Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Marsha Devana Wahab

Gadis biasa di khatulistiwa. Begundal yang manis. Pemberontak yang santun. Pemuda harapan bangsa. marshawahab@gmail.com. selengkapnya

Gerwani , Perempuan, serta Status Facebook Saya

OPINI | 06 June 2011 | 02:37 Dibaca: 747   Komentar: 0   1

Kami bukan lagi bunga pajangan

Yang layu dalam jambangan

Cantik dalam menurut

Indah dalam menyerah

Molek tidak menentang

Ke neraka mesti mengikut

Ke sorga mesti menumpang

….

Kami telah berseru

Dibalik dinding-dinding pingitan

Dari dendam pemaduan

Dari perdagangan di lorong malam

Dari kesumat kawin paksaan

KAMI MANUSIA!!

(Sugiarti, LEKRA 1962)

Cantik. Sebuah gambaran mumpuni keelokan sosok hawa yang diturunkan sebagai pendamping sang Adam di atas bumi. Membutakan. Memabukkan. Dan terkadang membuat banyak orang gila tanpa lagi mendasarkan rasionalitas logika sebagai jalan berpikir.

Tapi benarkah ia adalah pendamping?

Atau sekedar pelengkap tak penting yang berkutat pada dapur-sumur-kasur?

Sumbadra? Atau Srikandi? Mana yang layak disandang wanita masa kini?

Mungkin, tulisan saya kali ini akan terkesan menyudutkan satu pihak tertentu. Mungkin juga tidak.

Terserah Anda.

Bagi saya, kebebasan menulis sudah merupakan harta berharga yang beruntung sekali saya dapatkan di jaman ini. Tidak seperti kaum saya di masa lampau. Alhamdulillah J

Saya, seorang perempuan pelengkap tak penting pendamping pria.

Getir ya? Hahaha.

Oke, seperti biasa. Segala sesuatu yang saya tulis, akan bermula dari pengalaman. Pengalaman adalah guru yang berharga, bukan begitu guys?

Namun kiranya lebih baik, saya utarakan sebelumnya, bahwa perempuan pun bisa menjadi insan yang militan, perduli, serta berguna bagi bangsanya, bagi keluarganya, serta untuk semua individu yang membutuhkannya.

Anda semua ingat Gerwani?

Pastinya ingat, organisasi perempuan terkemuka di Indonesia ini pernah begitu mashyur namanya, panji-panjinya berkibar di penjuru negeri. Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah salah satu organisasi yang membuat Indonesia begitu terkenal di kancah internasional, dikenal aktif dalam menyumbangkan ide untuk menyelesaikan isu nasional maupun internasional. Penanggulangan kemiskinan, harga sembako yang mahal, minimnya pendidikan untuk anak-anak, serta perlindungan kaum pekerja perempuan. Tak heran, di era 1950-1960an, Gerwani menjadi salah satu organisasi terkuat dan paling vokal serta disegani di tiap kongres WIDF (Women’s International Democratic Federation) Wakil-wakil Gerwani di kancah WIDF seringkali menimbulkan kesan positif, dari literatur yang saya baca, beberapa wanita pekerja yang tergabung dalam SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) yang sempat ikut mewakili Indonesia dalam kongres WIDF di Jerman selalu mengagumi anggota mereka, yang beberapa juga menjadi anggota Gerwani.

“Mereka sangat vokal, berbicara dengan baik sekali, tak ayal banyak orang memandang hormat kepada kami, karena kepandaian serta kelihaian wong Gerwani itu berbicara, padahal kita adalah wakil negara yang baru merdeka,” Tutur Damila, aktivis Serikat Buruh Unilever yang berada dibawah naungan SOBSI.

Keberadaan Gerwani saat itu, menjadi penolong paling berarti bagi banyak buruh perempuan di penjuru negeri. Bayangkan saja, buruh perempuan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih kecil dari buruh laki-laki, padahal jam kerja mereka sama. Seringkali, buruh perempuan mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari pihak pengusaha, seperti tidak mendapatkan cuti haid, bahkan saat itu, banyak ditemui buruh perempuan di pabrik batik daerah Jombang yang masih bekerja saat mereka hamil di usia kandungan 9 bulan, dimana semestinya, sudah mendapatkan cuti untuk melahirkan. Fakta ini banyak ditemui oleh anggota Gerwani, atau anggota SOBSI yang merangkap menjadi anggota Gerwani pula. Tak jarang, mereka turut menjadi pekerja di pabrik-pabrik, atau pusat industri untuk meneliti lebih jauh, apa yang dialami oleh buruh perempuan, yang hampir 40 persen diantaranya buta huruf, dan tidak mengenyam masa pendidikan yang pantas.

Gerwani, serta biro perempuan SOBSI dinilai dua organisasi yang paling berhasil menekan pemerintah terhadap pelaksanaan Undang-Undang Perburuhan Tahun 1951 yang menyangkut cuti haid dan hamil, serta hak yang sama dengan buruh laki-laki. Gerwani juga menyediakan wadah konseling bagi buruh perempuan yang mengalami pelecehan seksual di tempat mereka bekerja, karena di jaman itu, hal tersebut sangat lumrah terjadi. Suami yang tidak terima terhadap kehamilan sang istri atas perkosaan seringkali meninggalkan si perempuan dan keluarganya, tanpa mau memahami, bahwa kaum perempuan pekerja di zaman itu mengalami tekanan yang begitu berat, bahwa hal-hal semacam itu bukanlah salah mereka.

Dengan koordinasi yang efektif dengan cabang-cabang di seluruh Indonesia, Gerwani berhasil mendirikan sekitar 1500 Taman Kanak-Kanak Melati, sekaligus balai penitipan anak diseluruh Indonesia. Beberapa kali sebulan, balai tersebut mengadakan penyuluhan untuk ibu-ibu yang kebanyakan adalah kaum pekerja. Mereka diajari membaca, diberikan majalah, bahkan media lainnya, untuk membuka wawasan kaum perempuan. Taman Kanak-Kanak serta balai tersebut sangat bermanfaat bagi buruh wanita di Indonesia, mereka bisa tenang bekerja, serta bisa menunggui anaknya sembari mendapatkan pendidikan sederhana dari anggota Gerwani.

Menyedihkan? Jelas. Saya hampir tak menyangka, betapa sulitnya menjadi perempuan pekerja sekaligus tonggak rumah tangga di era itu. Belum lagi dengan angka poligami yang sangat tinggi, Sulami, mantan pimpinan Gerwani mengatakan bahwa, seringkali, laki-laki di era itu berpoligami karena sang istri bekerja, dan jarang di rumah. Bukankah ia menjadi wanita pekerja, berjuang di lingkungan kerja yang sangat diskriminatif saat itu, semata-mata untuk membantu keuangan keluarga?

Untuk apa saya capek kerja, kalau kebutuhan sudah terpenuhi seratus persen? Daripada misuh-misuh marah sama suami, nyuruh suami cari duit lebih banyak, kenapa saya nggak ikut kerja saja, ya toh?? Kok dibilang banyak maunya,” Kusnah, Unilever.

Gerwani juga menggodok pemerintah untuk membuat UU Perkawinan yang pro terhadap perempuan, seperti penetapan usia layak menikah bagi perempuan, dimana saat itu, era 50 sampai dengan pertengahan 60an angka pernikahan perempuan di usia 12 sampai dengan 16 tahun mencapai 35 persen, hal ini dinilai menjadi alasan mendasar tingginya angka kematian perempuan saat melahirkan, karena menikah di usia remaja, saat kondisi rahim dinilai kurang baik untuk hamil. Tercatat, Gerwani berhasil mengumpulkan 3000 massa perempuan pada tahun 1963, 2000 diantaranya pelajar, untuk berdemonstrasi di Istana Negara, menentang perkawinan paksa seorang gadis 14 tahun asal Tegal dengan seorang pria berusia 60 tahun (Harian Rakyat, Oktober 1963).

******

Kami bukan lagi sekedar melahirkan prajurit

Tapi kami sendiri adalah prajurit

Bukan sekedar istri pahlawan bangsa

Karena kami sendiri pahlawan bangsa

Dan ketika benteng-benteng zaman dihancurkan

Dan kaum pekerja bangkit berdiri di tanah air

Tak lagi kita sekedar menengok ke kubur

Membaca doa dan meratap bagi yang gugur

Kita pun bagian dari barisan terdepan

(Sugiarti, LEKRA 1962)

Sulit ya?

Sangat. Di zaman dulu, wanita dituntut untuk menurut pada kebudayaan konsevatif ala Sumbadra, istri Arjuna yang lemah lembut. Figur ibu rumah tangga sejati. Menjadi Ibu yang baik, serta istri yang setia. Namun seringkali harus turut banting tulang memenuhi kebutuhan hidup, bekerja diluar rumah, menitipkan anak di taman kanak-kanak, terkadang pulang terlambat menjadikannya di cap “jarang dirumah” oleh kaum lelaki, dan melegalkan alasan untuk menikah lagi.

Anak saya sudah 3, dua masih kecil-kecil, kalau bekerja, saya titipkan ke balai, terkadang yang satu saya bawa, sudah repot begini, saya bantu cari uang, suami malah kawin lagi. Nggak ngerti. Pernah ada kawan saya yang membanting bayinya saat sedang bekerja karena stress ditinggal suami,” Supeni, buruh pabrik minyak sayur. (1957)

Bisa kita lihat, bahwa sangat berat menjadi perempuan pekerja di masa itu, saat figur Sumbadra harus dipatuhi dengan taat, namun tak bisa melawan paksaan kehidupan untuk berjuang demi keluarga. Seringkali mendapat perlakuan diskriminatif, pelecehan seksual, kawin paksa, tak jarang banyak buruh perempuan muda yang hilang tak berjejak, yang ternyata menjadi korban penculikan untuk dijual di losmen-losmen pelacuran, sungguh jaman transisi yang terbilang edan.

Mereka adalah Srikandi. Gerwani juga para buruh wanita nan perkasa ini. Gerwani memiliki peran yang sangat besar bagi ribuan buruh perempuan di Indonesia saat itu, baik dalam menuntut hak kesamarataan penghasilan, juga memberi mereka wadah untuk mendapatkan pendidikan sederhana, sekaligus menjaga anak-anak mereka. Para buruh ini pun juga merupakan potret sederhana bahwasanya perempuan juga mampu berjuang, perempuan boleh bermimpi, perempuan boleh memiliki target hidup, perempuan berhak untuk mengembangkan diri. Dan ini menjadi suatu keniscayaan bagi perempuan di masa kini.

Fitnah yang dihadapkan kepada Gerwani pun tak menyurutkan kekaguman banyak pihak kepada mereka. Termasuk saya. Setelah kudeta subuh, 1 Oktober 1965, Gerwani dicap sebagai organisasi pro PKI, yang dituding oleh pihak militer sebagai perempuan yang menyiksa tujuh perwira AD di Lubang Buaya, sambil menari-nari tarian cabul (Tarian Harum Bunga), mencungkil mata para jendral, serta memotong alat kelaminnya.

Laporan autopsi dengan jelas menyebutkan semua luka yang ditemukan dalam tubuh para jendral dan seorang letnan berupa luka tembak, satu luka sobekan panjang, di perut, luka lainnya akibat benturan dinding sumur sedalam 11 meter, alat kelamin mereka dalam keadaan utuh, tidak ada bekas apapun yang menunjukkan mata mereka di cungkil,” (Anderson, Lecrec 1987)

Sujinah, anggota Gerwani yang berada di Lubang Buaya pada 30 September, akhirnya berani membuka mulut pada organisasi Syarikat setelah Orde Baru runtuh, tentang kejadian malam itu.

Saya terbangun subuh hari, 1 Oktober, diluar sangat bising, beberapa wanita muda berteriak-teriak sambil menangis. Kami disana untuk mengurus dapur umum, menyediakan makanan bagi para peserta pelatihan, Gerwani dan banyak organisasi lainnya sudah terbiasa membantu jika ada pelatihan sejak Konfrontasi dengan Malaysia, yang kami lihat sekelompok serdadu menyeret beberapa jendral yang diculik, mereka dipukuli, ditendang, lalu dilemparkan ke sumur, satu jasad di tarik dari truk, lalu semuanya dilempar ke sumur, bahkan saat sudah tewas, para serdadu masih menembak jasad-jasad yang sudah terlempar di sumur, sambil meneriakkan “Kabir! Kabir!” dengan lantang. Saya ditarik kearah sumur, seorang serdadu memberi saya sepucuk senjata, mereka paksa saya untuk menembak, karena takut, saya tarik pelatuk satu kali. Tidak pernah ada tarian harum bunga, tidak pernah ada penyiksaan para jendral. Jangankan menari, melihat serdadu datang berlarian dengan penuh amarah kami sudah takut,para jendral itu ketakutan menghadapi maut, mereka diseret, tidak berdiri tegak lalu disiksa seperti yang Berita Yudha katakan, saya ditahan 14 tahun tanpa diadili, mereka menyiksa saya sampai pingsan” (Sujinah)

Saya menyaksikan para serdadu menyiksa para jendral, karena takut, banyak diantara kami yang lari pulang, jam 9 pagi saya ditangkap, ditahan dipenjara, saya disiksa, ditendang, mereka melucuti pakaian saya dan beberapa perempuan lain, kami kemudian disuruh menari-nari sambil dipotret,” (Siti Aripah)

Kebohongan yang selama 32 tahun disulam oleh Soeharto dengan pemerintahan Orde Baru memang berhasil membungkam mereka, membuat gerakan perempuan menjadi mandek, tidak adalagi gerakan militan untuk membela buruh wanita, balai-balai penitipan anak ditutup, guru-guru yang mengajar di Taman Kanak-Kanak Melati di tangkap dan di buang ke Plantungan, dianggap sebagai pendoktrin pemikiran salah kepada anak-anak Indonesia. Organisasi perempuan kembali dipaksa berafiliasi pada tokoh Sumbadra, tunduk dibawah pemerintahan dalam bentuk Dharma Wanita dan PKK. Tidak ada lagi Srikandi militan pelindung kaum anak-anak anak buta huruf serta pembela buruh wanita itu. Mereka dibunuh bersamaan dengan tewasnya 7 perwira di Subuh Berdarah, 1 Oktober 1965.

****

“Kini, ketahuilah sampai dimana girang hati, rasa hina dan maluku, aku telah dipertunangkan dengan Bupati Rembang, seorang duda dengan enam anak dan tiga istri. Aku tak perlu banyak bercerita padamu bukan? Kamu cukup mengetahui diriku, biarlah menjadi penghiburan bagimu…” (Surat Raden Ajeng Kartini 14 Juli 1903)

Suatu ketika, di negeri antah berantah bernama Republik Facebook, seorang pria muda membuat status yang berisikan pengharapan akan masa depannya. Ya, bunyinya kira-kira seperti ini :

Pengen jadi orang sukses, jadi orang kaya, kuliah setinggi-tingginya, bisa naik hajiin ortu, terus nikah. Amieen.

Pengharapan yang baik saya rasa. Dan tidak salah. Apa salahnya seseorang bercita-cita dan memiliki target hidup?

Seketika, rekan-rekan si cowok kemudian mengomentari dengan nada dukungan. “Amien bro,” atau “Amieeen. Semoga sukses bro,”, ada juga yang bilang, “Banyak berusaha bro, semoga sukses,”.

Harapan yang baik? Jelas. Teman yang mendukung. Sangat jelas.

Tapi bagaimana ketika saya, seorang perempuan bau kencur yang dikatakan belum memahami arti hidup, pelengkap, dan sekedar pendamping ini, membuat status Facebook serupa?

Rekan-rekan sekalian, perlu diketahui, beberapa saat yang lalu sempat terjadi sedikit “pertumpahan” di status Facebook saya. Apa bunyinya? Ya tidak jauh beda dari status di atas. Sekedar pengharapan saya ingin mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, keinginan saya membahagiakan orang tua, dan menjadi perempuan sukses dunia akhirat. DONE.

Bagaimana tanggapan orang-orang? Hampir 80 persen berkomentar sedikit “lain” dengan pemikiran saya ;

“Boleh-boleh saja, asal ingat kodrat,”

“Amien. Tapi tetap ingat kodrat Sha, sebagai perempuan,”

“Perempuan nggak bakal bisa sejajar dengan laki-laki, pindah ke venus aja kalo gitu,”

Atau, “Yang penting harus menaati kodrat sebagai perempuan,”

Dan komentar panjang lebar lainnya berisikan hal-hal yang pantas dilakukan perempuan.

Oke. Saya tarik napas dulu. Saya harus tarik napas sekuat-kuatnya, walau saat menuliskan ini, kejadian tersebut sudah cukup lama berlalu, namun hati saya tetap panas.

Panas karena cemburu.

Getir tak berkesudahan.

Jeng-jeng-jeng.

Saya cemburu, mengapa seringkali, ketika saya, seorang wanita muda biasa bercita-cita, selalu diingatkan dengan embel-embel ingat kodrat? Seolah-olah ketika wanita bercita-cita, atau bahkan berkarir, ia langsung lupa diri, langsung melupakan bahwa dirinya adalah perempuan. Seolah-olah ketika perempuan berkarir, secara serta merta, seluruh wanita di atas bumi akan melupakan kodratnya.

Tuhan maha Adil. Sangat adil hingga ia membagi kodrat dua makhluk tertingginya dengan begitu rupa. Memangnya laki-laki tidak punya kewajiban? Tidak punya kodrat? Bukankah ia juga memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya? Menjadi ayah yang baik serta bertanggung jawab bagi anak-anaknya? Saya mahasiswa hukum, setahun belakangan, saya sempat bolak-balik Pengadilan Agama untuk keperluan praktek, angka gugat cerai oleh perempuan meningkat drastis dari tahun ke tahun. Banyak sekali wanita yang mengikuti sidang gugatan tanpa dihadiri suaminya, alasannya? Ternyata sang suami sudah tak pernah pulang selama berbulan-bulan, bahkan tahunan, tanpa nafkah apapun. Mereka menggugat cerai karena ingin melanjutkan hidup, menikah dengan pria lainnya, yang sanggup dan mau menafkahi dirinya serta anaknya. Bukankah pria-pria tersebut sudah melalaikan kewajibannya? Berapa banyak anak Indonesia yang disiksa oleh ayah kandungnya? Berapa banyak wanita yang tewas di tangan suami? Berapa banyak remaja muda menjadi perkosaan ayah kandungnya sendiri? Kejadian tersebut ada dan nyata bukan? Artinya, seorang pria pun bisa lalai, bisa melupakan kodratnya. Lantas, mengapa selalu perempuan yang ditekankan akan kodrat, sementara fakta berbicara bahwasanya dua insan ini, sama-sama memiliki kodrat masing-masing serta kecenderungan untuk melalaikannya? Mengapa hanya perempuan?

Sampai kapanpun perempuan nggak akan bisa sejajar sama laki-laki,”. Saat melihat pernyataan ini saya langsung hendak menangis. Apa hubungannya dengan cita-cita? Apa hubungannya dengan keinginan berkarir seorang perempuan? Apakah ketika seorang perempuan memiliki cita-cita, serta berkarir, berarti dapat dipastikan bahwa ambisi semua perempuan-perempuan tersebut adalah “mensejajarkan dirinya” dengan laki-laki? Sempit sekali.

Sialnya, saya tidak hanya mengalami ini dari sekedar cuap-cuap di Facebook, tak jarang dalam obrolan ringan, saya juga mengalaminya, pernah pula melihat seorang rekan pria berkata, “Mimpi jangan ketinggian, cewek tu di dapur, banyak maunya,” saat seorang rekan perempuan saya mempertimbangkan untuk kuliah kedokteran.

Atau ketika saya bertanya kepada dosen tentang kuliah S2, kemudian ada rekan pria yang berkata, “Ngapain S2? Ntar kamu telat nikah, kalau cewek S2, jarang cowok mau kawinin,”. Atau, “Kuliah S2 itu bagusnya cowok, kan dia yang cari nafkah,” bahkan saya pernah dengan teman pria yang berucap sambil tertawa, “Kalo cewek itu kuliah tinggi-tinggi, ntar anaknya nggak keurus,”.

Seolah-olah ambisi pendidikan hanya berhak dienyam oleh pria.

Sri Mulyani bisa kan? Siti Fadhilah Supari juga bisa. Wanda Hamidah, Angelina Sondakh, Marie Elka Pangestu, mereka bisa. Kenapa saya dan kawan-kawan tidak? Apa kami sudah dinilai tidak sanggup duluan?

Pemahaman konservatif ala Sumbadra yang yang ditanamkan Pak Harto ternyata masih mengakar di kepala masyarakat kita. Perempuan bekerja ; “Hei, ingat kodrat!”. Perempuan bercita-cita : “Oke aja sih, asal ingat kodrat ya,” Perempuan ingin kuliah setinggi-tingginya : “Ngapain, ntar di dapur juga,”. Pria bekerja, pria bercita-cita : “Wajar toh, kan kepala keluarga,” Duh, Pak Harto, apa salahku??

****

Kejatuhan Perempuan hanya bisa dibasmi melalui kesempatan mengembangkan diri, serta pendidikan,” (Maria Ulfah Santoso)

Kudeta 46 tahun silam itu telah membunuh Gerwani. Mematikan langkah organisasi perempuan terkemuka dan termashyur yang pernah dimiliki Indonesia. Organisasi perempuan yang mengibarkan panji-panji merah putih di tiap kongres WIDF yang dikenal juga sebagai pemerhati buruh wanita Indonesia ini berhasil diruntuhkan. Turut terseret perempuan yang tergabung dalam Barisan Tani Indonesia, SOBSI, karena dinilai sebagai kelas pekerja pembangkang pro PKI, dimana pada faktanya, yang mereka perdulikan hanyalah mengepulkan asap dapur mereka. Hingga kini, saya masih belum begitu memahami, apa yang ditakutkan oleh militer terhadap Gerwani, serta buruh yang tergabung di beberapa organisasi hingga dimusnahkan, dibantai, dibunuh, disiksa, ditahan belasan tahun tanpa diadili, oleh suatu tuduhan yang bahkan tidak mereka pahami. Banyak sekali perempuan yang gugur menjadi korban, hanya karena keanggotannya pada Gerwani, BTI, SOBSI, atau Pemuda Rakyat, dan banyak Organisasi lainnya yang dinilai berbahaya oleh militer saat itu. Satu hal yang tak akan pernah berhasil mereka bunuh : semangat perempuan untuk menjadi tonggak kehidupan yang lebih baik.

Kami perempuan biasa, yang kebetulan memiliki cita-cita, tidak akan berhenti pada anggapan bahwa dengan bercita-cita serta berambisi untuk berkarir adalah sikap membangkang pada kodrat yang Tuhan berikan. Bukankah istri Rasululullah, Khadijah merupakan saudagar kaya yang pandai berdagang? Dimana karirnya sebagai Saudagar begitu gemilang. Tidak salah bukan, ketika banyak wanita ingin seperti dirinya?

Katakan pada Umi Sardjono, Ketua Gerwani, yang meneriakkan Indonesia raya dengan lantangnya ke seluruh wanita Indonesia, mengenggam pena saat menjadi wakil Gerwani di tiap kongres Internasional, memegang jari-jari rapuh para buruh wanita yang menjadi korban diskriminasi tempatnya bekerja dengan tangan kiri, serta menyediakan makanan untuk suami, dan membuai anak-anaknya dengan kasih sayang dengan tangan kanan.

Katakan pada Kusnah, buruh pabrik Unilever, yang bertekad bekerja untuk kehidupan yang lebih baik, lalu disiksa dengan begitu kejamnya.

Katakan kepada Sumarmiyati, mahasiswi IKIP Yogyakarta yang memiliki cita-cita luhur tinggi, namun dianggap militan, lalu menjadi bulan-bulanan militer hingga sakit tak terkira.

Katakan pada Siti Arifah, yang berjuang dengan gagah berani, mengajari para buruh perempuan membaca, disela-sela menunggui anak bersekolah.

Katakan pada ribuan wanita buta huruf di zaman itu, yang terpaksa bekerja dibawah tekanan, yang diperkosa majikannya saat bekerja, yang dikawinkan secara paksa oleh keluarganya.

Katakan pada Raden Ajeng Kartini yang menjadi ikon keinginan perempuan untuk bersekolah, yang meninggal saat melahirkan anak dari perjodohan orang tuanya.

Katakan pada semua wanita yang dengan gigih bercita-cita, yang berjuang dalam bekerja. untuk hidupnya, buruh kasar ataupun pekerja, mereka yang menjadi korban di masa lampau, bahwa bara api itu masih ada. Bahwa semangat itu masih ada.

Semangat yang harus kami, para perempuan biasa di masa kini miliki, untuk menjadi lebih baik, menjadi tonggak kehidupan yang layak bagi diri pribadi, keluarga, bangsa dan negara.

Semangat yang berhak kami pertahankan untuk tetap bercita-cita, memiliki ambisi dan keinginan untuk meraih pendidikan tinggi tanpa harus terkekang oleh penyiksaan demi penyiksaan tak berprikemanusiaan seperti yang telah mereka alami di masa silam. Memiliki mimpi untuk menjadi wanita perkasa, berpendidikan, memiliki pekerjaan yang layak, yang berhak kami pertahankan di era kebebasan memilih saat ini, saat kami tak perlu takut untuk dibungkam.

Semangat yang tetap ada beriringan dengan kewajiban kami sebagai perempuan. Sebagai Srikandi perkasa yang menolong kawan hidup mencari nafkah, merawat anak-anak dengan baik, serta memenuhi kepuasan batin untuk memiliki karir, serta mengenyam pendidikan.

Hak untuk bercita-cita yang pantas kami dapatkan. Hak untuk mempertahankan cita-cita kami tanpa bisa tersudutkan dan dijatuhkan, serta dilarang dan dijegal atas nama kodrat yang faktanya, memang dimiliki oleh semua insan manusia.

Sudilah kiranya, dunia mengerti bahwa cita-cita luhur bukan menjadi alasan bahwa perempuan pasti akan menjadi monster pembangkang ketika memenuhi kepuasan batinnya untuk menjadi lebih baik.

Percayalah saudara-saudara, bara Srikandi itu masih ada.

“Nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan, Perempuan itu tiang masyarakat,” (Pidato Presiden Soekarno, Sinar Harapan 22 Desember 1965)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sumber Air Bersih di Desa Kami Semakin …

Tarjum | | 19 December 2014 | 21:08

JKN “Mimpi” bagi Masyarakat …

Yosua Panjaitan | | 20 December 2014 | 07:22

Sepinggan, The Best Airport 2014 …

Heru Legowo | | 19 December 2014 | 18:10

Salah Penggunaan, Bubuk Protein Potensi …

Novia Cristi | | 20 December 2014 | 07:13

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 4 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 11 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 12 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: