Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Dedewijaya

Penulis buku PESONA ALKITAB

Misteri Daud dan Goliat

OPINI | 15 February 2010 | 16:22 Dibaca: 875   Komentar: 12   3

Kisah Daud dan Goliat sudah tidak asing lagi bagi kita. Kisah ini kita ketahui sejak dari Sekolah Minggu (Sunday School). Kisah ini merupakan salah satu cerita Alkitab yang paling terkenal. Pada masa itu, orang-orang Yahudi berada di bawah domiansi orang-orang Filistin yang brutal. Pada waktu itu bangsa Filistin mengajak satu orang raksasa sebagai pendekar utama mereka yang perkasa, yaitu Goliat. Pasukan Israel sedang berhadap-hadapan dengan pasukan Filistin. Raja Israel waktu itu, Saul tidak dapat menemukan seorang Israel yang cukup berani untuk melakukan duel satu lawan satu dengan pahlawan raksasa Filistin yang menantang duel untuk menentukan pihak mana yang akan takluk.

Ada beberapa perincian atau kesesuaian dalam Alkitab yang memberikan bukti yang sangat kuat bahwa kisah ini sungguh terjadi. Dari Alkitab kita tahu bahwa Goliat adalah keturunan Raksasa dengan ciri-ciri: tinggi 6 hasta sejengkal (2,82 meter atau hampir mencapai 3 meter). Dia berasal dari Gat. ”Lalu tampillah keluar seorang pendekar dari tentara orang Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal.” (I Sam 17:4). Gat adalah salah satu dari kota-kota tempat kediaman orang-orang Anakim atau Enak yang adalah keturunan raksasa.

Bilangan 13:32 mengisahkan kisah 12 pengintai Israel yang memasuki Kanaan, mereka diliputi ketakutan terhadap keturunan raksasa yang hidup di tanah Kanaan. Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.”

Bagian lain yaitu kitab Yosua memberitahukan pada kita bahwa Gat merupakan tempat kediaman orang-orang Anakim atau Enak yang berasal dari keturunan raksasa. ”Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan, dari Hebron, Debir dan Anab, dari seluruh pegunungan Yehuda dan dari seluruh pegunungan Israel. Mereka dan kota-kota mereka ditumpas oleh Yosua. Tidak ada lagi orang Enak ditinggalkan hidup di negeri orang Israel; hanya di Gaza, di Gat dan di Asdod masih ada yang tertinggal” (Yosua 11:21-22). Jadi hanya ada 3 kota di Israel yang didiami sisa-sisa keturunan para raksasa yang masih hidup yang tidak ditumpas.

Kesesuaian yang menunjukkan bahwa 400 tahun setelah Kanaan ditaklukkan, Goliat tinggal di Gat (satu dari 3 kota yang ditempati keturunan para raksasa), merupakan suatu peneguhan menakjubkan yang membuktikan kebenaran dan kejujuran catatan Alkitab mengenai Daud dan Goliat. Dalam kesesuaian ini kita menemukan bahwa 3 kitab yang berbeda dari Alkitab yaitu Bilangan, Yosua dan Samuel meneguhkan ketepatan dari salah satu unsur di dalam kisah alkitab yang terkenal ini.

Satu keistimewaan lain dari kisah Daud dan Goliat yaitu mengapa Daud mengambil ”lima batu yang licin” bagi umbannya jika ia sudah tahu bahwa Allah akan mengarahkan umbannya sehingga ia pasti dapat membunuh raksasa Filistin itu dengan menggunakan satu batu saja? Apakah Daud tidak mempunyai cukup iman dalam mengandalkan kuasa supranatural Allah yang mampu melakukan mujizat dan membinasakan musuh besar bangsa Israel itu?

Jika kita baca I Samuel 17:45-47 tentu kita tahu bahwa Daud beriman Goliat pasti kalah. Tetapi Daud menjawab, “Engkau datang melawanku dengan pedang, tombak dan lembing, tetapi aku datang melawanmu dengan nama TUHAN Yang Mahakuasa, Allah tentara Israel yang kauhina itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau kepadaku; engkau akan kukalahkan dan kepalamu akan kupenggal. Tubuhmu dan tubuh prajurit-prajurit Filistin akan kuberikan kepada burung dan binatang supaya dimakan. Maka seluruh dunia akan tahu bahwa kami bangsa Israel mempunyai Allah yang kami sembah, dan semua orang di sini akan melihat bahwa TUHAN tidak memerlukan pedang atau tombak untuk menyelamatkan umat-Nya. Dialah yang menentukan jalan peperangan ini dan Dia akan menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Namun hal ini dapat kita mengerti dalam Alkitab ketika kita membaca II Samuel 21:22, Nabi Samuel menulis ”Keempat orang yang dibunuh oleh Daud dan pasukannya itu, adalah keturunan raksasa di Gat.” Dari ayat ini kita tahu ternyata Goliat bukan satu-satunya raksasa dalam keluarganya. Ayah Goliat adalah raksasa yang mempunyai 5 putra yang semuanya berjuang membela bangsa Filistin. Keempat saudara laki-laki Goliat juga merupakan raksasa-raksasa yang pada akhirnya mati dalam duel dengan pahlawan-pahlawan Daud yang gagah perkasa. Jadi ketika Daud mengambil 5 batu licin bagi umbannya, ia bersikap bijak, yakni bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan bahwa keempat saudara laki-laki Goliat bisa ikut serta dalam pertempuran tersebut setelah Goliat dibunuhnya. Sehingga ia membutuhkan keempat batu lainnya untuk mengalahkan keempat raksasa itu. Namun jelas pada akhirnya keempat raksasa selain Goliat dibunuh oleh pahlawan-pahlawan Daud.

Kita melihat iman Daud yang mengandalkan Allah dengan melakukan bagian yang seharusnya dia lakukan dan mempersilahkan Allah melakukan bagian-Nya. Ajaib bukan?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 9 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 10 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 11 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 12 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: