warna keemasan kelihatan menebari permukaan langit dan burung-burungpun mulai berkicau seperti hari-hari sebelumnya.Maka tercatatlah pagi itu sebagi sejarah berkabut di hati setiap bangsa Indonesia di dalam menentang kolonis Belanda. Lebih kurang 100 orang pejuang syahid di jalan Allah, termasuk H. Abdul Manan. Pasukan dari daerah Kamang barat (kamang hilir) pun banyak yang syahid di Kampung Tangah.  Di sini Saudara mengutip kalimat tidak secara utuh dan menukar subyeknya.
Kalimat aslinya adalah “Demikian pada pertempuran yang berlangsung sampai pukul 2.00 dini hari itu,bintang J.Westennenk sebagai pelaksana kolonial terlindung oleh bintang M.Saleh Dt.Rajo Pangulu sebagai pembuka perang.  Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi. Tentara Belanda berhasil dibuat kucar kacir. Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi. Pasukan inilah nantinya yang telah menimbulkan malapetaka terhadap pasukan rakyat, karena bertepatan fajar menyingsing mereka datang dalam jumlah yang sangat besar, sehingga babak kedua perang basosoh, segera meledak kembali. Akan tetapi lantaran pasukan itu terlalu banyak dan segar-segar, dilengkapi pula dengan senjata modern, akhirnya pasukan rakyat terpaksa mengundurkan diri. Dan bersamaan itu, berhentilah kegaduhan suasana perang bagai disapu dari bumi Kampung Tangah.Yang tinggal hanyalah keheningan yang ditingkah erangan suara manusia yang luka-luka di tengah desau angin dedaunan. Nun di ufuk timur, warna keemasan kelihatan menebari permukaan langit dan burung-burungpun mulai berkicau seperti hari-hari sebelumnya. Maka tercatatlah pagi itu sebagi sejarah berkabut di hati setiap bangsa Indonesia di dalam menentang kolonis Belanda. M.Saleh Dt.Rajo Pangulu bersama 70 orang anggota pasukan rakyat, syahid sebagai pahlawan bangsa, diantaranya terdapat dua orang srikandi yaitu Siti Asiah istri Dt.Rajo Pangulu dan Siti Anisah. Selain itu mengalami cacat, tercatat 20 orang.
Jika dilihat dua kutipan di atas, saudara  diduga ada upaya untuk mengaburkan siapa  pemimpin perlawanan rakyat tersebut, dan membelokkan/menukar sejarah Perang Kamang. Dalam kutipan tersebut tidak disebutkan siapa pemimpin Perang Kamang, dan juga telah menukar subyek nya. Subyek sebenarnya adalah  M.Saleh Dt.Rajo Pangulu bersama 70 orang anggota pasukan rakyat, syahid sebagai pahlawan bangsa, diantaranya terdapat dua orang srikandi yaitu siti Asiah istri Dt.Rajo Pangulu dan siti Anisah. Selain itu mengalami cacat, tercatat 20 orang.  Bukan yang ditulis Saudara Irwan Setiawan  {Lebih kurang 100 orang pejuang syahid di jalan Allah, termasuk H. Abdul Manan.Pasukan dari daerah Kamang barat (kamang hilir) pun banyak yang syahid di Kampung Tangah}. Kepada para pembaca sekali lagi diulangi pada waktu itu tidak ada Kamang Barat (Kamang Hilir ) yang ada hanya “Kamang”  (sekarang Kamang Hilir).

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: