Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Eka Ferliana

belajar dan belajar

Kartini dan Emansipasi Bangsa

OPINI | 15 November 2011 | 05:54 Dibaca: 243   Komentar: 2   1

Siapa Kartini?
Tanggal 21 April, kita memperingati hari lahirnya R.A. Kartini. Sebuah nama yang tentu tidak asing lagi ditelinga, seorang perempuan keturunan bangsawan Jawa. Sejak usia 12 tahun Kartini harus mengikuti salah satu tradisi Jawa yang berlaku waktu itu, yakni dipingit sampai kelak disunting oleh sesama bangsawan untuk dijadikan Raden Ayu (R.A). Kartini hanya diizinkan “mencicipi” bangku sekolah rendah sampai kelas 6 di ELS Jepara, sekolah elit pada waktu itu. Dan Kartini tidak diperbolehkan meneruskan sekolah oleh sang Ayah. Kartini pun tidak diberi kebebasan secara penuh mencapai cita-citanya karena sebuah sistem feodalisme di Jawa.

Selama menjalani pingitan Kartini selalu bersedih, sebagai pelipur lara Bupati Sosroningrat (ayahnya) dan Sosrokartono (kakaknya) setiap minggu mendatangkan leestrommel atau kotak bacaan. Kegiatan itu akhirnya menjadikan Kartini mengembangkan kemampuan berbahasa Belanda. Melalui membaca buku, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanita untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat kepada teman-temannya yang berada di negeri Belanda seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri.

Pemikiran Kartini
Dalam setiap coretan kata “jawa” dengan tintanya, Kartini menginginkan orang Jawa berpendidikan dan mampu berbahasa Belanda dengan baik. Agar Belanda tidak menghalangi Jawa berkomunikasi dengan mereka secara layak. Khusus menyangkut isu tentang wanita, Kartini berpendapat, seyogyanya wanita terdidik harus mampu berjuang menghapuskan tradisi pingitan, kawin paksa, poligami, pembodohan. Kartini berpendapat ada dua elemen penting masyarakat yang harus dicerdaskan terlebih dahulu yaitu kaum bangsawan yang akan membawa rakyat kepada kemajuan, dan wanita bangsawan yang akan mendidik pula anak perempuannya menjadi pendidik yang baik serta menjadikan anak laki-laki pemimpin masyarakat yang handal (Nota Kartini).

Perjuangan kartini tentu bukanlah hal yang mudah pada saat itu. Aturan ketat dari keluarga maupun kekuasaan feodalisme saat itu telah membatasi ruang geraknya untuk mencerdaskan dan mengakat derajat kaum wanita. Memang perjuangan Kartini bukanlah dengan memegang senjata atau pedang dan tombak melainkan perjuangan dengan memberikan semangat dan pemikiran bagi bangsa Indonesia terutama kaum perempuan untuk bisa maju seperti laki-laki dalam segala bidang, terutama dalam mengejar pendidikan dan ilmu pengetahuan. Meskipun hanya dengan berkeluh kesah melalui surat-suratnya kepada beberapa temannya di Belanda, ternyata telah membawa dampak yang positif bagi kemajuan perjuangan kaum wanita di negeri ini. Kartini akhirnya diizikan oleh suami untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Kartini memang telah berjasa mengubah pandangan feodalisme masyarakat jawa yang menempatkan seorang wanita pada posisi yang serendah-rendahnya. Ada aturan-aturan bagi wanita pada saat itu bahwa mereka harus dipingit ketika sudah memasuki usia baligh. Mereka tidak boleh lagi sekolah dan menuntut ilmu di luar rumah. Aturan-aturan feodalisme tersebut tentu telah membelenggu kaum wanita yang sebenarnya juga memiliki potensi sama seperti kaum pria.

Harapan Kartini
Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Buah pemikiran Kartini telah membuka kesadaran bagi terciptanya sebuah perubahan dalam konsep pemikiran yang kita kenal dengan semangat emansipasi. Kartini telah berhasil menjadikan perempuan Indonesia masa kini bisa sepadan dengan kaum pria. Profesi perempuan kini tidak lagi hanya sebatas menjadi ibu rumah tangga yang harus melayani suami dan mengurus anak-anaknya di rumah. Tapi lebih dari itu, perempuan telah berhasil menentukan nasibnya sendiri dengan menggeluti berbagai profesi dengan pendidikan yang dimilikinya sehingga tidak kalah dengan kaum pria. Kartini yang meninggal pada usia 24 tahun, pandangan Kartini lebih ditujukan untuk menuntut kemitraan antara wanita dan perempuan. Dengan demikian relasi sosial dalam kemerdekaan itu muncul kemitraan (konsep saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan).

Untuk Perempuan Jaman
Kita sudah banyak mengetahui bahwa kaum wanita Indonesia saat ini boleh dibilang sudah banyak kemajuan dalam berbagai hal. Tidak sedikit kaum wanita Indonesia saat ini banyak terlibat langsung pada pembangunan bangsa Indonesia dari berbagai bidang. Di dunia politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, militer dan lain sebagainya.

Kemajuan pesat yang dialami kaum wanita Indonesia saat ini adalah bagian dari rintisan para pejuang sebelumnya dan juga sebagai anugerah Tuhan yang begitu besar nilainya. Maka diharapkan bagi kaum wanita Indonesia, janganlah melupakan sejarah bangsa ini yang telah banyak dibangun oleh kaumnya sendiri. Selainnya itu teruslah berjuang untuk bisa lebih baik lagi mengangkat harkat martabatnya, karena di eraglobalisasi saat ini masih banyak kaum wanita Indonesia yang tertinggal dan tertindas dengan keadaan bangsa Indonesia yang kian tak menentu pada sistem yang berjalan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Topan Lain Akan Memasuki Filipina (Topan …

Enny Soepardjono | | 24 July 2014 | 08:53

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Dunia Prostitusi ‘De Wallen’ …

Christie Damayanti | | 24 July 2014 | 11:40

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 9 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 10 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: