Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Sis12

Usia sudah setengah abad. Semua orang akan mati, tapi tulisannya tidak. Saya Arsitek “freelance” lulusan selengkapnya

Mengapa Kau Mau Mati di Golgotha?

OPINI | 01 April 2010 | 22:00 Dibaca: 621   Komentar: 6   1

“Yesus kutanya, apa sebabnya Engkau mau mati di Golgotha?” (Sebaris lirik lagu gerejani)

Dari film “Passion of the Christ”

“Mengapa Kau pilih jalan yang begitu susah untuk menunjukkan cintaMu kepada manusia? Bukankah Engkau bisa dengan mudah membenahi semua yang Kau maui? Seharusnya semuanya dalam sekejap akan berubah menjadi serba sempurna. Mengapa malah seperti itu jadinya, mati mengenaskan di Bukit Tengkorak, tempat semua orang jahat dihabisi hidupnya dengan cara yang sangat hina? Mengapa itu pilihanMu?”

Seperti juga kelahiranMu, Yesus, kematianMu juga mengandung unsur ekstrem. Lahir di kandang hewan dan mati sedemikian mengenaskan. Itukah sebuah totalitas? Atau tidak seharusnya aku peduli semua itu? Tidak mungkin juga bagiku. Kalau aku pengikutMu, aku harus tahu sebanyak-banyaknya tentangMu. Itu sebuah proses logis yang harus kulalui, bukan sebuah upaya mau mencucukkan jemari tanganku pada luka di lambungMu dan kemudian baru percaya. Bukankah Engkau juga mematuhi semua proses?

Ya, proses! Engkau tak mau jadi seorang pesulap: Datang, bim salabim lalu beres semuanya! Sempurnalah seluruh isi jagat ini karena keTuhananMu. Kenyataannya? Kau gembleng Musa sampai jatuh bangun ketika memimpin umatnya ke tanah yang Kau janjikan. Kau biarkan Bumi ini jutaan tahun menempuh perjalanan dan tidak kunjung sempurna sampai hari ini. Proses itulah yang memberi arti bagi sebuah kemuliaan sejati. Segala sesuatu yang didapat dengan mudah akan lenyap dengan mudah pula atau tidak meninggalkan bekas yang mendalam bagi jiwa. Jiwa? Itukah tujuanMu? Jiwa atau Roh itu?

Ya, seharusnya aku mengerti persoalan yang mudah dan gamblang ini. Tentang Roh dan Badan. Tentang apa yang ingin Kau selamatkan dalam diri manusia. Sudah jelas bukan keselamatan badan yang Kau tuju dalam semua upayaMu yang total itu. Kau menginginkan keselamatan Rohku, karena ia milikMu, juga milikku yang paling berharga. Roh itulah yang akan menghubungkan Engkau dan aku selamanya, dan itulah jalur kita, jalur yang tidak mungkin kujaga sendiri.

Apa kuasa manusia terhadap Roh? Tak ada, tidak setitikpun juga! Manusia mengusai badannya dan sudah menguasai sebagian serta akan menguasai seluruh materi di alam. Tetapi tidak setitikpun dengan Roh! Manusia bisa membunuh badannya sendiri atau merusak badan milik orang lain, bisa menghancurkan bumi ini atau merengkuhnya dengan segala napsunya, tetapi tidak sedikitpun punya kuasa akan Rohnya. Untuk Roh itulah Engkau menyertai manusia setiap detiknya sampai saat ini.

Aku tak tahu bagaimana awal semua ini. Mengapa aku ada disini dan terkurung dalam badan ini. Hanya sekelumit legenda Adam dan Hawa yang terusir dari Surga, dan aku adalah keturunannya yang kesekian juta. Tapi aku harus tahu diri dan tak perlu cerewet tentang semua ini. Apalah aku ini, setitik debu dalam anginpun tidak. Menyadari bahwa aku sudah ada dan bisa merasakanMu adalah sudah suatu kehormatan tak terkirakan. Aku akan patuhi semua proses yang harus aku lalui dan amat berterima kasih bahwa Kau telah menyediakan demikian banyak sarana di Bumi ini yang kubutuhkan bagi badan dan jiwaku yang terkurung didalamnya.

Urusan lahir dan matiMu yang ekstrem itu hanyalah urusan badan. Dan berurusan dengan manusia secara langsung ya memang harus lewat badan. Manusia mana yang sanggup memandang Roh suciMu kalau tak Kau kehendaki? Tetapi buatMu, apa susahnya memakai badan? Mungkin seperti aku memakai jaket saja. Tetapi badan bukan jaket. Ia malahan punya 1001 keinginan tersendiri, struktur tersendiri yang amat sangat ruwet. Dan manusia sering kewalahan mengurusi badannya sendiri, bahkan banyak waktunya habis tersita disana.

Manusia Kau karuniai akal budi untuk berpikir dan mencari jawab banyak persoalan antara keinginan badan dan keselamatan Roh. Akal budi itulah yang seharusnya bertindak sebagai kusir. Keinginan badan/daging selalu bersifat liar dan cenderung membedal kemana-mana. Keinginan badan seratus persen bisa membawa keutuhan manusia yang punya Roh dan akal budi ke jurang kehancuran. Tetapi manusia juga akan mandek tanpa keinginan badan, ibarat sebuah kereta tanpa kuda. Yang penting adalah Sang kusir yang bijaksana dan menguasai keadaan, sehingga selamatlah seluruh kereta dan penumpangnya ke tempat yang dituju. Setiap hari sudah begitu banyak contoh terjadi di depan mata, tinggal bagaimana manusia harus bersikap. Yesus, para Nabi dan semua orang Kudus tak ada artinya ketika akal budi manusia sudah diperbudak oleh keinginan badan. Tingkah laku buruk dan jahatlah yang akan muncul. Menjadi baik itu memang jauh lebih susah daripada menjadi jahat. Detik ini juga siapapun bisa menjadi jahat tanpa syarat apa-apa atau sebuah proses berkepanjangan, bahkan hanya karena terdorong emosi dan keinginan badan lainnya. Tetapi detik ini juga manusia tak bisa menjadi baik karena itu membutuhkan proses, bahkan proses itu sendiri bisa jadi sangat panjang, melelahkan dan membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil.

Tuhan memberi arah yang sangat sederhana: Kepasrahan total kepadaNya. Logikanya adalah: Kepasrahan total menguatkan cahaya Roh karena Roh adalah milik Tuhan sendiri. Cahaya roh yang terang benderang akan menyinari akal budi, dan akal budi yang menjadi bijak akan menjadi kusir yang baik untuk semua keinginan badan yang cenderung membedal liar. Dengan jalan itulah keselamatan Roh terjaga. Tetapi penjabarannya bisa sepanjang hidup manusia itu sendiri.

Adalah sebuah karunia besar ketika manusia bisa dengan mudah benar-benar pasrah kepada kuasa Allah yang juga berarti adalah mengalahkan dirinya sendiri dan semua keinginannya sendiri. Bagaimana hal itu tidak sulit jika baru sedikit keinginan yang tidak terkabul saja sudah membuat kecewa bukan main, malahan sering Tuhan dianggap budek (tuli) dan sekalian bisu. Kita sudah berteriak-teriak setiap hari, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun, tetap saja Tuhan budek dan bisu. Ketika murid-murid Yesus berteriak-teriak minta tolong sambil ketakutan karena kapalnya mau tenggelam, eh… Yesusnya malahan pura-pura tidur! Apa hal-hal seperti ini tidak sering terjadi? Aku mengalaminya sendiri dalam proses itu, dan disitulah kepasrahan memperoleh ujian. Pernah terasa sedemikian beratnya cobaan itu dan rasanya aku juga berdiri di geladak kapal yang mau tenggelam bersama murid Yesus itu. Mau berteriak? Tidak sejauh itu. Sebagai manusia biasa, merintih kesakitan adalah wajar.

Berkelebatlah bayanganNya yang merintih di kayu salib tapi tidak pernah berpaling dari BapaNya. Penderitaanku ini apalah artinya? Sanggupkah aku menggantikan peranNya tergantung dengan segala luka di kayu salib itu demi kesetiaanNya kepada “grand design” dari BapaNya? Apakah dalam keadaan seperti itu Yesus pernah melolong minta ampun kepada tentara Romawi yang menyiksaNya? Totalitas pengabdianNya hanya tertuju kepada BapaNya, tidak untuk yang lainnya, termasuk tidak untuk keselamatan diriNya sendiri. Totalitas itu, sekali lagi, totalitas itu adalah sampai mati!

Terbayang kembali kata hatiku sendiri: “Apalah artinya kematian bagi Yesus? Apa artinya jika mayat Lazarus yang terbujur kaku itu ternyata bisa dibangkitkan lagi tanpa kurang suatu apa? Jadi ternyata kematian jasmani itu bukan apa-apa, bukan akhir atau kepunahan. Maka kalau Yesus pura-pura tidur melihat semua muridNya yang berteriak-teriak ketakutan terancam bahaya itu karena Dia mengerti benar bahwa mereka mati seribu kalipun Dia bisa menghidupkannya kembali! Oleh sebab itulah Dia menghardik muridNya: “Mengapa kamu berteriak-teriak seperti orang yang tidak percaya! Bukankah ada Aku disini?!!”

Itulah seberkas cahaya iman yang menyadarkanku dan sangat menguatkanku dalam menjalani hidup ini dan belajar darinya. Di dunia ini, mana ada manusia yang tak punya masalah? Dari yang termiskin sampai yang terkaya; dari yang tersuci sampai yang paling brengsek, semua punya masalah. Yesus mewakilinya secara ekstrem dari mulai lahirNya sampai matiNya. Artinya: Dia tahu persis kita semua bermasalah dan Dia solider dengan masalah kita. Dan jika aku tak salah, Yesus mau menegaskan: “Saya sungguh-sungguh peduli dengan kalian semua dan mau mengangkat kalian ke tempat terbaik yang Aku mengerti benar. Jangan takut menderita lahiriah, pikirkanlah keselamatan Roh. Aku sudah memberikan segalanya: Datang langsung, menderita langsung, meninggalkan pesan dan semua petunjuk yang kalian butuhkan, dll-dll, tak ada yang kurang. Sekarang tergantung kalian, menerima uluran tanganKu atau menolakNya. Kalian bebas menentukan, Aku menghargai itu. Salam sampai akhir jaman.”

***************

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Peringatan! Jadi Guru Les Jangan …

Thuluw Muhlis Romdl... | 7 jam lalu

Esensi Talkshow, English Corner, Dari …

Rahmat J | 8 jam lalu

Blusukan Jokowi di Bengkulu: Presiden …

Taufan Libero | 8 jam lalu

Terima Kasihku Untuk Team Admin Kompasiana …

Fey Down | 8 jam lalu

Jurassic World dan Minions: Film Paling …

Nasrul Wathoni | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: