Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Robi Fahrudianto

Membangun Masyarakat yang Dewasa

Hubungan Manusia dan Relativitas

OPINI | 10 March 2013 | 06:25 Dibaca: 337   Komentar: 0   0

Manusia diciptakan didunia ini begitu sempurna. Manusia mempunyai akal untuk berpikir dan itu yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Selain itu manusia juga mempunyai nafsu dalam dirinya. Nafsu tersebut yang menyebabkan akal manusia tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa berpikir sehat, dan tidak bisa berpikir secara realistis.

Manusia selalu berubah, berbuat apa yang dikehendaki dan diinginkannya dengan perintah akal, jika akalnya bercampur dengan nafsu maka sulit bagi dia untuk berbuat dan melakukan sesuatu secara jernih dan sehat karena nafsu selalu mengajak kepada hal-hal yang bersifat kesenangan sementara dan sesaat sehingga dia tidak peduli terhadap resiko apa yang akan terjadi nanti dari apa yang diperbuatnya dan hanya berpikir tentang kesenangan ketika dia melakukan bukan setelah nanti dia melakukan.

Masing-masing manusia sejatinya mempunyai ego dan kecenderungan yang sangat besar terhadap dirinya sendiri sehingga dia menganggap apa yang dikatakan olehnya, dan apa yang diperbuat olehnya selalu adalah yang terbaik dan paling baik diantara manusia-manusia lainnya karena ego tersebut terlalu memfanatikkan dan menchauviniskan dirinya sehingga dia menganggapnya adalah yang terbaik dan manusia yang berbeda dengan dirinya adalah manusia yang kurang dimata dirinya.

Relativitas kata yang sangat tepat untuk menggambarkan kecenderungan tersebut. Ya, sekilas untuk mengingat kembali teory yang telah dikemukakan oleh Albert Einstein. Dia mengemukakan bahwa manusia mempunyai kecenderungan yang sangat besar terhadap dirinya sendiri dan nantinya kecenderungan tersebutlah yang digunakan olehnya sebagai prinsip dan pemahaman yang dia anggap paling benar didalam kehidupan. Kita ambil contoh ketika kita sedang mengemudikan sebuah mobil dan melihat orang-orang yang sedang duduk dipinggir jalan, seakan-akan kita merasa kita tidak sedang bergerak melaju dan justru orang-orang yang duduk dipinggir jalan itulah yang seakan-akan sedang bergerak dan melaju, akan tetapi berbeda anggapan dengan orang yang sedang duduk dipinggir jalan, dia merasa bahwa dirinya sedang duduk dan mobil kita yang sedang bergerak melaju. Jadi mana anggapan yang benar dan salah antara orang yang duduk dipinggir jalan dan kita yang sedang mengemudikan mobil tidak ada jawaban yang pasti, Ya karena itu adalah kekuatan dari relativitas masing-masing.

Contoh lain ketika kita sedang duduk dibangku sekolah, belajar adalah salah satu aktivitas yang paling benar saat itu, karena kebenaran ketika itu adalah relative karena kita berada pada usia bangku sekolah jadi kita harus belajar. Coba misalkan ketika orang telah berkeluarga. berkerja dan bertanggungjawab adalah kebenaran orang pada saat itu. Jadi disni waktu yang membedakan, sehingga kebenaran antara orang-orang di usia bangku sekolah dengan orang-orang yang sudah berkeluarga berbeda. Ya itu tidak lebih karena relativitas itu tadi.

Sesungguhnya Kebenaran yang hakiki di dunia ini tidak ada. semua fana, menipu, dan membohongi. Relativitas, ego, nafsu, dan kecenderungan yang menyebabkan perbedaan antara mana jawaban yang benar dan salah itu sangat tipis dan jumbuh untuk membedakannya oleh karena itu kebenaran hakiki tidak ada karena sesungguhnya kebenaran yang hakiki akan datang nanti, setelah kita mati.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 7 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: