Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Dilema Seorang (Kakak)…

OPINI | 19 February 2010 | 09:39 Dibaca: 134   Komentar: 9   2

Siang ini, ketika umat muslim berbondong-bondong menuju tempat ibadah untuk menunaikan ibadah shalat jumat saya pun segera bergegas untuk menunaikan ibadah kepada-Nya (bukan karena bentuk latah seorang), karena sebagai makhluk ciptaan-Nya itulah salah satu bentuk kewajiban kita untuk selalu bersyukur pada-Nya (alhamdullilah saya menyadarinya, tetapi mesti kudu harus diingatkan selalu!), meskipun yang saya imani dan yakini masih banyak bentuk-bentuk lain untuk selalu bersyukur pada-Nya (pasti akan banyak teman-teman untuk membagikan contohnya, dibandingkan saya yang masih penuh hina ini (ups, sok merendah!)).

Sebagaimana umat muslim pada umumnya ketika khutbah, saya duduk dengan tenang dan berusaha khusyu (yang saya tahu mendapatkan tingkat kekhusyuan ketika ibadah itu sangat sulit) mendengarkan isi khutbah yang dilontarkan oleh pengkhutbah, ini juga yang diajarkan ketika saya masih kecil dimana guru ngaji saya pernah berkata pada saya ‘jikalau lagi khutbah tidak boleh ngomong atau berisik nanti shalatnya tidak diterima’. Padahal (semakin bertambanya umur) yang menurut saya imani dan yakini sekali lagi, hanya pencipta-Nya yang maha tahu segala-Nya, untuk urusan diterima tidak diterima itu hak prerogratif-Nya. Kita sebagai mahluk ciptaan-Nya mboten ngartos wong kita hanyalah manusia yang selalu melekat sifat kemanusiannya sendiri. Bukannya saya setuju dengan keadaan berisik, apalagi untuk mencapai tingkat kekhusyuan itu diperlukan suasana hening dan sunyi-senyap, terus bagaimana ketika kita naik haji dimana orang kumpul disana berjuta-juta (sepertinya tidak sampai 6,7 triliun gtd!) bagaimana mencapai tingkat kekhusyuan?. Itulah kalo menurut saya Maha sempurna hanya milikNya.

Lalu dengan berusaha khusyu saya mendengarkan suara pengkhutbah meskipun diujung sebelah mana saya tidak tahu, terdengar samar-samar suara anak-anak (namanya juga anak-anak) lalu didalam suara samar-samar (+efek menegangkan) itu ada suara anak yang menangis yang mana semakin lama semakin keras menghampiri kuping/ telinga (mana yang betul yaa menurut EYD?) saya, dengan spontan saya menolehkan pandangan saya untuk melihat si anak kecil tersebut, waduh pelipis anak kecil itu robek dan darah bercucuran pada wajahnya (bukan karena dampak sinetron), ternyata oh ternyata si bapak anak tersebut duduk dekat dengan saya. Sepertinya anak tersebut ditemani seorang kakaknya dan sebagian anak lainnya yang merasa peduli temannya mendapat musibah. Dengan spontannya pula si bapak menampar si kakak (mudah-mudahan benar-benar spontan), bukankah sebagai bapak yang bijak sebelum memberikan hukuman kepada si kakak terlebih dahulu bapak mendengarkan kronologis dan peristiwa yang sebenarnya (komnas perlindungan anak action!), bukankah kita harus mendengar suara saksi (kehakiman action!).

Mengapa bapak dengan mudahnya menyalahkan dan memberikan hukuman dengan menampar si kakak,  padahal belum tentu si kakak 100 persen itu tidak benar (sby banget!) bersalah walaupun sebagai kakak ia harus siap bertanggung jawab menjaga si adik. Lalu dengan spontan lagi, si bapak begitu melihat wajah anak yang makin deras cucuran darahnya langsung membawa pulang mungkin untuk ditindak lanjuti. (terus bagaimana kata guru ngaji!) meskipun yang saya imani dan yakini lagi ini ada bentuk lain untuk mengganti ibadah jumatnya. Sebenarnya hati saya miris melihat kejadian tersebut dan sebenarnya saya harus bersuara (merujuk diatas jikalau ngomong nanti shalatnya tidak diterima) akan tetapi saya tidak bersuara apalagi anak tersebut adalah hak bapaknya sendiri karena ia yang akan bertanggung jawab kepada-Nya. Apakah kita cukup segini aja sebagai manusia padahal bentuk lain pun dapat kita wujudkan kedalam bentuk saling peduli antar mahluk ciptaan-Nya sebagai satu bentuk lain untuk bersyukur pada-Nya, berdasar atas dengan menyebut nama-Nya yang Maha pemurah lagi Maha penyayang sebagaimana yang selalu kita lafadzkan dalam Bismillahirrohmaanirrohiim (lho kok basmalah diakhir, saya juga bingung).

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 11 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 19 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 19 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 19 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: