Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Hireka Eric

Hello! Keep updated with my posts on Blogger, hirekaeric.blogspot.com

“Berkah Dalem”, Artinya Apa?

OPINI | 12 May 2010 | 02:19 Dibaca: 8548   Komentar: 20   5

Saya bukan orang Jawa, maka saya sering penasaran ketika membaca frase “berkah dalem” yang jamak dilontarkan di kalangan teman-teman Jawa saya. Apa sih artinya? Apakah ada makna tertentu di balik frase ini?

Iseng-iseng saya memposkan pertanyaan ini pada status Facebook. Dan ternyata tanggapan yang saya terima cukup beragam.

Seorang kawan bilang, “Tuhan memberkatimu.”

Saya pun menanggapi, “Kok, nggak ada kata Gusti-nya?”

Si kawan itu balas menjawab, “Ngga usah pake Gusti, semua org juga udah tahu maksudnya…”

Dengan polos saya pun menyimpulkan, “Ooo… berarti, dalem itu sama dengan ‘dalam’ ya?”

Tak berapa lama kemudian, seorang kawan Jesuit ikut nimbrung. Pembahasannya lumayan panjang:

Dalem itu rumah. Kata itu dipakai sebenarnya oleh para abdi di Keraton. Dengan menyebut dalem, itu menunjuk pada Sultan, sang empunya dalem (rumah, kraton). Bagi orang Jawa, tidak sopan menunjuk langsung orangnya (ad hominem). Maka secara implisit menunjuk melalui rumahnya. Kita kenal pula sampeyan, yang berarti ‘kaki’, atau panjenengan, yang berarti ‘tongkat’. Panjenengan paling halus, karena semakin ‘jauh’ dari subyek yg dimaksud.”

Saya mengangguk-angguk. Ooo, begitu ceritanya. Tetapi tak lama, seorang kawan Jesuit yang lain juga mengomentari perihal sisi historis frase ini.

“Asal usul historis: Pada waktu itu, umat Katolik memakai sapaan: Deo gratias. Ini berlaku di segala waktu dan tempat. Lalu muncul “masalah”, bagaimana ungkapan dalam bahasa Jawa untuk menyatakan sapaan serupa, mengingat bahwa sapaan pastoral dalam bahasa lokal tidak/belum ada. Seorang pastor Jesuit di sebuah paroki di desa lalu menciptakan istilah berkah Dalem . Lama kelamaan ini diterima umat luas (khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah) bahkan sampai detik ini masih dipakai. Pastor tersebut  nyaris tidak disebut dalam sejarah, dan ungkapan tersebut tidak dijadikan quotation individual supaya mengumat. Ini sisi lain kerendahan hati orang tsb. kini ia sudah berbahagia di surga.”

Dia melanjutkan dengan penjelasan etimologis:

“Coba lihat paralelnya:

  1. Deo - Deus - Gusti - Sampeyan Dalem -> (Dalem)
  2. Gratias - Gratia - (Grace) - berkat / berkah

Tapi, ini makna etimologis. Makna spiritualnya bagi perambatan iman umat melampaui bahasa. Meski tidak tahu karakter historis dan teologisnya, sebagai ekspresi iman, kata-kata tersebut menjadi ‘cara berada’ umat Katolik saat ini. Sapaan ini melampaui tempus, signum, dan verbum itu sendiri. Ungkapan ini ada berkaitan dengan sense partikular umat tertentu. Bukan secara global-mondial-universal.”

Wooo… jadi begitukah asal-usulnya? Kalau begitu–saya malah makin penasaran–apakah ungkapan “berkah dalem” terbatas pada umat Katolik Jawa, ataukah memang sudah semakin jamak di kalangan orang Jawa, tidak terbatas pada agama Katolik saja?

Kompasianer punya pendapat yang lain?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 6 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 11 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 17 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Basah di Mata (Puisi) …

Eko Zetialism | 8 jam lalu

Pasang Surut Seni Jarang Kepang Di Ponorogo …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Jokowi Butuh Rp 265 Triliun (7) …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Alphard dan Underpass Permata Hijau …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Torres, Sejarah Tragis Pemain Spanyol dan …

Garin Prilaksmana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: