Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ujang Bandung

Di dunia langit kebenaran itu sebenarnya satu walau di atas bumi nampak seperti banyak

Apa Itu Manusia? (Penting untuk Dibaca)

OPINI | 02 February 2013 | 07:50 Dibaca: 607   Komentar: 0   1

‘apa’ itu manusia……. sehingga ketika ia masuk ke dunia sains dengan beraninya ia menjadikan metodologi sains atau menjadikan segala suatu yang sebatas bisa ditangkap serta diukur oleh pengalaman dunia inderanya sebagai satu satunya parameter tunggal dalam mengukur kebenaran (yang bersifat menyeluruh), sehingga segala suatu yang tidak bisa ditangkap serta diukur oleh pengalaman dunia inderawinya sering ditolak sebagai kebenaran (?).

Padahal kita tahu pasti bahwa teramat banyak realitas lain yang tidak bisa ditangkap dan diukur oleh kekuatan pengalaman dunia inderawi walau andai dibantu oleh peralatan sains tercanggih sekalipun.

‘apa’ itu manusia……… sehingga ketika ia masuk ke dunia filsafat dengan beraninya ia menjadikan segala suatu yang sebatas bisa dijangkau dan difahami oleh logika akal manusia yang terbatas sebagai parameter tunggal dalam mengukur kebenaran (yang bersifat menyeluruh) sehingga segala suatu yang tidak bisa difahami oleh logika akal seringkali ditolak sebagai kebenaran (?).

Padahal kita tahu pasti bahwa teramat banyak realitas lain yang tidak bisa ditangkap atau dijangkau oleh kekuatan logika akal manusia bahkan andaikata para filsuf memakai seluruh perangkat metodologi penelusur logika yang paling canggih sekalipun.

‘apa’ itu bakteri……..sehingga ketika ia masuk kedalam dunia usus dengan beraninya ia menjadikan segala suatu yang sebatas bisa dilihat dari wilayah usus sebagai parameter tunggal untuk mengukur apa itu ‘manusia’,padahal saya tahu bahwa teramat banyak realitas dari diri manusia yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan bakteri yang berada didalam wilayah usus (?).

Manusia berada didalam salah satu bagan dari realitas yaitu planet bumi dan sekelilingnya yang dengan bantuan peralatan teknologi bisa dijangkau oleh penglihatan manusia,tetapi apakah manusia bisa memastikan bahwa tidak ada realitas lain diluar daripada yang bisa dijangkau oleh pengalaman dunia indera dan kekuatan logika akalnya ?

Sedang dalam realitas kehidupan sehari hari saja diantara bermilyar manusia yang pernah hidup dimuka bumi ini bila kita telusuri satu demi satu maka berapa banyak orang yang telah mengalami pengalaman dengan realitas yang bersifat gaib : ada yang pernah mengalami pengalaman dengan mukjizat-keajaiban-jin-kuntilanak-sihir-debus-penampakan-kesurupan-santet dlsb.dlsb.semua itu baru hanya sebagian kecil fakta saja yang menunjukkan adanya realitas lain diluar yang bisa ditangkap atau dijangkau oleh pengalaman dunia indera dan kekuatan akal manusia.

Bila ada banyak realitas lain diluar yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera dan kekuatan akal manusia lalu mengapa masih ingin menjadikan parameter yang berasal dari dunia sains dan filsafat itu sebagai satu satu nya parameter tunggal atau menjadikannya sebagai parameter utama dalam mengukur kebenaran (yang bersifat menyeluruh) ?

Mengapa tidak menjadikan parameter yang berasal dari dunia sains dan dunia filsafat itu sebagai SALAH SATU parameter saja ketika kita berbicara tentang kebenaran yang bersifat menyeluruh ? karena faktanya dua parameter yang berasal dari dua entitas yang berbeda itu toh tidak bisa menangkap -merangkum dan menerangkan keseluruhan realitas yang bersifat lahiriah dan yang bersifat abstrak-gaib.

Parameter sains bisa kita gunakan hanya sebatas bila kita tengah berbicara tentang kebenaran yang sebatas masih berada di wilayah yang bisa ditangkap atau dijangkau oleh pengalaman dunia indera,demikian juga parameter yang berasal dari dunia filsafat bisa kita gunakan hanya sebatas bila kita tengah berbicara tentang kebenaran yang masih sebatas berada di wilayah yang bisa ditangkap atau dijangkau oleh kekuatan logika akal manusia.

Sehingga keduanya tidak bisa digunakan secara mutlak sebagai parameter tunggal ketika kita berbicara tentang kebenaran yang bersifat menyeluruh yang meliputi keseluruhan realitas (yang bersifat lahiriah-material dan yang bersifat abstrak-gaib).

Tuhan menurunkan kitab suci kepada manusia tiada lain untuk menjadikannya sebagai parameter utama dalam memahami keseluruhan-untuk memahami realitas yang bersifat menyeluruh serta untuk memahami kebenaran yang bersifat menyeluruh yang meliputi wilayah dunia alam lahiriah dan wilayah alam abstrak-gaib,sebab manusia sebagai makhluk yang serba terbatas,harus kemana lagi berpaling kala ia ingin mengetahui realitas keseluruhan yang berada diseputar dirinya (?)

Lalu mengapa ketika manusia hendak berbicara tentang kebenaran yang bersifat menyeluruh,parameter yang berasal dari agama itu sering lantas selalu secara a priori langsung ditolak sebagai parameter kebenaran….. sepertinya parameter dari sains dan filsafat itu bisa memadai untuk mengungkap kebenaran yang bersifat menyeluruh ? atau sepertinya parameter yang berasal dari dunia sains-filsafat itu bisa digunakan untuk menelusur dunia abstrak-gaib ?

Bila kita diberi meteran tukang kayu tapi obyek yang akan kita ukur adalah wilayah samudera lautan nan dalam maka apakah meteran tukang kayu itu masih obyektif untuk digunakan sebagai alat ukur ?

Yang lebih parah tentu : mengapa kebenaran yang diungkapkan agama seringkali langsung ditolak dengan asumsi tidak bisa masuk atau diterima oleh parameter yang berasal dari sains dan filsafat,dan yang lebih parah lagi dengan mengatas namakan ‘keseluruhan’ pula,padahal manusia jelas makhluk yang serba terbatas bagaimana bisa mengetahui keseluruhan tanpa Tuhan ?

Analoginya : manusia yang memegang meteran tukang kayu menolak hasil pengukuran laut yang dilakukan oleh para ahli laut yang mengukur laut dengan alat ukurnya tersendiri yang berbeda dengan meteran tukang kayu didarat,ia ngotot ingin menjadikan meteran tukang kayu itu sebagai ‘alat ukur tunggal’ untuk mengukur keseluruhan obyek padahal kita tahu bahwa lautan nan dalam tidak bisa diukur oleh meteran tukang kayu.

Keseluruhan realitas (termasuk yang bersifat abstrak-gaib tentunya) jelas tidak bisa diukur oleh parameter yang berasal dari dunia sains dan filsafat,nah… lalu kenapa ngotot menjadikan parameter yang berasal dari dunia sains-filsafat itu sebagai satu satunya parameter ketika kita berbicara tentang kebenaran yang bersifat menyeluruh yang meliputi keseluruhan realitas ?

Bila kita sudah menyadari bahwa realitas itu terdiri atas yang lahiriah-material dan yang abstrak-gaib disertai fakta-bukti nyata bahwa orang yang mengalami pengalaman dengan realitas gaib itu melimpah ruah dimana mana diberbagai negara didunia,maka mengapa masih berfikir untuk menjadikan parameter yang berasal dari dunia sains dan dunia filsafat sebagai hanya satu satunya parameter tunggal untuk mengukur kebenaran yang bersifat menyeluruh ?

Semua ini adalah hal hal yang sangat penting dan sangat mendasar untuk ‘dibaca’ (artinya untuk di dalami dan difahami…….)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 5 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 6 jam lalu

Aset Penting “Dikuasai”, SDA …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: