Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Lina Aris Fica Yuma

Mahasiswa semester 5Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI Semarang. Sangat tertarik dengan dunia jurnalistik. Ingin sekali selengkapnya

Pioner Peradaban Emansipasi Bangsa

OPINI | 06 December 2011 | 14:13 Dibaca: 240   Komentar: 1   1

Judul Buku : Kartini dari Sisi Lain

Melacak Pemikiran Kartini tentang Emansipasi

“Bangsa”

Penulis : Dri Arbaningsih

Tahun Terbit : Jakarta, Juli 2005

Penerbit : Kompas

Tebal buku : xiv + 218 ; 14 cm x 21 cm

Pioner Peradaban Emansipasi Bangsa

Mengulas masalah emansipasi atau yang sering di sebut gender ini memang tidak akan pernah surut untuk dikupas. Berbagai perspektif tentang gender pun sering mencuat dalam wacana-wacana lokal maupun nasional, bahkan ranah internasional sekalipun. Hal ini pun menciptakan diskursus yang terus bergulir sepanjang waktu. Masalah Gender ini akhirnya menjadi pokok setiap bilik bahasan analisis sosial pembangunan bahkan meluber hingga ranah politik, sosial, budaya, ekonomi, agama dan kancah kepemimpinan.

Raden Ajeng kartini adalah pencetus pertama dari perjuangan emansipasi kaum wanita yang berasal dari tanah Jawa, sekaligus pioner peradaban emansipasi pertama di indonesia. Namun, selama ini publik berasumsi bahwa Kartini hanyalah seorang pahlawan emansipasi wanita jawa. Padahal hal itu kurang tepat karena Wanita kelahiran Jepara ini telah menunjukkan ke-eksistensiannya dalam memperjuangkan emansipasi wanita di dalam jangkauan yang lebih luas lagi, yaitu emansipasi “bangsa” jawa. Begitulah penuturan penulis dalam bukunya ini.

Hal ini diperkuat adanya bukti otentik dari Kartini melalui surat-surat dan notanya kepada Menteri jajahan Indenburg dan Gubernur Jendral Rooseboom yang di lampirkan penulis. Ternyata perjuangan Kartini tidak hanya disitu saja, Pada tahun 1903 Kartini mendirikan Komunitas Kaum muda bernama Jong Java dengan pelajar STOVIA (School tot opleiding Van Inlandsche Arts), kemudian di susul dengan berdirinya Boedi Oetomo 1908 yang menelurkan Soempah Pemoeda 1928 yang tergoreskan dalam catatan sejarah Indonesia.

Di samping itu, penulis juga menceritakan tentang segala pengorbanan jiwa-raganya, tidak lain tertuju pada pendidikan yang mampu berfungsi sebagai instrumen pembuka sekat yang memisahkan manusia dari hakikatnya sebagai manusia yang merdeka dari kemiskinan dan kebodohan. Itulah inti gagasan Kartini yang terungkap secara implisit dan mendominasi surat-surat dan dua notanya.

Dan penulis juga membahas tentang Feodalisme dan Kolonialisme bangsa, Bacaan dan tokoh-tokoh yang mempengaruhi pandangan kartini serta Nasionalisme Bangsa Indonesia sebagai kesatuan dari pelbagai etnis yang terikat dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, yang di sajikan penulis dengan bahasa yang ringan dan mengena.

Buku ini sangat cocok dibaca terutama oleh pakar aktivis wanita, kaum feminis, politikus wanita, mahasiswa, dan semua kalangan yang menaruh perhatian terhadap usaha-usaha pelurusan sejarah bangsa yang sebenarnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 7 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 10 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: