Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Sopyan_kamal

Saya seorang karyawan di smkn 38 jakarta hobi saya menulis

Meraih Makrifatullah

OPINI | 25 August 2012 | 03:41 Dibaca: 3989   Komentar: 0   1

Meraih Makrifatullah[1]

Pagi ini saya mendengarkan ceramah Aa Gym aga sayup-sayup terdengar, menurut Aa Gym” kalau kita ingin tahu apa sebenarnya nikmat yang paling besar yang Allah berikan kepada Mahluknya, nikmat yang paling besar tersebut adalah Makrifatullah, Makrifatullah inilah yang akan melahirkan ahlak terpuji, Iklas tidak akan terjadi kalau kita tidak mempunyai makrifatullah.[2]

Pernyataan tersebut membuat saya penasaran apa sih yang di maksud dengan Makrifatullah sehingga Aa Gym menyebutkan bahwa Makrrifatullah adalah sebuah nikmat yang besar.

Ma’rifatullah berasal dari dua kata Ma’rifat dan Allah secara singkat Ma’rifatullah adalah mengenal Allah, Ma’rifat berasal dari bahasa Arab yakni Arofa-Ma’rifat, Arif-Ma’ruf yang arti dasarnya adalah kenal. Kenal berbeda dengan tahu. Tahu bersifat Kognitif, bersifat pengetahuan, berbasis pengamatan atau teori. Sedangkan kenal sudah bersifat afektif berbasis pengalaman langsung. Contoh sederhana ketika Imam Ghzali mengungkapkan lebih baik kita mengenal manisnya gula dari pada hanya sekedar mengetahui bahwa gula itu manis, jadi kalau disandingkan dengan kata Allah maka arti dari Ma’rifatullah adalah mengenal Allah, bukan hanya sekedar mengetahui Allah tetapi mengenal Allah, orang yang di anugerahi makrifatullah disebut dengan Arif[3]

Sedangkan Menurut Imam Al-Ghazali : “ Ma’rifat adalah pengetahuan yang tidak menerima keraguan terhadap Zat dan Sifat Allah SWT “. Ma’rifat terhadap Zat Allah adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Esa, Tunggal dan sesuatu Yang Maha Agung, Mandiri dengan sendiri-Nya dan tiada satupun yang menyerupai-Nya. Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui dengan sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dari mengetahui tentang Zat dan Sifat Allah, maka selanjutnya Al-Ghazalipun memberi kesimpulan bahwa : “ Ma’rifat adalah mengetahui akan rahasia-rahasia Allah, dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada “ lebih lanjut ditegaskannya bahwa : “ Ma’rifat itu adalah memandang kepada wajah Allah SWT “.[4]

Sebagai manusia yang berposisi sebagai hamba Allah, selaknyalah kita mengenal siapa yang disembah, berikut ini adalah beberapa pentingnya mengenal Allah yang disampaikan oleh Ibnu Qayim Al-Jaujiah :

a) Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak). QS.47:12

b) Ma’rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.

Sabda Nabi : Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat pada siapapun selain mukmin, jika ditimpa musibah ia bersabar, dan jika diberi karunia ia bersyukur” (HR.Muslim)

c) Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.

d) Dari Ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.

e) Dari Ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.

f) Dari Ma’rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan  akherat[5]

Menurut Ibnu At-Thoilah Makrifatullah adala anugerah dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah, lalu bagaimana caranya agar kita mendapatkan anugerah makrifatullah, Menurut Imam Ghzali di dunia ini ada 4 golongan dalam mencari kebenaran termasuk pendekatan mengenal Allah :

a) Para teolog (Mutakalimun) dengan pendekatan rasional

b) Para penganut kebatinan dengan pendekatan ilmu kebatinan yang bersandar pada seorang imam yang mereka percayai

c) Kelompok Filosof dengan pendekatan nalar logika

d) Ahli tasawuf dengan pendekatan Tarekat agar mendapatkan pengalaman Kasyf (pengalaman rohani)[6]

Disini saya akan coba menguraikan bagaimana pendekatan ma’rifatullah menurut Ibnu At-Thoilah dalam kitab Al-Hikam, dimana tentang Ma’rifatullah ini di bahas dalam Hikmat bagian 8 dari kitab Al-Hikam, kalau diperhatikan dari susunan kitab Al-Hikam sebelum sampai kepada pembahasan Ma’rifatullah kita di ajarkan oleh At-Thoilah untuk menyandarkan seluruh kehidupan kita kepada Allah, tidak lagi bersandar kepada selain Allah, karena hati yang kuat adalah hati yang di sandarkan kepada Allah bukan di sandarkan kepada amal, ilmu, hukum sebab-akibat, setelah bersandar sepenuhnya kepada Allah selanjutnya di uraikan tentang alat-alat untuk beriman yaitu mata hati (basiroh), bashiroh akan terbuka jika Nafsu dan akal di tundukan pada Allah dengan kepasarahan yang sepenuhnya, setelah menghidupkan mata hati kita di ajarkan agar bagaimana mendapat cahaya Allah yang disebut dengan sariroh yaitu dengan cara mengimani janji-janji Allah dengan Haqul yakin tanpa lagi mempertanyakan kapan janji Allah tertunai.

Inti dari pengajaran At-Thoilah sebelum memasuki bab Ma’rifatullah kita di arahkan untuk menyerahkan diri secara total kepada Allah, penyerahan total adalah dengan mengikuti semua kehendak Allah dan menekan kehendak yang muncul dari nafsu.

Begitupun cara supaya mendapatkan anugerah Makrifatullah, At-thoilah memandang bahwa Makrifatullah adalah anugerah yang diberikan Allah kepada orang yang di kehendakinya, artinya dapat atau tidaknya makrifatullah itu tergantung rahmat Allah, maka jalan untuk mendapatkannya adalah dengan menyerahkan diri secara total kepada Allah, penyerahan diri secara total untuk mendapatkan anugerah Allah disebut dengan Aslim, maqam aslim adalah gerbang menuju anugerah Allah, untuk sampai kepada maqam aslim maka diperlukan ilmu dan amal, jadi ilmu dan amal bukanlah jaminan kita untuk mendapatkan anugerah Makrifatullah, Ilmu dan amal harus di arahkan kepada maqam aslim, agar aslim yang di bangun berlandasan ilmu dan amal.

Dengan Aslim ini berarti kita memposisikan pasrah menerima anugerah Allah berupa makrifatullah, karena mana mungkin kita bisa dengan bangga mengatakan bahwa ma’rifatullah di dapatkan oleh amal dan ilmu kita sedangkan amal dan ilmu adalah pengabdian kita pada Allah sedangkan makrifatullah adalah anugerah, seandainya dibandingkan jumlah ketaatan dengan anugerah Allah, maka itu sama membandingkan buih air dengan lautan yang luas, jadi tetap hanya dengan rahmat Allah lah kita akan mendapatkan anugerah Makrifatullah.

Makrifatullah adalah rahmat Allah maka sebagai hamba Allah ya selayaknyalah kita memasrahkan pengharapan akan makrifatullah kepada Allah, bukan bersandar kepada hal yang lain, kalau bersandar kepada hal yang lain dalam perjalanan menunju makrifatullah kita akan mendapatkan keraguan dan keputus asaan.

Apabila kita bersandar pada amal, pada awalnya kita akan bersemangat beramal untuk mendapatkan anugerah Allah, tetapi anugerh itu tidak kunjung datang maka kita akan menjadi lemah semangat dan putus asa, Apabila bersandar pada janji Allah maka pada saat janji itu tertunda pelaksanaanya maka kita akan meragukan janji Allah, maka satu-satunya jalan adalah pasrahkan pengharapan kita akan makrifatullah pada Allah.


[1] Sopyan Kamal

[2] Ceramah AA Gym, Kajian Al-Hikam bagian 8 dan 9

[3] Prof. Dr. Ahmad Mubarok,Psikolgi Islam Hal283

[4] http://my.opera.com/thariqatulhaqq2010/blog/2010/11/12/tahapan-tahapan-mendekatkan-diri-kepada-allah-swt-d-ma-rifat

[5] http://almanaar.wordpress.com/2007/10/24/marifatullah-puncak-akidah-islam/

[6] Imam Ghazali, dalam Tahafut Al-Falasifah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | | 26 November 2014 | 04:44

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 6 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 7 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 12 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 13 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah “Kaos Kaki Bolong” …

Fathan Muhammad Tau... | 8 jam lalu

Produsen Kok Masih Impor Garam? …

Irene Noviani | 8 jam lalu

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | 8 jam lalu

Fabiano Lawan Sepadan Magnus Carlsen …

Cut Ayu | 8 jam lalu

Yuk Koleksi Uang Rupiah Bersambung Tahun …

Agung Budi Prasetyo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: