Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

I Ketut Mertamupu

Tercatat sebagai mahasiswa Universitas Hindu Indonesia. www.kompasiana.com/mertamupu.co.id Contact Person E-Mail: mertamupu1988@gmail.com selengkapnya

Keagungan Alat Kelamin (17+)

OPINI | 21 March 2013 | 13:35 Dibaca: 2112   Komentar: 3   0

1363969029660204755

Alat Kelamin (Image/dunia ksehatan)

Setiap orang yang normal pasti memiliki ‘alat kelamin’ yang merupakan harta kekayaan yang tak ternilai, anugerah Tuhan yang tiada duanya. Berbicara alat kelamin ataupun seks, banyak orang menganggap sebagai pembicaraan jorok dan ditabukan. Apabila yang membicarakan orang dibawah umur, hal itu wajar dianggap tabu, tetapi tidaklah tabu bila yang membicarakan adalah orang dewasa. Seks merupakan sesuatu yang sacral dan suci bukan sesuatu yang jorok.

Tidak terbayang bila seorang wanita tidak memiliki alat kelamin. Amatlah menderita bila seorang lelaki memiliki ukuran kelaminnya ‘mungil’ dan unyu-unyu, bisa diceraikan oleh sang istri. Apabila kita tidak memiliki alat kelamin, kita tidak bisa hidup dan berkembang biak. Mungkin ada manusia yang tidak memiliki alat kelamin, sehingga bila mau kecing melalui mulut (hhihihi..), tetapi memang benar ada manusia yang tak memiliki alat kelamin, namun orang tersebut sengaja membuang alat kelamin demi mendapat gelar manusia tanpa alat kelamin.

Disadari atau tidak, alat kelamin sangat berarti dalam kehidupan. Bermiliar orang di muka bumi terus berkembang biak karena adanya alat kelamin atau dengan kata sederhana kita ada dan lahir dari kemaluan. Jika direnungkan lebih dalam, kemaluan merupakan sumber kehidupan, sumber kesejahteraan. Tetapi sungguh sangat disayangkan, belakangan semakin banyak terjadi penyimpangan terhadap penggunaan barang yang satu ini, sehingga tidak lagi menjadi sumber kesejahteraan melainkan menjadi sumber penderitaan.  Banyak lelaki memasukan pedang tak bertulang ini tidak pada lubang yang semestinya.

Berdasarkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 62,7 persen remaja tidak perawan lagi. Itu artinya sekitar 62 persen orang remaja dimasuki barang yang tak dibolehkan agama. Belum lagi kasus-kasus pemerkosaan, perselingkuhan dan aktifitas seks terlarang lainnya. Banyak akibat yang timbul dari seks terlarang tersebut, mulai dari hamil diluar nikah yang berujung pada aborsi (membunuh bayi dalam kandungan) hingga penyebaran HIV-Aids yang belum ada obatnya sampai saat ini.

Anugerah Sang Pencipta apabila disalahgunakan sudah barang tentu akan berakibat buruk dan sebaliknya bila dimanfaat sebagaimana mestinya akan menjadi sumber kebahagian, bahkan sebagai alat mencapai moksa. Seks yang benar dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai surga maupun  pembebasan (moksa-penyatuan dengan Tuhan). Dengan adanya aktivitas pertemuan antara kelamin laki-laki dengan kelamin wanita menghasilkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Banyak orang melukiskan kenikmatan ini sebagai surga dunia. Dengan pertemuan kelamin laki-laki dan wanita akan melahirkan anak. Dengan kehadiran sang anak maka kelak arwahnya dapat mencapai surge. Baca Anak Penyelamat Leluhur dari Siksa Neraka.

Dalam tradisi Hindu, pemujaan terhadap Tuhan pada mazab Siwaisme disimbolkan dengan Lingga-Yoni. Lingga Yoni adalah lambang alat vital laki (Lingga) dan alat vital wanita (Yoni/Vagina). Lingga sebagai symbol Tuhan bapa (Shiwa) dan Yoni sebagai symbol Tuhan ibu (Pertivi/Uma/Parvati). Dalam keluarga, Lingga sebagai symbol Ayah sedangkan Yoni sebagai symbol Ibu. Di bumi, Lingga symbol gunung sedangkan Yoni sebagai symbol lautan, sehingga tidak mengherankan apabila di Bali ada tradisi Nyegara-Gunung. Aada keyakinan adanya tirta amertha kamandalu itu di tengah laut (ring telenging samudra) dan kepercayaa gunung sebagai sumber kemakmuran.

Pemujaan dalam bentuk Lingga-Yoni sebenarnya tidak hanya dikenal dalam tradisi Hindu, melainkan juga dikenal dalam Islam “Hajar Aswad”. Hanya saja sudah disempurnakan, dimodifikasi dalam bentuk yang baru. Lalu mengapa pemujaan disimbolkan dalam bentuk Lingga dan Yoni yang berbentuk kelamin laki-laki dan wanita? Uraian tersebut dapat ditemukan didalam kitab Siva Purana tentang pentingnya pemujaan dengan Lingga-Yoni. Alasannya ternyata sangat sederhana dan sangat masuk akal. Ulasannya akan ditulis dikemudian hari.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 10 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 10 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 10 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 11 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: