Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Tika

Wanita biasa yang tidak punya pengaruh apa apa dan tidak bisa dipengaruhi

Kenapa lebaran identik dengan ketupat ???

REP | 06 August 2011 | 14:41 Dibaca: 1048   Komentar: 11   1

13125950661919296883

Lebaran, tidak komplit rasanya tanpa kehadiran ketupat, Meskipun sudah sedikit bosan (keseringan makan ketupat sayur sih...) dengan ketupat tetapi tetap saja bagi masyarakat Indonesia kurang afdol merayakan hari kemenangan itu tanpa ketupat dan rmasih tetap hadir di meja makan ketika lebaran tiba.

Pertanyaannya ialah dari mana asal muasal ketupat ini dan kenapa menjadi menu wajib saat lebaran. Berikut ini uraian dari semua pertanyaan diatas.

Ketupat atau kupat kependekkan dari ngaku lepat (mengaku salah), yang disimbolkan dengan anyaman janur kuning yang berisi beras lalu dimasak.

Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa, beliau membudayakan sebuah tradisi, yaitu setelah Lebaran, masyarakat setempat menganyam ketupat dengan daun kelapa muda lalu disii dengan beras. Setelah selesai dimasak, ketupat itu diantarkan ke anggota keluarga atau kerabat yang dituakan. Sejak itu, ketupat jadi lambang kebersamaan.

Selain itu, ternyata ketupat punya filosofi tersendiri yaitu anyaman-anyaman pada kulit ketupat itu mencerminkan betapa banyaknya kesalahan manusia. Setelah dibelah dua, terlihatlah isi ketupat yang berwarna putih, menggambarkan kebersihan dan kesucian hati manusia, setelah menahan nafsu dengan berpuasa dan memohon ampun atas segala kesalahan. Sementara itu, bentuk ketupat yang sempurna itu melambangkan kemenangan umat Muslim yang akhirnya mencapai hari yang Fitri

Nah sekarang sudah tahu khan sejarahnya ketupat. jadi, ternyata betapa besarnya peran para wali untuk memperkenalkan agama islam dengan tetap menghomati budaya setempat dalam mensiarkan agama baru yaitu Islam, salah satu contoh yang nyata adalah cerita tentang pandawa lima, beliau mengumpamakan pandawa lima itu sebagai rukun Islam (ada lima) sehingga agama Islam dengan mudah diteima oleh masyarakat pada masa itu.

Kini warisan dari Sunan Kalijaga ini masih tetap dipertahankan bahkan sudah bukan milik Jawa saja tetapi sudah menjadi makanan Asia tenggara, hal ini dapat dilihat di negara Malaysia masih dijumpai ketupat ini, hal ini terjadi akibat banyaknya orang orang Jawa yang bermukim di Malaysia.

Diantara para kompasioner yang berdomisili di Jawa mungkin masih ada uang melihat ketupat digantung di atas pintu masuk rumah katanya sih berfungsi sebagai jimat. Di Bali juga ketupat sering pula dipersembahkan sebagai sesajian upacara.

Kita juga sering menyebut Lebaran sebagai hari kemenangan karena menang benar benar merasa menang dan merdeka setelah melakukan puasa selama satu bulan lamanya dan berusaha melawan hawa nafsu yang benar benar berat dan bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus tanpa tahu maknanya.

Meskipun sekarang ini dengan mudah mendapatkan kulit ketupat di pasar, tetapi tidak ada salahnya bila kita berusaha untuk tetap melestarikan warisan Sunan Kalijaga ini untuk mengetahui proses pembuatan kulit ketupat. Tanpa kita siapa lagi yang akan melanjutan budaya ini. Selamat mencoba ya….

catatan : Informasi didapat dari berbagai sumber

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 11 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 15 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: