Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ahmad Choirul Rofiq

Lahir di Ngawi, Jawa Timur. Sekarang tinggal di Ponorogo. "Semoga tulisan sederhana ini senantiasa BERMANFAAT."

Al-Maturidi Mendahului Al-Asy’ari dalam Sunni

OPINI | 04 March 2013 | 08:13 Dibaca: 240   Komentar: 0   0

Para sejarawan tidak begitu banyak yang menjelaskan tahun kelahiran al-Maturidi, meskipun tampaknya mereka hampir seluruhnya sepakat untuk mengatakan bahwa al-Maturidi meninggal dunia pada 333/944 dan dimakamkan di Samarqand. Hanya sebagian kecil saja dari kalangan penulis yang berpendapat lain. Di antara mereka itu adalah Tash Zadah yang menyebutkan bahwa al-Maturidi meninggal pada 332/943 atau 336/947. Untuk mempermudah perkiraan terhadap tahun kelahiran al-Maturidi, maka pembahasan masalah tersebut dihubungkan dengan tahun ketika guru-gurunya meninggal dunia. Di antaranya adalah Nusair bin Yahya al-Balkhi (w. 268/881) dan Muhammad bin Muqatil al-Razi (w. 248/862). Kemudian dari sini diperkirakan bahwa al-Maturidi kemungkinan besar dilahirkan sebelum 248/862. Apabila dia sewaktu menuntut ilmu setamat dari sekolah dasarnya berumur sekitar 10 tahun dan kemudian langsung berguru kepada Muhammad bin Muqatil al-Razi, maka setidak-tidaknya dia dilahirkan tahun 238/852. Jika perkiraan ini dibenarkan, berarti dapat disimpulkan bahwa dia mempunyai usia yang cukup panjang, yaitu 92 tahun. Berangkat dari perkiraan itu pula, dapat dikatakan bahwa al-Maturidi dilahirkan pada masa pemerintahan Khalifah al-Mutawakkil (232-247 / 846-861) dan pada saat terjadi pembunuhan terhadap al-Mutawakkil pada 248/862, al-Maturidi berumur 9 tahun. Al-Maturidi meninggal dunia pada masa pemerintahan Khalifah al-Muttaqi bin al-Muqtadir (329-333 / 940-944). Dengan demikian, dia dilahirkan 22 tahun sebelum kelahiran al-Ash’ari (w. 330/941). Ini berdasarkan informasi yang menerangkan bahwa al-Ash’ari dilahirkan pada 260/873, meskipun menurut keterangan lain, dia dilahirkan pada 270/883. Jika tahun 260/873 yang dipilih, maka al-Ash’ari sebenarnya baru mulai memberikan kontribusinya terhadap penegakan madhhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah pada 300/912 karena dia meninggalkan gurunya, Abu ‘Ali Muhammad al-Jubbai (w. 303/915), dan menyampaikan pernyataan keluar dari madhhab Mu’tazilah pada usia 40 tahun. Adapun al-Maturidi, yang semenjak dilahirkan pada 238/852 diketahui tidak pernah keluar dari madhhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, berperan dalam penegakan madhhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah sebelum tahun 300/912. Ini seandainya al-Maturidi menuntut ilmu selama kurang lebih 30-40 tahun.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

Waspada Komplotan Penipu Mengaku Dari …

Fey Down | | 21 December 2014 | 23:23


TRENDING ARTICLES

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 8 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 8 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 9 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 9 jam lalu

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: