Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Akang-andisur

I smile to hide my sorrow and laugh to hide that I'm dying!

Do We Really Need God…???

OPINI | 31 March 2011 | 04:01 Dibaca: 72   Komentar: 2   1

*curahan kegelisahan seorang sahabat*

Apa yang akan saya sampaikan ini, muncul begitu saja pada suatu malam, ketika saya merenung sendirian di tengah kesunyian yang menyejukkan dan menenangkan.

Terus terang pada saat itu, pikiran saya tengah kalut. Bisnis kacau, rumah tangga sedang goncang, keuangan seret, tagihan menumpuk, pokoknya resep sempurna untuk bikin pikiran seseorang jadi melantur ke mana-mana.

Saya marah kepada diri saya sendiri, atas kebodohan-kebodohan yang saya lakukan. Saya marah pada nasib yang terus-terusan memberi kesialan kepada saya. Dan, terutama saya marah kepada Tuhan, yang tampaknya seperti akan menjatuhkan saya ke jurang kenistaan secara perlahan-lahan.

Ya. Saya marah kepada Tuhan. Saya dibesarkan sebagai Muslim dan saya menyadari saya bukan bangsa kyai alim yang sholat sehari 100 X, ngaji qatam sebulan 10X, amal jari’ah 1 miliar per bulan, puasa dua hari sekali dst, dst.

Tapi meskipun saya jarang sekali sholat (paling cuma sholat Jum’at saja), saya tidak pernah melakukan hal-hal nista seperti mencuri, merampok, judi, mabuk2-an, zina, membunuh dan sejenisnya. (Orang Jawa mengenal dgn sebutan Mo Limo, singkatan dari Main (Judi), Madat (Madat), Madon (Main perempuan), Mabuk, Maling. Tapi kalo saya tambah satu lagi, jadi Mo Limo tambah siji yaitu Mateni (Membunuh).)

Saya sudah berusaha mati-matian untuk menghindari hal-hal di atas. Sampai dengan saat ini, syukur Alhamdulillah saya masih mampu melewati godaan dan keinginan untuk melanggar pantangan di atas. Tapi…. kenapa nasib saya sial terus?
Kenapa keadaan saya tidak kunjung membaik?
Apa saya harus jadi kyai yang setiap saat menyembah dan menyembah saja kerjaannya?
Apa saya harus melakukan semua apa yang terdapat dlm Al-Qur’an dan Al-Hadist tanpa ada satu pun yang terlewat?

Kalau itu yang harus saya lakukan, maka sebaiknya saya nda usah hidup aja sekalian. Sebab kalau mau menuruti semua ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadist, bahkan sekedar lukisan dan patung binatang pun akan terpaksa harus saya hancurkan karena benda2 itu bagi agama Islam sama saja berusaha menyamai ciptaan Allah.

Peter Pan, Ungu, Krisdayanti, ST12 harus saya bunuh karena menurut Al-Hadist orang yang melantunkan syair-syair non Islami lebih buruk daripada orang yang perutnya dipenuhi nanah, karena syair-syair mereka dapat melenakan manusia lainnya sehingga lupa kepada Allah.

Saya bingung. Pusing. Marah. Dan akhirnya mulai mempertanyakan, apa sih tujuan hidup saya? Kenapa sih saya harus ada? Ga ada saya pun dunia juga ga akan kehilangan. Bahkan kalo nda ada siapa pun di dunia ini, dunia juga ga ada masalah.
Ga ada siapa pun……dunia ga masalah…..
Ga ada siapa pun……
Dunia ga masalah…..

Mulai dari pemikiran ini, angan saya terus berkembang. Kenapa saya diciptakan? Toh bumi ini juga ga akan apa2 kalo manusia ga ada. Malah mungkin lebih baik. Bebas pencemaran. Tidak ada hutan gundul. Pemanasan global dll.

Lalu kenapa saya harus ada?

Setahu saya, sesuai ajaran agama yang saya terima, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Menjadi khalifah, artinya mengelola, memelihara, merawat bumi ini.

Apa Tuhan nda sanggup ngurusin bumi ini sendiri?

Bukannya Dia itu, Sang Maha Kuasa? Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak lelah dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di bumi dan langit ini dan Dia tidak merasa berat dalam mengurus keduanya. Dan tidak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa sepengetahuan diri-Nya.

Kalau Dia sanggup melakukan itu semua, lantas kenapa harus ada manusia?

Saya jadi teringat kembali ke buku kontroversial karangan Dan Brown yang judulnya Angel and Demon (Malaikat dan Iblis).

Di buku itu ada salah satu bagian percakapan antara tokoh utama, Robert Langdon, dan Maximillian Kohler, Direktur CERN (singkatan dari bahasa Perancis: Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire; dalam bahasa Indonesia: Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir) yang berhubungan erat dengan apa yang sedang berkecamuk di pikiran saya saat itu.

Berikut kutipannya,

“Sejak awal peradaban, spiritualitas dan agama digunakan untuk mengisi celah-celah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Terbit dan tenggelamnya matahari dulu pernah dihubungkan dengan dewa Helios dan kereta kuda berapi. Gempa bumi dan gelombang pasang dianggap sebagai kemarahan dewa Poseidon. Ilmu pengetahuan kini membuktikan bahwa dewa-dewa itu adalah sembahan palsu. Tidak lama lagi Tuhan juga akan terbukti sebagai sembahan palsu. Kini ilmu pengetahuan telah menemukan jawaban untuk hampir semua pertanyaan yang bisa ditanyakan oleh manusia. Hanya ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab, dan itu semua merupakan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sulit.”

“Dari mana kita berasal?”

“Apa yang kita lakukan di sini?”

“Apa arti kehidupan dan alam semesta?”

Langdon kagum. ”Dan CERN berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?”

”Ralat. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang kita semua berusaha untuk menjawabnya.”

Saya tidak mengutip buku ini, semata-mata untuk mengajak anda menjadi seorang atheis. Sama sekali tidak. Saya tidak mempertanyakan eksistensi Tuhan.

Tuhan memang ada.

Sudah cukup banyak, terlalu banyak malah, bukti2 ilmiah yg valid, logis, tidak terbantahkan, diuji dan diakui oleh lembaga dan ilmuwan ternama dan terhormat dan bisa dipertanggung jawabkan yang dengan tegas menunjukkan bahwa Dia memang ada.

Cuma orang bodoh, bebal, lemah otak yang tidak mengakui bahwa segalanya ini tidak terjadi secara kebetulan. Bahwa alam semesta ini tidak muncul begitu saja. Bahwa harus ada satu kekuatan dan kecerdasan yang amat sangat luar biasa tak terhingga yang mengawali dan menciptakan ini semua.

Contoh paling gampang tentang eksistensi Tuhan adalah dengan menanyakan keberadaan diri sendiri. Kenapa saya ada? Jawabannya, karena saya tahu saya ada. Tapi bagaimana saya tahu kalau saya ini ada? Ya, karena saya berpikir bahwa saya ini ada. (Cogito Er Gosum. Saya berpikir karena itu saya ada. René Descartes.).

Dan karena saya bisa berpikir, maka apa pun yang menciptakan saya, harusnya juga bisa berpikir. Jadi ga mungkin dari tubrukan aneka macam partikel dan elemen alam semesta yang asalnya mati yang kemudian meledak dalam sebuah “Dentuman Besar” (Big Bang) bisa tau-tau nongol makhluk hidup ber-sel majemuk yang bisa berpikir dan bertindak sendiri yang kemudian dikenal dengan nama Homo Sapiens. Simpel aja khan.

Jadi, tidak ada keraguan bahwa Tuhan itu memang ada.
Kita, manusia, kemudian mengenal dan menyebut pencipta kita dengan nama Allah SWT (Islam), Tuhan Allah (Kristen), Sang Hyang Widi Wase (Hindu), One True God (Freemason) dll.

Kita sudah mengakui Tuhan itu ada. Kita juga sudah mengakui bahwa Tuhan itu bukan cuma ada tapi benar-benar punya kekuatan, kekuasaan dan kecerdasan yang tak terhingga dan memang sepatutnya kita sembah dan kita junjung tanpa keraguan.

Tapi masih ada pertanyaan yang mengganjal.

Untuk apa kita diciptakan?

Apakah untuk menjadi khalifah seperti yang kita bicarakan tadi? Rasanya Tuhan lebih dari sekadar tahu bahwa kita manusia ini, akan cenderung lebih banyak membawa kerusakan daripada memelihara bumi ini seperti yang diamanatkan-Nya. Perang, limbah nuklir, pencemaran, penggundulan hutan, pemanasan global.

Dengan ke-Maha Tahu-an-Nya, saya yakin Tuhan sudah bisa memperkirakan bahwa ciptaannya yang satu ini pasti banyak yang akan melupakan ajaran dan petunjuk-Nya. Bahkan, mungkin malah mengingkarinya malah ada juga yang lancang mensejajarkan diri dengan-Nya (Fir’aun misalnya).

Lantas, kenapa kita tetap diciptakan?
Apa sebetulnya tujuan keberadaan manusia?

Inilah sebenarnya pertanyaan mendasar yang berusaha dijawab tidak hanya oleh agama, tetapi juga oleh sains.

Sampai dengan saat ini, saya belum menemukan jawaban yang memuaskan saya. Saya akui bahwa kecerdasan dan pengetahuan saya masih sangat terbatas. Entah saya yang kurang gigih dalam mencari jawaban. Entah saya yang salah arah kemana saya harus mencari pengetahuan, intinya saya belum menemukan jawaban yang memuaskan atas Grand Question di atas….What are we doing here?

Di tengah kekalutan pikiran saya, kemudian timbul pikiran gila ini. Pikiran gila yang membuat saya memahami, paling tidak secara pribadi, tentang tujuan keberadaan kita. Jika memang pikiran saya ini salah, mudah-mudahan Tuhan berkenan mengampuni saya dan memberi saya petunjuk. Mungkin melalui salah seorang rekan-rekan pembaca.

Mari kita kembali kepada ajaran agama sebentar.

Boleh dikata semua agama sepakat kompak menyatakan Tuhan itu Maha segala-galanya. Semua agama, keyakinan, kepercayaan, adat istiadat, seluruhnya dengan gamblang menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Cerdas, Maha Agung dsb, dsb.

Tapi…. ada satu ke-Maha-an yg sedikit mengganggu, yaitu,

Maha ESA.

SATU.

TUNGGAL.

Dengan segala kekuatan, kekuasaan dan kecerdasan yg Dia miliki….., Dia tetap sendiri.

Dia punya kekuatan yang maha dahsyat, maha hebat, amat sangat mengagumkan …. tapi tidak ada yang tahu.

Dia punya kekuasaan yang tidak terbatas …. tapi tidak ada yang mengakui.

Karena apa? Karena Dia sendirian.

Dia bisa berbuat apa saja, tanpa ada satu kekuatan apa pun yang mampu menghalangi. Dia bisa berbuat sekehendak-Nya tanpa ada aturan apa pun yg merintangi.
Apa pun.
Tanpa halangan, tantangan, hambatan, misteri yang harus disingkap… apa pun.

Mem-bo-san-kan.

Get the poin?
Sudah mulai paham kemana arah pembicaraan saya?

Jika anda sudah memiliki segalanya, apa lagi yang harus dikerjakan?

Anda tidak harus bekerja untuk mencari makan karena anda tidak akan merasa lapar.

Anda tidak akan mengagumi gunung, lautan, langit, bulan, bintang, angkasa raya karena itu toh anda sendiri yang menciptakan.

Anda bisa pergi kemana pun juga kapan pun anda mau (malah sebenarnya anda tidak perlu pergi kemana-mana karena semuanya, alam semesta dan isinya ini, berada atau, meminjam istilah Ust. H. Agus Mustofa dalam bukunya yang berjudul “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”, terbenam di dalam diri anda.).

Anda tidak perlu menafkahi keluarga karena anda sendirian, tidak ada yang perlu anda urus.

Anda tidak harus berbuat APA PUN. Santai. Rileks. Nganggur.

And….. alone. Lonely.

He needs something to do.

He needs something to think about.

He needs something…. to play with.

Bagaimana solusinya ?
Solusi untuk mengatasi kesendirian dan kesepian ini?

Diciptakanlah suatu makhluk yang akan selalu membutuhkan kehadiran-Nya. Makhluk yang akan senantiasa mengagumi kecerdasan-Nya, terperangah dengan indahnya gunung dan lautan, langit, bulan dan bintang. Makhluk yang setiap saat memuja-Nya, menyembah-Nya, meminta, memohon, menghiba, bersimpuh kepada-Nya.

So…., here we are.

Diciptakanlah berbagai misteri yang akan selalu membuat kita ternganga-nganga dalam kebingungan dan ketakjuban. Terheran-heran dengan betapa banyaknya hal-hal yang ternyata kita tidak punya pengetahuan sama sekali. Senantiasa merasa betapa kecil, tanpa daya dan tidak berartinya kita jika dibandingkan sang Maha Pencipta.

Dibuatlah aneka peraturan untuk mengatur kehidupan kita. Baik-buruk. Salah-benar. Nabi-setan. Surga-neraka.

Dibuatlah berbagai batasan dan kelemahan supaya kita selalu mengingat-Nya. Sehat-sakit. Sedih-bahagia. Pintar-bodoh. Hidup-mati.

Dan kemudian, terciptalah sebuah permainan besar di mana manusia yang menjadi pemeran utamanya dan bumi ini sebagai panggung utamanya.

So…., now we know, why we’re here.

We’re created, not because He needed us to take care of the world.
We’re created, not because He wanted us to take care of the world.
We’re created, simply because He’s got nothing else to do.
We’re created…… because He needs something to play with.
So…in other words…, we’re nothing…., but God’s toys.

Saya kira, sekarang anda sudah punya terjemahan lain untuk jargon “Betapa tidak berartinya kita di hadapan Tuhan”.

So. Sampai di mana kita?
Kita sudah tahu Dia ada, kita sudah mengakui Dia berkuasa, dan kita juga sudah paham betapa tidak berartinya kita ini bagi-Nya. Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Apakah kita akan unjuk rasa?
Apakah kita akan melakukan boikot atau embargo?
Apakah kita akan mengajukan tuntutan? Somasi? Mem-persona non grata-kan Tuhan?

Pertanyaan tolol.

Sampai di titik ini, kita semua sudah tahu bahwa kita tidak punya pilihan lain. Sebagai ciptaan yang berada di bawah kekuasaan-Nya, mau nda mau, suka nda suka kita harus mengikuti aturan yang Dia tetapkan, seketat apa pun itu, semenjengkelkan apa pun itu… kalau kita mau selamat.

Apa ukuran selamat itu? Tentu saja sesuatu yang disebut Surga. (tapi kalo sampean pengen masuk neraka ya monggo lho ya…. saya ndak ngelarang lho).

Apakah Surga itu ada? Saya nda bisa njawab karena sementara ini sains blm membuktikan surga itu ada. Sementara ini, saya hanya akan mengikuti ajaran agama yang saya terima karena saya pengin cari selamet. Saya cuma bisa pasrah bongkokan karena sudah kadung diciptakan dan ga bisa balik lagi (padahal kalo diingat-ingat, saya rasanya koq ga pernah ingat minta diciptakan. Sampean inget nda? Kalo tau begini jadinya, bisa dipastikan saya minta di-delete aja, daripada hidup tapi kecenderungannya 99% masuk neraka. Sebelah kanan Miyabi, sebelah kiri Maria Ozawa, gimana mau masuk sorga wong godaan ada di mana-mana?).

Saran saya, ikuti sajalah ajaran agama yang anda yakini benar dengan harapan paling tidak anda akan diselamatkan dari api neraka. Di agama saya, dikenal 3 tingkatan kerelaan atau keikhlasan seseorang dalam menjalankan perintah Tuhan.

1). Ikhlasnya budak.
Sebagaimana kita tahu, yang namanya budak itu ga digaji, ga dibayar, ga ada imbalan apa pun. Kerja semata-mata karena takut dicambuk atau disiksa majikannya. Itulah gambaran ikhlas yang pertama atau yang paling rendah. Kita berbuat atau tidak berbuat sesuatu, semata-mata agar kita tidak dimasukkan ke neraka.

2). Ikhlasnya pedagang.
Orang jual mobil di mana-mana pasti ikhlas kasihkan barangnya ke pembeli asalkan si pembeli tadi itu kasih uang sejumlah yang diminta pedagang tadi buat nebus itu mobil. Ini gambaran ikhlas yang kedua. Kita melakukan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dengan imbalan berupa pahala supaya bisa masuk surga.

3). Iklhas yang sesungguhnya.
Saya paling susah menjelaskan yang satu ini. Intinya, orang yang sudah mencapai tahap ini, melakukan sesuatu bukan mengharap surga atau minta supaya ga masuk neraka, tapi semata-mata karena dia mengharapkan ridha Allah SWT. (Nah lo. Susahkan. Saya sendiri sampe sekarang juga ga paham maksudnya apa. Mentok kalo buat saya yang pikirannya cupet, ini sama saja melakukan sesuatu dengan tujuan ABS alias Asal Bapak Senang. Toh ujung-ujungnya juga sorga.).

Kalo saya, untuk saat ini saya cuma melakukan perintah & menjauhi larangannya dengan kerelaan paling banter di level intermediate (ikhlasnya pedagang). Tapi berhenti di level beginner pun (level budak) rasanya saya juga ga keberatan.

Jadi, menjawab pertanyaan yang juga judul tulisan saya ini, “Do we really need God”? Apakah kita butuh Tuhan?
Saya jawab YA.
Kalo kita memang mau selamat alias masuk Sorga, atau paling ngga supaya ngga dipanggang di neraka, YA kita butuh DIA.
YA, kita butuh DIA karena kita memang tidak punya pilihan lain.
YA, YA, YA untuk banyak alasan lain.

Namun, benarkah kita BENAR-BENAR butuh Tuhan? Apakah bukan sebaliknya? Apakah kita HARUS ada? Cobalah anda renungkan, jikalau anda tidak pernah diciptakan, apakah anda akan merasa sedih? Ketakutan? Gembira? Lapar? Dahaga?
Kita tidak akan mengalami hal-hal itu. Kita tidak perlu mengalami hal itu. Karena kita memang tidak ada. Karena kita memang tidak pernah diciptakan atau diadakan.

Apakah anda mau jika tiba-tiba anda disodori tawaran menggiurkan berupa kehidupan yang penuh kegembiraan dan keceriaan di Sorga, namun pada saat yang sama anda juga diberitahu bahwa ada berbagai aturan yang tidak boleh dilanggar agar bisa masuk Sorga?

Aturan yang begitu ketat yang mengatur dan membatasi hingga ke detil yang sekecil-kecilnya sehingga kemungkinan untuk terjadi wan prestasi begitu besar. Begitu banyaknya aturan itu sampai-sampai bisa dibuat buku sendiri yang hanya bisa dihafal dan diterapkan secara optimal oleh segelintir orang saja? (Nabi, sunan, kyai, pendeta, biksu dll.)

Saking banyaknya aturan sehingga seringkali tanpa kita sadari, tanpa ada maksud melanggar, karena kita tidak tahu, karena kita tidak hafal, kita tidak sengaja melanggarnya. Dan jika kita melanggar aturan itu, sekalipun tidak bermaksud melanggar maka punishment-nya adalah dipanggang, direbus, dicincang, dicabik-cabik di tempat yang disebut Neraka?

Kalau saya diberi tawaran seperti itu, saya pasti akan langsung menolak karena bagi saya agar perjanjian ini bisa memberi keuntungan bagi saya, syaratnya terlalu berat dan banyak. Saya akan lebih memilih, tidak diciptakan sama sekali. Dihilangkan saja. Dan yang saya maksud hilang bukan hilang dalam artian harfiah alias mati.

Tapi benar-benar hilang. Musnah. Vanish. Disappear. Dengan begitu, saya tidak perlu mengalami hari-hari buruk seperti ini. Saya tidak perlu kebingungan karena keuangan saya seret. Saya tidak perlu khawatir apakah saya akan mampu menafkahi anak istri saya hingga tuntas. Saya tidak perlu mengalami kesedihan akibat ditinggal mati nenek dan kakek saya yang sangat saya cintai. Saya bahkan tidak perlu merasakan yang namanya cinta karena pada akhirnya semuanya akan berakhir, termasuk juga yang namanya cinta dan akhir dari cinta biasanya adalah kesedihan.

Tapi yang terpenting, saya tidak perlu hidup dalam ketakutan akan dijebloskan ke neraka. Saya tidak perduli walaupun saya tidak masuk sorga, karena bagi saya sorga itu pun juga tidak ada. Mengapa? Karena saya tidak ada. Hampa. Kosong. Hollow.

Saya, lebih memilih ketiadaan.

Once again, do we really need God?
Since we don’t have to exist, I don’t think we need Him in the first place.
It is HIM who really needs us. He needs us because He needed something to play with.

Namun, jangan salah mengerti. Meskipun saya menulis “We are nothing but God’s toys”, “God needed us to play with”, saya tidak mengatakan Tuhan main-main dengan menciptakan kita. Sama sekali tidak. “God does not play dice with the universe”. (TUHAN TIDAK BERMAIN DADU DENGAN ALAM SEMESTA. Albert Einstein.). Dengan berbagai keteraturan, keseimbangan, keajaiban dan keindahannya, jelas alam semesta ini bukan kreasi asal-asalan.

Tuhan memang tidak main-main dalam menciptakan alam semesta.
Dia hanya menciptakan sebuah permainan besar.
Dan sepanjang pengetahuan saya, tidak ada yang main-main dalam membuat mainannya.
Siapa pun itu

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 10 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 13 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 13 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 7 jam lalu

Si Jangkung Tokyo Sky Tree …

Firanza Fadilla | 8 jam lalu

Pompadour …

Yulian Muhammad | 8 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 8 jam lalu

Luka …

Ukonpurkonudin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: