Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Masnino

Mahasiswa UGM

Tentang Kebakaran Pasar dan Keseimbangan

OPINI | 28 July 2013 | 15:42 Dibaca: 224   Komentar: 0   0

Pagi ini, ketika nyawa masih terkumpul setengah, aku bangun dan berniat untuk turun ke meja makan. Menyambut hidangan sahur yang sudah menanti. Sebelum turun aku menyempatkan membuka gadget untuk ngecek beberapa notifikasi yang masuk, salah satunya dari group chatting teman SMA. Ternyata percakapan di group itu membuat nyawaku yang tadinya baru setengah menjadi terkumpul semua karena kaget. Kios salah satu teman SMAku ikut terbakar dalam kebakaran pasar baledono, Purworejo dini hari tadi.

Membuka linimasa twitter tentunya tentang kebakaran sudah berseliweran,  sudah ada portal berita yang memberitakan, twitpic dari para pewarta dadakan yang mudah mudahan kalaupun tidak membantu menolong, tidak menghambat penanganan kebakaran, bahkan twit dari orang orang yang otaknya kurang panjang untuk tidak menjadikan sebuah musibah bahan lelucon. Karena ga semua orang bisa berpikir bagaimana perasaan korban sebuah musibah yang musibahnya dijadikan lelucon, sampai mereka sendiri yang terkena musibah.

Memasuki waktu imsak, setelah kucukupkan sahurku, kusempatkan untuk membuka gadget kembali, ada beberapa info (entah benar atau tidak), yang mengatakan kalo kebakaran belum juga berhasil dipadamkan.  Wah, parah juga ya?

Jadi teringat kisah tentang mansa musa, yang pergi haji. Raja Mali yang kaya raya dari benua afrika ini berangkat haji dengan membawa 100 ekor unta yang masing masing unta mengangkut 135 kg emas.  Sesampainya di kairo, yang waktu itu sedang demam emas, mansa musa membagikan emasnya ke penduduk kairo. Hasilnya? Terjadi inflasi di kairo. Harga emas menurun drastis, dan butuh 10 tahun untuk memulihkan harga emas ke kondisi semula.

Aku memang bukan ahli ekonomi, tapi menurut logikaku, kalo banyaknya supply barang bisa menurunkan harga, harusnya berkurangnya supply bisa menaikkan harga. Boleh jadi salah satu efek domino dari kebakaran pasar adalah naiknya harga barang karena pasti supplysupply barang berkurang dan distribusi barang jadi terhambat . Ditambah lagi demand yang tinggi menjelang hari raya.

Kebakaran pasar juga membuat perputaran duit mandeg. Daya beli masyarakat sekitar pasar pasti akan turun di saat harga harga barang naik. Masih dari group chatting tadi, aku mendapat cerita kalo teman yang kehilangan kiosnya tadi sangat terpukul. Itulah kenapa tadi pagi aku ngetwit “Semoga pedagang baledono cukup tough dan bisa segera bangkit, mumpung mau lebaran. Demand masih tinggi. Dan pemkab bisa kasih solusi.

Kenapa Pemkab? Ya kerena dengan melihat efek dominonya, kebakaran pasar sudah menjadi masalah bersama untuk sebuah daerah.  Pemprov? Ah, pemilihan gubernur sudah lewat. Heheu.

Pak Lurah Nggawa Bedhil, Gusti Allah maha adil.

Sesungguhnya, setiap partikel di dunia ini, dari yang terbesar sampe atom yang terkecil sudah punya orbitnya masing masing. Dan untuk mengorbit, kuncinya adalah keseimbangan energi. Adanya energi yang terlalu besar dari luar, bisa membuat atom tereksitasi. Bahasa mudahnya pindah jalur karena keluar dari orbitnya. Ataupun sebaliknya, bila terjadi sebuah eksitasi elektron,  maka dibutuhkan energi pengganti untuk orbit lama yang ditinggalkan itu.

Menurutku, begitu juga dengan perputaran rejeki manusia, Tuhan sudah mengaturnya dengan sebaik baiknya dan selalu ada keseimbangan dalam perputarannya. Adanya musibah, apapun itu yang mengganggu siklus kehidupan, termasuk kebakaran pasar yang mengganggu perputaran ekonomi, bisa terjadi karena 2 hal.

Boleh jadi, perputaran perekonomian disitu sudah berlebih dan tidak seimbang, sehingga musibah itu diturunkan adalah cara Tuhan untuk menyeimbangkan. Atau bisa jadi kebalikannya. Dengan adanya musibah itu, maka akan masuk energi baru untuk menggantikannya.

Dalam hal ini aku menafsirkan, kebakaran pasar itu bisa membuat datangnya energi pengganti itu. Dalam arti, untuk selanjutnya masyarakat yang siklusnya ikut terganggu karena musibah ini akan mendapat energi baru yang masuk. Rejekinya lebih dimudahkan misalnya. Atau dalam lingkup yang lebih besar, selanjutnya akan tercipta sistem siklus yang lebih baik dan lebih adil.

Tidak  hanya dalam kebakaran pasar, dalam musibah lainpun, pasti itu adalah cara tuhan memperbaiki sistem yang sudah melenceng dari orbitnya.  Karena selalu ada hikmah yang tidak kita ketahui dari setiap kejadian yang menimpa manusia.

Semoga semua masyarakat yang terkena efek dari kebakaran pasar ini bisa segera bangkit dan segera menciptakan sistem baru yang lebih baik.

MasNino, ditulis dalam empati, Juli, 2013.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: