Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Natalius Abidin

Temui Saya di Akun FB dan Twitter Saya, Tulisan saya selengkapnya di http://www.katanatalius.com selengkapnya

Tragedi Mandor dan Kalimantan Barat Tidak Ada Pahlawan Nasional

OPINI | 09 November 2012 | 19:14 Dibaca: 1516   Komentar: 2   1

Besok tanggal 10 November, diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh segenap bangsa Indonesia. Peristiwa Heroik yang terjadi di Surabaya pada 10 November 1945 yang menjadi dasar penetapan hari tersebut menjadi Hari Pahlawan.

13524628231578929563

Salah Satu Pemakaman Masal di Mandor

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya, begitu yang sering saya dengarkan. Begitu juga dengan bangsa ini jika ingin menjadi besar adakah juga harus mengenang jasa-jasa atas para pahlawannya yang berjuang dengan berbagai cara membela negara, mewujudkan kemerdekaan negara ini maupun mengisi kemerdekaan tersebut.

Berbicara pahlawan, kita tak bisa lepas dari jaman pergerakan kemerdekaan yang melahirkan manusia-manusia hebat, anak bangsa terbaik yang berani mati, berani mengorbankan apapun demi bangsanya, mulai dari Cut Nyak Dien, sampai Kristina Marta Tiahahu, mulai dari Pangeran Diponegoro sampai Pangeran Antasari. Mulai dari Tuanku Imam Bonjol Sampai Dwi Tunggal Bung Karno dan Bung Hatta, itu hanya segelintir masih banyak lagi nama-nama yang tak dapat disebutkan satu persatu bahkan banyak para pahlawan bangsa ini tidak diketahui namanya.

Masing-masing daerah di Indonesia memiliki putra-putri bangsa yang memikirkan nasib bangsanya untuk dapat keluar dari belenggu penjajahan baik itu pada jaman penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang, tak terkecuali di daerah saya yakni di Kalimantan Barat.

Selain tanggal 10 November masyarakat Kalimantan Barat secara khusus juga memiliki hari khusus untuk memperingati jasa-jasa para pejuang yakni pada tanggal 28 Juni, untuk memperingati dan mengenangkan jasa-jasa dan pengorbanan 21.037 korban Tragedi Mandor, yang jumlah tersebut ditolak oleh Jepang dan menganggap hanya membunuh 1000 orang saja. Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor yang menetapkan 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat. Masyarakat kalimantan Barat memperingatinya dengan memasang bendera setengah tiang di halaman rumah maupun halaman kantor pemerintahan dan swasta. Selain itu melalui Pergub Nomor 3 Tahun 2011 mengatur bahwa lokasi peringatan Hari Berkabung Daerah Tingkat Provinsi dilaksanakan di Makam Juang Mandor, Kecamatan Mandor Kabupaten Landak, sedangkan untuk tingkat pemerintah kota ataupun kabupaten, peringatan dilaksanakan di wilayah masing-masing.

Peristiwa Mandor sendiri adalah sebuah peristiwa pembantaian massal yang dilakukan oleh tentara-tentara Jepang, Peristiwa ini juga dikenal dengan istilah sungkup oleh masyarakat Kalimantan Barat, yakni kepala para korban keganasan penjajahan Jepang ini ditutupi menggunakan karung dan digiring ke Mandor sebelum di eksekusi dengan cara ditembak atau dipancung. Peristiwa ini terjadi antara September 1943 dan awal 1944, dan 28 Juni 1944 merupakan hari pengeksekusian para korban yang telah ditangkap dan disungkup. Yang menjadi Korban dalam Peristiwa Mandor Berdarah ini adalah yang dianggap oleh pihak Jepang sebagai kaum cerdik pandai, cendikiawan, para raja, sultan, tokoh masyarakat, serta orang-orang etnis Cina, serta para pejabat.

13524629851306671633

Raja Tayan, Salah Satu Korban Tragedi Mandor

Tetapi miris, peristiwa yang meneteskan darah para Pahlawan bangsa ini seolah nyaris terlupakan, setiap 28 Juni masih banyak masyarakat yang tidak turut serta mengibarkan bendera setengah tiang untuk mengenangnya, bahkan ada yang lupa dan bertanya “ada apa bendera dikibarkan pada hari ini?” Selain itu bentuk penghargaan kepada para pejuang dalam peristiwa ini seperti penganugerahan gelar Pahlawan Nasional juga tak menyentuh 1 nama pun dari 21.037 orang tersebut. Darah mereka seperti sia-sia.

Sungguh penjajahan adalah suatu hal yang mengerikan dan jangan sampai dilakukan oleh bangsa manapun di dunia, Peristiwa Mandor adalah salah satu contohnya, peristiwa Genosida atau pembantaian suatu etnis, atau kaum/bangsa.

Selain Peristiwa Mandor bukan satu-satunya peristiwa atau usaha pergerakan dan perlawanan Bangsa Indonesia di Kalimantan Barat, Masyarakat Kalimantan Barat juga mengenal nama-nama seperti Pangsuma yang merupakan Pejuang Kemerdekaan yang berjuang di daerah Meliau Kabupaten Sanggau, Sultan Hamid II yang merupakan perancang lambang negara ini, serta nama-nama seperdi Djeranding, Gusti Sulung Lelanang. Gusti Hamzah, M. Sood, Gusti Situt Mahmud, dan lainnya yang terkenal dengan istilah Digulis, pejuang dari Kalbar yang turut serta di buang ke Boven Didul. Namun nama-nama diatas belumlah dikenal bangsa ini, darah dan perjuangan mereka bahkan belum dianggap pantas untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Negara ini, menurut catatan saya Provinsi Kalimantan Barat hanya mencatatkan Satu orang Pahlawan Nasional yakni Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan, yang berasal dari Kabupaten Sintang. Apakah Kalimantan Barat tidak turut berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Namun berbagai catatan sejarah sudah seharusnya dijadikan oleh anak bangsa terutama kita yang ada pada saat ini agar dapat mengenang jasa-jasa mereka yang mempertaruhkan segalanya demi kemerdekaan bangsa ini, serta dapat menjadi contoh serta teladan agar bersemangat dalam upaya mengisi kemerdekaan yang telah dicapai dengan susah payah ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 6 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 8 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 13 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: