Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Umat Katolik Menanti Paus Baru, Kultus Individukah?

OPINI | 06 March 2013 | 14:59 Dibaca: 359   Komentar: 0   7

Hari-hari ini umat Katolik sedunia menantikan kabar gembira dari Vatikan. Biasanya setelah konklaf (pemilihan paus oleh dan dari antara para kardinal), seorang kardinal senior akan memberi pengumuman di balkon Vatikan, “Annuntio gaudium magnum: Habemus Papam!” - Saya mewartakan kegembiraan besar: Kita mempunyai Paus!

Figur Paus dalam hirarki Gereja sering dinilai secara ’salah kaprah’. Misalnya, mengapa orang Katolik mendewa-dewakan manusia? Bagaimana bisa Paus disembah? Apa alasan Paus dikultuskan? Saya tegaskan, Paus tidak didewakan, tidak disembah, tidak dikultuskan. Umat Katolik menghormatinya, bukan mendewakan. Nasihat spiritual dan ajaran/ ensiklik-nya didengar dan dipatuhi, tapi bukan pribadinya yang disembah (hanya kepada Tuhan, kita menyembah). Kepemimpinan dan kewibawaan rohaninya ditaati, tanpa di-”kultus individu”-kan.

Saudaraku, dalam komunitas apa saja, ada pemimpin. Bahkan dalam arisan ibu-ibu tingkat RT pun ada koordinator. Lalu bagaimana mungkin sebuah organisasi religius sebesar Gereja Katolik tidak punya pemimpin? Dalam bingkai pemahaman teologis (Katolik), Paus bukan sekadar pemimpin, apalagi pemimpin politik yang memburu kekuasaan dengan berbagai cara. Paus adalah pemimpin spiritual yang merupakan “primus inter pares”, yang pertama di antara para pemimpin umat Katolik.

Sebagai pemimpin spiritual, Paus merupakan - dan diyakini sebagai - “man of God” (manusia yang berbakti kepada Tuhan) dan “man for others”, manusia pengabdi sesama. Dia adalah “pelayan segala pelayan” (Latin “servus servorum”).

Segala kemuliaan yang tampak dari dirinya (termasuk yang disimbolkan melalui jubah dan atribut kebesaran) BUKAN-lah ditujukan untuk mempermuliakan dirinya sendiri, melainkan sebagai cara simbolik Gereja menghadirkan kemuliaan Tuhan Mahaagung. Tuhan adalah “Raja segala raja”, itulah yang hendak dipancarkan melalui keindahan dan keagungan Kota Vatikan, dan juga ‘kebesaran’ seorang Paus. Kalau mahkota seorang raja duniawi bertatahkan mutu manikam dalam segala kemewahan, seorang Paus hanya mengenakan jubah kebesaran, “mitra” (topi tinggi) dan “tongkat gembala” sebagai lambang kekuasaan Ilahi yang diberikan kepada pemimpin Gereja- penerus kegembalaan Santo Petrus, rasul Kristus yang diangkat sebagai pemimpin perdana Gereja sebagai “umat Allah”-dalam mengarahkan dan membimbing umat Allah di padang penziarahan hidup ini.

Paus tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Kemuliaan duniawi akan cepat menguap seperti air, cepat habis terbakar seperti jerami. Yang hendak dihayati dan dihidupkan dalam praksis kepemimpinan seorang paus (dan seyogianya pemimpin spiritual manapun) adalah kerelaan untuk menyerahkan diri secara total bagi pelayanan dan dedikasi bagi kebaikan universal. Suatu penyerahan diri yang hanya bisa dimengerti dalam konteks cinta maha agung: tanda cinta Ilahi yang tidak bertepi.

Paus tetaplah seorang manusia dengan segala kerapuhan manusiawi seperti kita, sehingga beliau butuh doa-doa kita. Namun tentu sebagai pribadi matang, para pemimpin spiritual sudah terdidik, terbina dan teruji mengolah diri agar menjadi teladan hidup bagi banyak orang. Kita percaya, Tuhan bisa berkarya melalui siapapun dan apa saja, termasuk para pemimpin spiritual dari agama manapun, sejauh mereka mampu “hidup dalam kebaikan dan menjadi teladan kebajikan”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: