Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mekanisme Terjadinya Berbagai Bencana Alam

OPINI | 21 February 2010 | 04:19 Dibaca: 417   Komentar: 4   1

Sebagaimana yang sering saya sampaikan di beberapa tulisan yang telah lalu, bahwa kodrat jatidiri manusia adalah sebagai kholifah atas dirinya dan kholifah atas bumi alam semesta raya. Sehingga baik atau buruknya bumi alam semesta raya ini bagi kehidupan manusia adalah sangat bergantung dengan kemampuan manusia dalam mengatur dan mengendalikan gerak (energi) rasa, rasio dan raga manusia itu sendiri, karena bagi bumi alam semesta raya ini tidak pernah mengalami kerusakan atau kehancuran bagi diriNya, justru yang terjadi pada bumi alam semesta raya ini selalu memperbaharui dirinya dengan wajah dan penampilan baru Nya.

Sebagai contoh adalah bagaimana bumi di wilayah Serpong, Sidoarjo, Jawa timur memperbaharui dirinya dengan wajah dan penampilan baruNya, dimana sebelum terjadinya luapan lumpur panas Lapindo, wilayah tersebut adalah sebagai tempat permukiman penduduk yang sangat padat, pengap dan panas. Dan saat ini menjadi danau yang indah dan cantik. Juga bagaimana dengan terjadinya tsunami di aceh. Adakah bumi ini mengalami kerusakan atau kehancuran?

Kerusakan, kehancuran atau pun bencana alam yang sangat dahsyat di beberapa wilayah bumi adalah proses bumi dalam mewujudkan wajah dan penampilan baruNya. Jadi bencana alam adalah bagi diri manusia, yang menyebabkan hidup dan kehidupan manusia menjadi menderita, sakit, rusak, hancur dan mati.

Bagaimana mekanisme terjadinya berbagai bencana alam? Bahwa di dalam diri manusia terdapat sistem energi yang sesungguhnya adalah sebagai fasilitas kenikmatan hidup manusia di bumi ini, dimana sistem energi tersebut diciptakan oleh Illahi Tuhan Yang Maha segalanya, sebagai pusat sistem pengaturan dan pengendalian energi bumi alam semesta raya, namun karena manusia telah melupakan kodrat jatidirinya sehingga manusia pun tidak mampu menggunakan sistem energi tersebut, dan tersimpanlah sistem energi tersebut di alam bawah sadarnya. Dimana telah saya sampaikan dalam tulisan (artikel) yang dimuat di beberapa media cetak atau pun elektronik, bahwa manusia telah melupakan kodrat jatidirinya disebabkan oleh merosotnya kualitas jatidiri manusia hingga 93% dibandingkan dengan kualitas jatidiri manusia terdahulu yang bisa exist hidup di bumi ini hingga ribuan tahun. Yang secara otomatis telah melemahkan kualitas RASA, RASIO & RAGA manusia. Sehingga manusia pun tidak mampu menggunakan potensi kekuatan yang ada di dalam dirinya secara optimal 100%, hanya mampu menggunakan potensi energi dirinya tidak lebih dari 7%, padahal potensi kekuatan tersebut teramat sangat luar biasa dahsyat (maha dahsyat).

Karena manusia melupakan kodrat jatidirinya itu sehingga manusia saat ini cenderung didominasi oleh energi negatifnya, baik dalam rasa, rasio maupun raganya. Nah dengan sistem pengaturan dan pengendalian energi diri manusia yang cenderung error sistem, bisa kah manusia mengendalikan energi alam, sedangkan mengendalikan energi diri sendiri saja manusia tidak mampu? Terbukti manusia dilanda berbagai bencana dalam dirinya.

Atas dasar itu, bumi alam semesta raya ini pun membentuk keseimbangan di dalam dirinya dengan mekanisme perombakan atau pembaharuan dalam diri bumi itu sendiri, dan oleh paradigma manusia dianggap sebagai bencana alam, dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah menganggap bahwa bencana itu adalah dari Tuhannya, padahal dari kebodohan manusia itu sendiri, yang tidak mampu mengendalikan energi dalam dirinya, sehingga bencana alam pun semakin membuat manusia semakin terpuruk, semakin berburuk sangka terhadap Tuhannya.

Padahal jika setiap diri manusia mampu mengatur dan mengendalikan energi dirinya, maka pasti gerak alam pun terkendali, dan tidak akan pernah ada bencana alam, karena gerak alam telah diciptakan sempurna, dimana pusat sistem pengaturan dan pengendalian energi bumi alam semesta raya ini diletakkan dalam sistem energi yang ada dalam diri manusia, sehingga jika manusia berada dalam keadaan error sistem energi maka bumi ini akan melakukan pergerakan yang cenderung extrim bagi manusia, berupa berbagai bencana alam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 11 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 11 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: