Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Tepan Mufrisno

Saya adalah seorang pemimpi……. saya sedang menggapai mimpi saya…. saya sedang berjalan kearah mimpi saya… dan saya tidak selengkapnya

Kematian Sebagai Tujuan Hidup Manusia - Sebuah Tulisan yang Belum Selesai

OPINI | 14 April 2010 | 07:41 Dibaca: 709   Komentar: 2   0

Manusia menemukan eksistensi ataupun identitasnya mana kala dia sudah almarhum ataupun almarhumah, hal ini banyak kita dengar dan saksikan pada waktu pidato pemakaman seseorang, dan arti peran almarhum/ah baru dapat dimengerti pada saat dia sudah tiada.

Pemikir decorates menyatakan eksistensi manusia ialah “ aku berpikir maka aku ada” ada pula yang mengatakan bahwa Eksistensi manusia dilihat dari hasil kerjanya. Apakah benar hal ini adakah yang lebih tinggi dari pikiran dan pekerjaan? Setelah di renungkan semua hal tentang diri kita : identitas, eksistensi, budaya, cara pandang, perbuatan itu dilihat terang pada saat pidato pemakaman kita. Seberapa pintarnya seseorang, seberapa baiknya seseorang, seberapa bersihnya seseorang , hal tersebut tidak akan berguna bila orang tersebut tidak memberikan kontribusi kepada umat manusia, setidak-tidaknya untuk keluarganya.

Kematian sebagai tujuan hidup adalah hal yang tidak bisa di pungkiri akan terjadi , kapanpun, dimanapun, dan saatnya tidak ada yang tau, oleh karena itu ada prinsip yang tidak bisa tidak kita harus lakukan sebagai pemaknaan identitas diri kita yaitu perbuatan (baik positif maupun negative) , perbuatan ini di lakukan terus menerus akan menjadi habitus ( mengambil istilah Piere Bourdeu) dimana habitus ini akan mengambil effek nya ke dalam masyarakat dan bila habitus itu sudah menjadi kontrak didalam masyarakat ( kontrak social Emiel Durheim ) hal tersebut akan menghasilkan suatu symbol-simbol, nilai-nilai , yang juga menghasilkan suatu objek baik bersifat materil, sprituil, maupun norma, dan hal ini lah yang banyak di sebut budaya.

Jadi diawali dari perbuatan individu hal ini dapat merebak pada system social masyarakat yang ada. Akan tetapi sejauh mana individu tersebut dapat bertahan akan habitusnya di perlukan motivasi yang terus di pelihara hingga habitus tersebut bisa menjadi budaya individu sehingga mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat social . motivasi ini lah yang juga dapat membuat masyarakat social dapat mengikuti terus setiap perbuatan (aktivitas) individu yang ditransformasikan dalam system social yang pada akhirnya menghasilkan budaya, selain sub-sub bidang lainnya yang di kemukakan Bourdeu ( Capital social , ekonomi , budaya ) Motivasi inilah yang bisa mengendalikan ke tiga capital yang di kemukakan bourdeu.

Dalam hal ini yang menjadi pertanyaan motivasi apakah yang dapat mengendalikan kapitalisme liberalism menjadi keuntungan bagi Indonesia , bukan sebaliknya yang kita alami pada saat ini?

Yang di tawarkan oleh bangsa ini banyak sekali, prularisme, sumber daya alam yang berkelimpahan, tenaga kerja yang melimpah , budaya bangsa yang selalu terkesima akan budaya lain…sebenarnya sejauh mana kita mengenali diri kita sendiri sehingga kita bisa tau apakah sebenarnya budaya kita ini dan budaya mana saja yang bisa cocok dengan kita, paham ideology mana yang sesuai dengan diri kita?

Mari kita bedah diri kita sendiri untuk mengetahui budaya dan identitas apa , siapa kita ini, sebelum kematian mendatangi kita.

GOAL : DEATH

Identitas kita berdasarkan siapa diri kita di pandangan diri kita sendiri., maksudnya apa yang kita pikirkan tentang diri kita seperti itulah orang lain akan melihat dirikita sendiri. Untuk itu kita harus membuat goal : apa yang kita inginkan orang lain berkata pada saat kita mati nantinya..

MISSION = ACT

Seperti pohon yang berbuah sesuai dengan proses yang telah dialaminya, demikian manusia juga termasuk dalam siklus system alam , dimana setiap perbuatan kita ( Acts ) menjadi investasi identitas kita, seberapa baik seseorang dapat di ukur dari seberapa kali dia melakukan perbuatan baik demikian juga kebalikannya. Berarti dalam hal ini disetiap waktu dan keadaan perbuatan kita mencerminkan siapa diri kita. Perbutan ini menyangkut aktivitas ke lima indera kita, baik yang dilihat orang lain maupun yang tidak terlihat (indera pengecap, perasa ) . dalam hal ini tabungan kematian kita di isi dari waktu ke waktu .. dari kita bangun tidur , bekerja ataupun bersekolah , hingga tidur semuanya itu berkontribusi akan hasil tabungan kita pada saat kematian.

THING    +  ACT = YOUR IDENTITY.

Internal Eksternal

(individu) (social )

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Korban-korban Kebijakan dan Peraturan JKN …

Yaslis Ilyas | 8 jam lalu

Latihan Siang Malam, Prajurit TNI Dipantau …

Mirza Gemilang | 8 jam lalu

Memasuki Hari ke Enam Belas Berada di …

Taufiq Rilhardin | 8 jam lalu

Pacaran? Tidak Harus dengan Kekerasan! …

Stevani Dewi | 8 jam lalu

Transisi Swallow Go Internasional Dikenal …

Tenny Rizka Firsti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: