Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rooy Salamony

Saya pelayan masyarakat rooy-salamony.blogg.spot.com

Sejarah Singkat Filsafat Barat Modern

OPINI | 15 August 2012 | 03:30 Dibaca: 3650   Komentar: 1   1

Sejarah filsafat modern barat, sebagaimana diungkapkan Hamersma (1983:3) adalah buah dari bersemainya benih pemikiran di zaman abad pertengahan dan memuncak pada renaissance. Ciri utama pemikiran modern dilambangkan dengan “subjek” sebagai pusat pemikiran. Subjek yang dimaksud disini adalah manusia. Manusia dianggap sebagai pusat dari segala sesuatu. Manusia, dalam filsafat modern, memaknai dirinya tidak lagi sebagai orang yang bersiarah di dunia (viator mundi), tetapi sebagai pribadi yang menciptakan dunia (faber mundi).

Penemuan mesiu, seni cetak dan kompas telah membawa dunia barat saat itu pada keyakinan yang teguh akan peran mereka sebagai pencipta dunia. Alam pemikiran abad pertengahan yang didominasi otoritas gereja dan negera perlahan semakin ditinggalkan. Substansi pemikiran yang berpusat pada manusia menjadikan manusia sebagai dia yang memikul seluruh kenyataan hidup.

Dalam suasana semacam itulah, lahir filsuf rasionalis Rene Descartes. Descartes mengajukan metode baru dalam pendekatan filsafat yaitu “kesangsian metodis”. Dalam kesangsian metodis, Descartes meragukan segala sesuatu. Ia ragu pada kenyataan disekitarnya. Ragu pada pengetahuannya. Juga ragu pada pengalamannya. Ketika ia ragu pada segala sesuatu, ada satu hal yang tidak dapat diragukan. Hal itu adalah dirinya yang sedang ragu. Dengan demikian jelas bagi Descartes bahwa satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan adalah dia yang meragu. Descartes yang ragu adalah kenyataan yang tidak terbantahkan. Ia ragu, ia berpikir. Ia berpikir, maka ia ada. Adanya dia karena ia berpikir dan sangsi. Descartes menegaskannya dalam kalimat “Cogito, ergo sum”. Je pense, done je suis. Saya berpikir, maka saya ada.

Dalam konstruksi rasionalisme Descartes, akal budi atau rasio dapat mencapai kepastian akan kebenaran tanpa membutuhkan bantuan apapun. Untuk ini, ada tiga hal yang jelas dan tegas (clare et distincte) yaitu Allah, pemikiran (cogito) dan keluasan (extensio). Pemikiran merupakan bagian dari bidang psikologi. Keluasan adalah bidang dari ilmu alam. Dalam diri manusia, kedua hal itu menyatu. Konsep ini menyebabkan Descartes dipandang sebagai pemikir dualisme. Jiwa dan tubuh adalah dua hal yang terpisah dan hanya menyatu sebagai akibat kerja kelenjar kecil dibawah otak.

Serumpun dengan pemikiran Descartes adalah Baruch Spinoza, Gottfried Wilhelm Leibniz, dan Blaise Pascal. Zaman dimana keempat filsuf ini hidup disebut zaman Barok. Baruch Spinoza memandang substansi alam dan Allah sebagai satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Pengetahuan manusia adalah kontemplasi yang memberi persesuaian dengan keseluruhan, dan sebagai hasilnya, kebebasan dan kebahagiaan. Sementara bagi Leibniz, tidak ada substansi tunggal. Substansi bersifat banyak. Semua itu dinamai monade-monade. Monade-monade itu seperti jiwa. Ia dapat berpikir dan memiliki kesadaran. Monade-monade itu diatur dalam suatu harmonia praestabilita yang ditetapkan oleh Allah sebelumnya.

Mengambil keberjarakan dengan para pemikir sebelumnya, Blaise Pascal berada pada posisi anti rasionalisme. Bagi Pascal, hati memiliki alasan-alasan yang sama sekali tidak dapat diketahui akal. Bagi Pascal, keputusan-keputusan yang dibuat manusia lebih banyak adalah penyangkalan atas akal sehat, daripada sebaliknya.

Zaman fajar budi lahir diujung zaman Barok. Para pemikir era fajar budi memandang bahwa alam pemikiran manusia kini telah dewasa. Manusia kini bertumpu pada rasio. Kata kunci zaman Barok antara lain rasio, empiri, toleransi, dan kebebasan. Dalam sejarah filsafat prancis, pada masa ini lahir filsuf besar seperti Voltaire, d’Alembert, Diderot, dan Rousseau. Jerman melahirkan nama-nama Wolff, Lessing dan Immanuel Kant. Sementara emiprisme Inggris memunculkan tokohnya seperti Locke, Berkeley dan Hume.

Pemikiran empirisme menjadi penanda paling menonjol di zaman fajar budi. Jika rasionalisme menekankan pentingnya rasio dalam memperoleh ilmu pengetahuan, maka empirisme meyakini bahwa pengetahuan hanya dicapai oleh hasil kerja panca indera. Dan karena terbatasnya panca indera manusia, maka pengetahuan juga tidak dapat mencapai kepenuhannya.

Francis Bacon (1561-1626) dan Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Lock menjadikan paham empirisme begitu mendominasi periode ini. Isi otak saya, kata Lock terdiri dari ide-ide. Ada ide-ide tunggal (simple idea) dan ada ide-ide jamak (complex idea). Ide yang peertama berhubungan langsung dengan pengalaman inderawi. Ide yang kedua merupakan hubungan dari ide-ide yang pertama. Misalnya sebab, akibat, relasi, syarat dan sebagainya hanya dapat diamati melalui kombinasi ide-ide tunggal.

Empirisme memuncak pada David Hume (1711-1776)/ Hume mengikuti pemikiran Locke dan Berkeley sampai batas dimana empirisme menjadi agak mustahil. Bagi Hume, pendapat Berkeley tentang subjek yang sedang mengamati dicoret oleh Hume. Bagi Hume, aku sebagai pusat pengalaman, kesadaran dan pikiran hanyalah kesan (impression) semata-mata. Kesan merupakan bahan darimana pengetahuan tersusun. Karena itu, kesadaran manusia bukanlah suatu jiwa. Kesadaran hanyalah deretan kontinyu dari kesan-kesan.

Pemikiran Hume ini menggelisahkan Immanuel Kant (1724- 1804). Bagi Kant empirisme benar. Namun rasionalisme tidak dapat serta merta dibuang. Karenanya, Kant berupa membuat sintesa atas perang dua aliran filsafat ini. Kant menunjukkan bahwa pegetahuan adalah hasil perpaduan antara pengalaman inderawi dan kemampuan pikiran. Ia membagi tiga tingkatan pengetahuan manusia. Pertama, pengetahuan yang berasal dari pengalaman yang disebutnya Sinneswahrnehmung. Kedua, pengetahuan yang berasal dari akal budi yang disebutnya verstand. Ketiga, pengetahuan yang berasal dari intelektual atau rasio yang disebutnya vernunft.

Pengalaman inderawi adalah unsur a-posteriori yaitu segala sesuatu yang ada kemudian. Sementara akal budi merupakan unsur a-priori yang datang sebelum adanya pengalaman inderawi. Pada akhirnya, pengetahuan adalah sintesa antara kedua unsur ini. Bagi Immanuel Kant, pengetahuan tidaklah berasal dari metafisika. Pengetahuan harus digali dari bawah, untuk menciptakan ruang bagi iman. Dalam cara berpikir Kant, manusia bukanlah pengamat atas objek-objek yang diam, melainkan objek-objek yang harus dibawa ke hadapan manusia untuk diamati. Gaya berpikir semacam ini disebut « revolusi Copernican ke arah subjek ».

Dalam hubungannya dengan pemaknaan pengetahuan, Kant bertanya : ‘apa yang harus saya lakukan ?’ Bagi Kant, ada bermacam kaidah tindakan manusia. Kaidahitu antara lain : (1) maksim-maksim yaitu kaidah yang bersifat subjektif, (2) undang-undang yaitu kaidah yang berlaku secara umum objektif, (3) imperatif hipotetis yaitu syarat untuk mencapai sesuatu yang bersifat umum, untuk mendapatkan x orang harus melakukan y terlebih dahulu, (4) imperatif kategoris, berlaku umum, selalu, ada dimana-mana. Tujuan etika bagi Kant adalah kebaikan, dan kebaikan menghasilkan kebahagiaan sempurna.

Periode Kant menutup zaman filsafat fajar budi. Selanjutnya, filsafat memasuki zaman romantik dimana para filsuf Jerman seperti Johann Gottlieb Fitche (1762-1814) dan Friedrich Wilhem Joseph von Schelling mengembangkan filsafatnya dari pemikiran Kant. Bagi Fitche, idealisme Kant tidak cukup konsekuen. Menurut Fitche bidang an sich filsafat Kant, bidang dimana benda ada pada dirinya sendiri, sama sekali tidak ada. Pada tahap pertama, ada pikiran yang disebut Fitche sebagai tesis. Pikiran tidak dapat memikirkan dirinya sendiri. Maka dengan demikian dibutuhkan objek di luar aku. Objek yang bukan aku ini disebut anti tesis. Jadi subjek yang berpikir dan objek dari pikiran adalah tesis dan anti tesis. Bertautnya subjek dan objek merupakan proses sintesis.

Pemikiran idealisme Jerman memuncak pada George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Pendapat Kant bahwa manusia hanya bias mengenal gejala-gejala diatasi Hegel dengan konsep pemberian struktur oleh kategori-kategori dari akal. Jadi dalam filsafat Hegel, tidak ada yang tidak bisa dikenal. Seluruh system filsafat Hegel terdiri dari “triade-triade” yaitu rangkaian dialektis tiga tahap yaitu tesis, anti tesis dan sistesis. Disini Hegel menggunakan terminologi Fitche. Hegel yang kemudian menyusun suatu sistem filsafat yang terdiri atas ilmu logika, filsafat alam dan filsafat roh. Di dalam ketiga cabang filsafat ini, hamper semua penyelidikan filasat dirangkum. Bagian paling menggetarkan dari filsafat Hegel terletak pada tesisnya bahwa seluruh kenyataan adalah suatu kejadian besar. Kejadian itu adalah kejadian roh. Roh ini adalah Allah. Bukan Allah sebagai persona, Allah yang sama sekali lain (transendensi), melainkan Allah yang imanen. Sistem Allah hegel hamper mirip dengan Allah Spinoza yang panteistis.

Setelah filsafat Hegel, dunia memasuki zaman modern. Ada bermacam pemikiran filsafat pasca Hegel. Namun yang paling mudah diidentifikasi adalah terpisahnya filsafat menurut teritori negara. Paling tidak ada tiga wilayah. Filsafat Jerman. Filsafat Perancis. Filsafat Anglo-Saxon. Filsafat Jerman melanjutkan sistem filsafat Kant dan Hegel. Sementara filsafat di negeri yang berbahasa Inggris (Anglo –Saxon) mengikuti pemikiran empirisme Hume. Filsafat Perancis hampir selalu menampakkan ciri positivisme Auguste Comte. Namun beberapa filsuf Prancis di era modern seperti Sartre (1905-1980) tampil sebagai filsuf eksistensialisme yang melanjutkan pekerjaan para filsuf di negeri berbahasa Jerman seperti SǾren Kierkegaard (1838-1855) dan Friedrich Nietszche (1844-1900).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 5 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 6 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 6 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 6 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 8 jam lalu

Hati-hati memilih Baby Sitter …

Wahab Naira Sairun | 8 jam lalu

London yang Ramah dan Hiruk Pikuk …

Pretty Backpacker | 8 jam lalu

Teman Penjara …

Vina Tjandra | 8 jam lalu

Golkar, Partai Tua Tapi Mirip ABG Labil …

Satriaputra Nugraha | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: